Cerpen: Pentingnya Ertutur

Cerpen: Pentingnya Ertutur

Oleh: Haravikana Ansita Kaban

“Ita kamu dimana? Cepat sedikit nak, nanti kamu bisa telat pergi ke sekolah,” terdengar suara panggilan mama dari arah dapur.

“Iya ma, ini udah selesai kok, lagian kan ga perlu buru-buru banget,” sahut Ita.

Ita adalah anak tunggal dari pasangan suami istri Aris Ketaren dan Tika Br Bangun. Meskipun demikian Ita tidak pernah kenal yang namanya hidup manja, sebab dia tahu bahwa untuk menuju sebuah kesuksesan bukan manja yang dibutuhkan. Orangtua Ita berasal dari Kabanjahe. Namun Ita lahir di Jakarta karena setelah menikah kedua orangtuanya menetap disana.

Saat ini Ita sekolah di SMAN 1 Jakarta dan duduk di bangku kelas tiga. Meskipun Ita keturun Suku Karo, namun dia tidak paham sedikitpun tentang kebudayaan Karo. Bahkan untuk berbicara satu kalimatpun dalam bahasa Karo dia tidak paham karena kedua orangtuanya sendiri tak pernah mengenalkan kebudayaan Karo kepadanya.

***

Bulan ini merupan bulan terakhir untuk Ita menjalani sekolah, sebentar lagi Ita akan menghadapi UN dan akan menyelesaikan pendidikan SMA-nya. Di sekolah Ita merupakan anak yang berprestasi, jadi dalam menghadapi UN bukanlah hal yang sulit baginya, akan tetapi dia tetap rendah hati dan selalu belajar tekun dan mempersiapkan diri dengan baik untuk UN.

***

Satu minggu berlalu, akhirnya UN telah selesai dan kini Ita mencari Universitas yang akan ia masuki untuk pendidikan yang lebih tinggi. Pada saat akan melihat kelulusan, salah seorang gurunya menyarankan Ita untuk ikut tes online yang diadakan oleh sebuah universitas terkemuka di Australia.

Tanpa berfikir panjang, Ita pun langsung menjajal saran gurunya. Ternyata ia lolos dan mendapat beasiswa disana. Ita sangat bangga dan memberitahu hal tersebut kepada kedua orangtuanya.

Pada awalnya kedua orangtuanya tidak setuju kalau Ita pergi ke Australia. Namun karena pendidikan yang harus Ita tempuh, akhirnya mereka harus merelakan anaknya pergi untuk beberapa waktu.

***

Hari ini merupakan hari keberangkatan Ita ke Australia. Orangtuanya mengantarkan Ita ke bandara dan memberangkatkan Ita dengan doa dan tangisan bahagia. Pukul tiga sore Ita telah sampai di Australia dan segera merapikan tempat kos dan barang-barang yang ia bawa dari Jakarta. Karena ia tahu, bahwa besok tidak akan ada lagi waktu untuk beres-beres, sebab besok adalah hari pertamanya untuk kuliah.

Mentari pun terbit menandakan siap untuk beraktifitas. Ita bangun dengan cepat dan segera memasak sarapan paginya. Pukul delapan ia pergi ke kampus dengan berjalan kaki karena jarak kos dengan kampus yang tidak terlalu jauh.

Di gerbang kampus tiba-tiba Ita disenggol oleh seorang pria yang juga kuliah disana. Tanpa berfikir lama pria itu langsung meminta maaf kepada Ita, serta Ita pun memaafkannya.

***

Beberapa hari berlalu, akhirnya antara Ita dan pria tersebut menjadi sangat akrab dan bahkan sekarang menjalin hubungan. Pria itu bernama Dika Sinuhaji yang berasal dari Jakarta dan sama seperti Ita yang merupakan keturunan Karo.

Disisi lain, mereka berdua ternyata tidak pernah tahu bahwa merga Ketaren dan Sinuhaji adalah dua merga yang sama, yakni merga Karo Karo dan tidak boleh menjalin hubungan. Namun karena keduanya yang tidak paham akan budaya Karo akhirnya mereka putuskan untuk tetap menjalin hubungan tersebut.

***

Lima Tahun lamanya mereka kuliah di Australia, dan hari ini keduanya akan wisuda meski tanpa kehadiran orangtua masing-masing karena jarak yang begitu jauh. Meskipun demikian, kedunya tidak putus asa. Karena yang terpenting mereka telah menyelesaikan kuliah dan telah membuat orangtua mereka bahagia.

Sehari setelah hari wisuda, keduanya memutuskan kembali ke Jakarta dan ingin memberitahukan hubungan mereka kepada orangtua masing-masing.

***

Sesampainya di Bandara, mereka pulang ke rumah masing-masing dan Dika berjanji bahwa besok ia akan memperkenalkan Ita kepada orangtuanya, begitupun sebaliknya dengan Ita.

Jam delapan pagi Dika menjemput Ita ke tempat yang telah mereka janjikan sebelumnya dan segera membawa Ita ke rumahnya. Dan akhirnya Dika memperkenalkan Ita kepada orangtuanya sekaligus meminta restu untuk hubungan mereka.

Namun apa yang terjadi? Orangtua Dika melarang mereka untuk berhubungan karena mereka itu erturang (saudari semarga). Orang tua Dika juga menjelaskan bahwa antara marga Ketaren dan Sinuhaji itu adalah sama-sama merga Karo Karo. Jadi sudah pasti mereka tidak akan pernah bisa bersatu dalam sebuah ikatan pernikahan.

Betapa kaget keduanya mendengar hal tersebut. Air mata pun keluar dari pipi Ita sebab ia tidak menyangka semua ini akan terjadi. Karena tidak begitu percaya akan omongan orangtua Dika, akhirnya keduanya pergi ke rumah Ita untuk kembali meminta restu. Tetapi orangtua Ita juga mengatakan hal yang sama kepada keduanya.

Orangtua mereka juga meminta maaf karena tidak pernah memperkenalkan budaya Karo kepada mereka. Akhirnya hubungan yang telah mereka jalani dalam waktu yang lama itu harus kandas karena mereka itu erturang.

Pesan: Dari cerita diatas kita tentu sudah tau arti penting ertutur (perkenalan dalam budaya Karo)? Mulai sekarang mari kita budayakan ertutur meskipun dari hal yang kecil agar hal yang sama tidak kita alami.