Bangunan Khas Karo Layak Dibangun Kembali di Kota Medan

Bangunan Khas Karo Layak Dibangun Kembali di Kota Medan
Sipayo.com – Acara Karo Festival 2015 yang berlangsung selama tiga hari secara berturut-turut di Lapangan Merdeka Medan telah usai digelar dengan sukses. Puluhan ribu masyarakat Karo dari berbagai penjuru Sumatera Utara tumpah ruah hadir dalam malam puncak Karo Festival yang berlangsung, Sabtu (29/08/2015) malam.
Pada malam puncak Karo Festival 2015, juga tampak dihadiri oleh Menteri Hukum dan HAM Yassona Louly, DPD RI Parlindungan Purba, Pelaksana Tugas (Plt) Gubsu Tengku Erry Nuradi, Bupati Karo Terkelin Brahmana, Tokoh Masyarakat Medan Dzulmi Eldin dan seluruh tokoh masyarakat Karo.
Meski telah dua hari berlalu, namun hingga kini keberadaan Karo Festival 2015 masih hangat dibicarakan oleh masyarakat Karo di media sosial. Secara umum, masyarakat Karo sangat mengapresiasi kegiatan tersebut, sekaligus mereka berharap agar kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara rutin dari tahun ke tahun di Kota Medan.
Tidak berbeda dengan mayoritas masyarakat Karo yang sangat mengapresiasi Karo Festival 2015, begitupa halnya dengan Sekjen Majelis Permusyawaratan Rakyat Karo (MPRK) Roy Fachrabi Ginting, bahkan pria yang identik dengan pecinya ini menyebut Karo Festival sebagai gong penanda kebangkitan Suku Karo di Sumatera Utara.
“Menurut catatan saya, Karo sudah tertidur cukup lama, 109 tahun sejak gebrakan yang telah dibuat pendahulunya dengan mendirikan rumah perawatan bagi penderita kusta di Lau Simomo,” ujar Roy seperti dikutip dari medanbagus.com.
Ketika lebih lanjut dihubung Sipayo.com melalui pesan elektronik, Roy mengatakan bahwa Karo Festival 2015 sekaligus sebagai momen meminta pemerintah menggali kembali warisan budaya Karo yang sudah musnah di Kota Medan, seperti Geriten di Lapangan Merdeka Medan, dan Gedung Pancasila yang pernah berdiri di Lingkungan Universitas Sumatera Utara (USU).
“Plt Gubsu dalam sambutannya di Karo Festival, 29 Agustus Kemarin kan sudah mengatakan bahwa budaya lokal harus mampu menjalankan fungsinya sebagai katalisator dalam menangkal derasnya pengaruh budaya asing yang ingin menghancurkan jati diri kita. Agar sejalan dengan pidato Plt Gubsu, maka sepatutnyalah kita sebagai masyarakat Karo menuntut pelestarian kembali budaya kita di Kota ini,” ujarnya.
Roy mengatakan, Geriten sebagai bangunan khas Suku Karo pernah berdiri di Lapangan Merdeka di tahun 1948, begitupula Gedung Pancasila merupakan bangunan mirip rumah adat Karo pernah berdiri di USU tahun 1970-an, tapi kini keberadaan kedua situs Karo di Kota Medan tersebut telah musnah tak berbekas.
“Baik Geriten dan Gedung Pancasila perlu kembali dibangun di Kota Medan, selain itu kita juga mendesak pemerintah agar pintu gerbang masuk ke Medan dibuat tulisan ‘Selamat Datang Ke Medan, Mejuah-juah!’,” tegas Roy.