Cerpen: Kami Beda tapi Tetap Satu

Cerpen: Kami Beda tapi Tetap Satu
Oleh: Haravikana Ansita Kaban 
Suatu siang ketika pulang dari kampus aku melihat tiga orang pengamen jalanan yang berjuang untuk mengais rupiah demi rupiah. Mereka seakan tak pernah kenal lelah karena yang mereka tahu hanyalah berjuang keras agar mereka tetap dapat bersekolah.

Saat lampu merah menyala, aku pun memberhentikan sejenak sepeda motorku dan saat itu juga mereka langsung menghampiriku. Mereka langsung bernyanyi sambil menyodorkan bungkus permen yang mereka gunakan sebagai tempat uang yang akan mereka dapat saat mengamen.

Saat mereka dengan seriusnya bernyanyi, tak terasa saat itu juga mataku langsung berkaca-kaca membayangkan betapa besar perjuangan mereka. Tanpa sadar aku larut dalam lamunanku hingga akhirnya lamunan itu diakhiri oleh suara klakson kendaraan yang dibelakangku, sehingga aku baru tersadar kalau ternyata lampu hijau telah menyala.

Akhirnya aku memajukan sedikit sepeda motorku dan memarkirnya ke tepi jalan. Namun aku bingung, dimana ketiga pengamen itu dan mengapa mereka pergi begitu saja, padahal aku kan belum memberi mereka duit sepeser pun. Tanpa menunggu lama aku pun mencoba mencari kemana mereka pergi. Dan aku akhirnya melihat, ternyata mereka duduk di tepi jalan sembari menunggu lampu merah kembali menyala.

Aku menghampiri mereka dan mencoba untuk berbincang-bincang dengannya. Aku bertanya mengapa mereka harus mengamen? Padahal kan mereka mempunyai keluarga? Mereka pun menjawabku dengan wajah tertunduk. Mereka berkata bahwa untuk bersekolah mereka harus berjuang karena keadaan ekonomi keluarga yang sangat minim.

Aku pun kembali bertanya bagaimana mereka dapat bersekolah, jika mereka pun harus bekerja mencari uang? Mereka menjawab bahwa waktu sekolah mulai 7.00 pagi sampai pukul 12 siang. Pukul 12-18 mereka mengamen dan bahkan kadang harus tak makan karena uang yang didapat tidak mencukupi.

Aku seakan tak percaya mendengar semua jawaban mereka. Aku juga sempat meneteskan air mata karena aku sadar aku tak pernah merasakan yang namanya hidup susah. Aku terlahir dari keluarga yang berkecukupan dan bila perlu sesuatu aku tinggal meminta.

***

Setelah berbincang dengan mereka aku kemudian mengambil tiga lembar uang 50 Ribu dari dompet dan bermaksud memberikannya kepada mereka. Namun aku kaget, sebab mereka menolak dan berkata bahwa mereka tidak butuh dikasihani dan mereka ingin mendapat hasil dari kerja keras. Aku membujuk mereka agar menerima pemberianku karena aku tulus. Akhirnya Mereka mau menerimanya juga dengan wajah yang ceria.

Kulirik jam tanganku, tanpa terasa ternyata jam telah menunjukkan pukul 17 dan aku harus segera kembali ke rumah. Aku pun pamit kepada mereka dan berjanji bahwa besok aku akan menemui mereka kembali dan mencoba menemani mereka mengamen. Mereka memelukku dengan erat seakan tak percaya bahwa aku mau berteman dengan mereka.

***

Hari ini kebetulan aku tidak masuk kampus, jadi aku segera menemui mereka di tempat biasa ngamen. Aku menemani mereka bekerja dan sesekali aku beristirahat karena baru pertama kalinya aku merasakan teriknya di bawah matahari. Saat aku mengamen salah satu teman kampusku melihat dan menghampiriku. Dia heran kenapa aku mau membantu anak jalanan?

Mereka juga bertanya apakah aku tidak malu bergaul dengan mereka? Dengan wajah tersenyum aku menjawab, bahwa aku tidak pernah malu bergaul dengan mereka. Dari mereka aku belajar tentang berjuang, aku belajar arti hidup yang sesungguhnya dan aku juga belajar bahwa untuk mendapatkan sesuatu aku harus berjuang sendiri bukan meminta kepada orangtuaku

“Berbeda bukan berarti harus terpisah. Namun,perbedaan itulah yg akan membuat kita menjadi satu,” ujarku. Temanku pun terkejut dengan jawabanku dan akhirnya dia pun memutuskan untuk ikut membantu pengamen itu untuk mencari uang.

***

Pengamen itu bahagia sekali ketika aku dan temanku membantu mereka. Karena Hasil ngamen hari ini cukup banyak, kami memutuskan untuk makan ber 5 di pinggir jalan. Selesai makan aku dan temanku pulang dan seperti kemarin aku memberikan mereka uang tambahan.

Di perjalanan aku mengusulkan kepada temanku bagaimana kalau besok kami menggalang dana dari seluruh anak kampus untuk membantu pengamen itu supaya dia dapat kembali bersekolah, sebab meskipun kehidupan kami berbeda dengan mereka, tapi kami adalah sama-sama anak yang masih butuh pendidikan dan kelayakan hidup. Temanku setuju dengan usulku dan dia juga menyumbangkan uang sebesar 500 ribu.

***

Sesampainya di rumah aku mencoba meminta bantuan kepada orangtuaku. Dan akhirnya mereka juga mau membantuku dengan memberikan uang sebesar 50 juta untuk membantu keluarga pengamen itu sekaligus membantu biaya sekolahnya. Aku bahagia mendengar hal itu dan orangtuaku juga berkata biarpun kehidupanku dan pengamen itu berbeda, tapi kami masih sama-sama membutuhkan pendidikan dan kehidupan yang layak.

Aku segera pergi ke kamar dan tidak sabar menunggu hari esok tiba. Aku berharap rencana besok berjalan dengan lancar.

Hari ini aku pun segera menuju kampus dengan semangat yang luar biasa. Sesampai kampus aku dan temanku mengadakan penggalangan dana untuk pengamen itu. Semua kawan kampus dan dosen ku menyumbang dengan sangat ikhlas dan mendukung niat baik kami.

Tidak hanya di kampus, kami juga mencari dana tambahan di lampu merah dengan menjual kaos yang kami desain sendiri dengan bertuliskan “Beda tetapi tetap satu”. Semua kawan kampus ku juga turut serta ikut membantu kami.

***

Karena hari telah malam kami pun makan di pinggir jalan dan menghitung hasil yang telah kami kumpulkan. Betapa bahagianya kami ketika dana yang terkumpul cukup banyak dan semua niat kami terlaksana dengan baik.

Ke esokan harinya kami menemui pengamen itu di tempat biasa dia magang dan memintanya untuk membawa kami ke tempat ia tinggal. Betapa mirisnya hati kami saat melihat keadaan rumahnya yang beratap dan berdingdingkan kardus bekas.

Tanpa menunggu lama kami segera menemui orangtuanya dan menceritakan betapa bangganya kami melihat pengorban anaknya yang rela bekerja keras demi untuk sekolah. Kami pun segera memberikan dana yang telah kami kumpulkan kepada ibu pengamen itu.

Betapa terkejut dan bahagianya orangtua pengamen tersebut ketika mengetahui bahwa masih ada orang yg peduli kepada kehidupan mereka. Dia meneteskan air mata dan memelukku. Aku berkata kepadanya bahwa dengan dana tersebut anaknya tidak perlu lagi mengamen untuk dapat bersekolah dan mereka juga dapat membeli kebutuhan hidup sehari-hari.

***

Setelah kami membantunya, mereka tidak pernah lagi mengamen dan kebutuhan hidup mereka juga terpenuhi. Dan sekarang mereka hidup dengan layak dan mendapatkan pendidikan.

Pesan: Perbedaan itu bukan menjadi penghalang untuk kita dapat bergaul dengan orang lain. Bahkan kadang dari perbedaan kita menjadi satu dengan orang lain. Meskipun kehidupan kita jauh lebih baik dari mereka, namun kita tetap sama-sama makhluk yang saling membutuhkan.