Cerpen: Semua Karena Iman

Cerpen: Semua Karena Iman
Oleh: Haravikana Ansita Kaban
Rara merupakan anak tunggal di keluarganya, kedua orangtuanya merupakan orang yang berada. Mereka tinggal di Berastagi, sedangkan Rara saat ini kuliah jurusan hukum di USU. Meskipun keluarga ini cukup berada, tapi mereka tidak sombong dan tetap rendah hati. Oleh sebab itu, banyak yang menyukai mereka, bahkan mereka juga sering mengunjungi warga Karo yang saat ini mengalami musibah erupsi Sinabung. selain mengunjungi, mereka juga senantiasa memberi santunan berupa pakaian, hingga bantuang uang tunai.

Di kampus, Rara juga termasuk anak yang mudah akrab dengan kawannya dan mahasiswi yang paling favorit. Selain itu, ia juga ikut dalam organisasi yang diadakan oleh-oleh pemuda/i Karo yang berada di Medan. Karena itulah banyak yang menyukai Rara. Namun untuk saat ini, ia tidak ingin memikirkan urusan asmara karena baginya pendidikan merupakan hal yang utama.

Meskipun Rara tidak pernah terlalu peduli akan laki-laki yang menyukainya, akan tetapi banyak diantara lelaki tersebut yang tetap saja berusaha untuk mendapatkan hati Rara.

Tahun ini merupakan semester terakhir Rara, setelah itu ia akan menghadapi meja hijau, bila tak ada alar melintang, ia akan segera diwisuda. Oleh karena itu, saat ini Rara sedang sibuk-sibuknya menyusun skripsi.

Hari ini Rara tidak masuk kampus karena merupakan hari libur. Ia memutuskan untuk pulang ke Berastagi karena Ia rindu kedua orangtua. Berhubung karena teman-temannya juga banyak yang pulang ke Berastagi, jadi akhirnya mereka pulang bersama dengan mengendarai sepedan motor. Mereka sepakat untuk berangkat Jam 6 Sore agar siangnya masih dapat menghabiskan waktu di Medan. Mereka pergi belanja oleh-oleh bersama ke Citra Garden dan jalan-jalan keliling Kota Medan sembari menunggu sore tiba.

Akhirnya waktu yang ditunggu pun tiba, mereka berangkat secara berboncengan untuk pulang ke Berastagi. 1,5 Jam telah mereka lewati dan ketika hendak sampai di Berastagi, mereka kaget karena ternyata Gunung Sinabung kembali mengeluarkan debu vulkanik yang sangat deras. Selain itu hujan pun turun dengan deras, hal itulah yang menyebabkan jalan menjadi sulit dilalui, becek dan sangat licin. Namun meskipun demikian, mereka tetap melanjutkan perjalanan dan berupaya sedikit mempercepat laju kendaraan.

Tiba-tiba teman-temannya kaget karena mendengar suara kecelakaan, dan ternyata Rara kecelakaan. Rara terhampas ke jurang yang berada di tepi jalan dan teman yang ia bonceng terhampas ke tepi jalan.

Teman-temannya langsung segera mengangkat Rara yang tampak tengah tak adarkan diri dari dalam jurang dan segera membersihkan kubangan debu vulkani yang telah melekat di tubuh Rara, sementara itu, teman yang dibonceng Rara ternyata tidak kenapa-kenapa.

Kebetulan saat itu melintas sebuah mobil pribadi yang juga ingin ke Berastagi, akhirnya Rara diantar ke Rumah Sakit menggunakan mobil tersebut, sementara teman-temannyanya mengikuti dari belakang.

Sesampainya di Rumah Sakit, Rara segera ditangani oleh Dokter dan disuntik dengan obat pembunuh racun, sebab ketika kecelakaan banyak lahar yang masuk kedalam mulut Rara.

Teman-teman Rara segera memberitahu kedua Orangtuanya agar segera datang ke Rumah Sakit di Berastagi. Orangtuanya tentu sangat kaget mendengar hal itu, dan langsung buru-buru segera bergegas menuju Rumah Sakit.

Ketika sampai di Rumah Sakit, teman-temannya menceritakan apa yang terjadi dan meminta maaf karena tidak menjaga Rara dengan baik.

“Bik, kami minta maaf karena ga bisa jagain Rara, terus kami juga ga berhenti pas debu vulkanik tengah turun, ini semua salah kami Bik, andai kami tadi berhenti sejenak mungkin ga kan gini jadinya,” ujar salah satu teman Rara berkata, sambil meminta maaf.

“Tidak apa-apa nak ku, kita tidak tahu kehendak Tuhan. Ini bukan salah kalian, yang penting sekarang kita harus berdoa dan percaya bahwa Tuhan pasti sanggup menolong Rara,” ujar orangtua Rara menjawab.

Tiga jam lamanya Rara ditangani oleh dokter dan saat Dokter keluar dari ruangan, orangtuanya segera menanyakan bagaimana keadaan Rara. Dokter menjelaskan bahwa debu vulkanik yang masuk ke dalam mulut Rara menyebabkannya keracunan dan harus dirawat di ruang ICU, kemungkinan Rara juga tidak dapat ditolong.

Mendengar hal itu, orangtuanya semakin shouck dan mereka hanya dapat berdoa dan menangis. Mereka berharap putri tunggalnya dapat segera sadar dan sembuh kembali.
Di samping itu teman-teman Rara juga turut mengadakan doa bersama di rumah sakit. Mereka berharap Rara segera pulih dan bisa kembali kuliah untuk persiapan wisuda mereka.

***

Seminggu lamanya Rara dirawat di ruang ICU dalam keadaan koma, dan dalam seminggu itu pula orangtua dan teman-temannya hanya dapat berdoa dan menyanyikan lagu-lagu Rohani kepada Rara.

Ternyata luar biasa, tepat pada hari Minggu pagi, Rara sadar dari komanya, semua yang ada di ruangan itu sangat bahagia melihat mujizat yang terjadi. Padahal sebelumnya mereka telah menduga bahwa Rara tidak akan terselamatkan karena mendengar penjelasan dari Dokter. Namun berkat doa dan keteguhan iman orangtuanya, Rara sembuh kembali.

Ketika Rara sadar, ia langsung memeluk orangtuanya dan juga meminta maaf karena ia bersama teman-temannya tak berhenti saat debu vulkanik turun dan terus mengendarai sepeda motor dengan kecepatan tinggi.

Kedua orangtuannya memegang erat tangan Rara dan berkata, “Nakku, kam sudah sadar dari koma aja sudah buat hati Mamak dan Bapak senang. Yang sudah lewat ga perlu di ingat lagi. Mungkin Tuhan punya rencana yang lebih indah dari musibah yang kam alami ini. Tetap percaya dan teguhkan iman agar kam tidak akan mengalami musibah yang serupa untuk kedua kalinya,” ujar mereka secara bersamaan. Air mata Rara menetes dan ia hanya dapat memeluk orangtuanya.

Berhubung Rara sudah pulih, ia juga sekaligus diperbolehkan pulang oleh dokter. Mereka pulang ke rumah, keesokan harinya Rara dan teman-temannya kembali pulang ke Medan untuk Kuliah. Meski hati orangtuanya belum merelakan putrinya pulang ke Medan, namun mereka juga percaya bahwa Tuhan akan selalu ada bagi Rara dan teman-temannya.

***

Ini merupakan awal di bulan Oktober dan merupakan bulan di mana Rara akan diwisuda, begitu pula dengan teman-temannya. Mereka sangat bahagia karena mereka menyelesaikan skripsi dan mampu melewati meja hijau. Rara dan teman-temannya diwisuda pada tanggal 25 Oktober di Medan. Kedua orangtua Rara bangga melihat keberhasilan anaknya dan mereka juga bersyukur atas mujizat yang Tuhan berikan.

Pesan: Seberat apapun cobaan yang datang menghampirimu, tetaplah berdoa dan teguhkan iman mu, sebab sekuat apapun dan sehebat apapun kamu, bila itu semua tidak dibarengi oleh doa dan iman semuanya akan sia-sia. Percayalah mujizat masih ada…