Harga Batu Akik Turun Drastis

Harga Batu Akik Turun Drastis
Sipayo.com – Seluruh masyarakat Indonesia tentu sudah tidak asing lagi dengan batu akik. Dalam kurun dua tahun terakhir, batu akik memang sempat menjadi buruan di seluruh Indonesia. Para kolektor sempat mencari berbagai jenis batu akik dan membelinya hingga harga puluhan juta.
Beberapa jenis batu akik yang harganya dibanderol hingga puluhan juta, sebut saja seperti bacan, sapir, opal, dan lain-lain. Keberadaan cincin akik tersebut menjadi trend yang sangat digandrungi dan digilai luar biasa oleh berbagai kalangan masyarakat Indonesia.
Di mana-mana orang sempat gila batu akik. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan mengecek setiap titik keramaian, maka disana pasti akan ditemui penjual akik. Mulai dari yang jual bongkahan batu hingga yang akik sudah dipoles sedemikian rupa, sehingga keberadaanya sangat indah untuk dilihat.
Terkadang kerumunan para penggila akik tersebut telah membuat jalanan menjadi macet. Salah satunya bisa dilihat di kawasan ibukota, tepatnya di Rawa Bening, Jakarta Timur yang dikenal sebagai pusat penjualan batu akik.
Saat akik masih trend di kalangan masyarakat, keberadaanya sempat menjadi perbincangan hangat di media sosial hingga ke forum-forum internet. Bahkan dari perbincangan itu, tak jarang ada juga yang membuat prediksi bahwa harga batu akik suatu waktu pasti akan menurun, dimana pada saat keberadaan batu-batu tersebut sudah tidak lagi digandrungi.
Diantara yang memperbincangkannya, ada juga sebagian orang yang memperbandingkan nasib akik yang akan sama seperti nasib tanaman gelombang cinta dan ikan louhan. Pada masa jayanya, harga tanaman gelombang cinta dan ikan louhan bisa berharga hingga jutaan rupiah.
Sering perjalanan waktu, ketika semakin banyak orang ikut ‘bermain’ gelombang cinta dan ikan louhan, nasibnya kemudian terpuruk. Tak lagi menjadi primadona, dan nasib gelombang cinta dan ikan louhan menjadi biasa-biasa saja. Begitupula prediksi sebagian orang ketika itu, bahwa keberadaan batu akik juga akan mengalami hal yang sama.
Kini prediksi bakal turunnya harga batu akik seperti yang diperkirakan sebagian orang tampaknya telah menjadi kenyataan. Turunnya harga akik tersebut sesuai dengan yang diberitakan Kompas.com, Jumat (07/08/2015). Dari pemberitaan Kompas berjudul “Ketika Batu Akik Turun Harga” tersebut menyoroti keberadaan Pasar Grosir Batu Akik Nusantara di kawasan Rawa Bening, Jatinegara, Jakarta.
Pasar ini memang sudah sangat terkenal sebagai sentralnya batu akik dari seluruh tanah air. Pasar yang berdekatan dengan Jakarta Gems Center ini bisa menjadi lokasi pilihan bagi pemburu akik yang ingin membeli secara grosir, baik per bongkahan atau per kilogram.
Salah satu pedagang batu akik bernama Aput di pasar yang berdekatan dengan Jakarta Gems Center tersebut mengakui bahwa akhir-akhir ini harga batu akik memang telah mengalami penurunan.
“Kalo ditanya mengenai tren harga, ya sejak pertengahan bulan puasa harganya mulai turun. Contoh aja, batu pancarwarna kualitas super, dulu harganya bisa Rp 10 juta per kilogram, sekarang turun jadi Rp 3 juta per kilogramnya,” kata Aput.
Aput berpendapat, turunnya harga disebabkan penggemar batu akik mulai pilih-pilih dalam membeli. Tidak semua jenis batu akik dibeli.
“Gak kayak awal-awal masyarakat latah, gak pake mikir belinya. Dulu awal-awal populer saya bisa dapat Rp 12 juta dari menjual akik. Sekarang mereka mulai pikir dan pilah-pilah jenis batu,” kata Aput lagi.
Pasar batu akik di Rawa Bening menjadi kawasan yang kerap didatangi pemburu batu akik karena di pasar ini hampir seluruh batu di Nusantara ada. Sebut saja bacan dari Maluku, giok Aceh, red borneo dari Kalimantan, labrador Papua, hingga Pancawarna Edong dari Garut.
Lengkapnya jenis batu menyebabkan Rawa Bening masih “diserbu” masyarakat. Bahkan, selain menjual akik, pedagang juga menjual berbagai aksesori, seperti cincin dan alat untuk mengilapkan batu.
Kondisi ini membuat pedagang optimistis batu akik tidak akan bernasib seperti ikan louhan dan tanaman gelombang cinta yang kepopulerannya sesaat dan kini tenggelam. “Saya sudah menggemari akik sejak 1988, dan batu akik masih bertahan sampai sekarang”, tutup Aput.