IMKA Erkaliaga FH USU Kunjungi Makam Guru Patimpus Sembiring Pelawi

IMKA Erkaliaga FH USU Kunjungi Makam Guru Patimpus Sembiring Pelawi
Sipayo.com – Ikatan Mahasiswa Karo (IMKA) Erkaliaga FH Universitas Sumatera Utara (USU) melakukan ziarah ke makam Guru Patimpus Sembiring Pelawi di Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deliserdang, Minggu (08/11/2015).

“Hal ini kami lakukan untuk menghargai leluhur terdahulu yang dikenal sebagai pendiri Kota Medan sekitar tahun 1590,” ujar Ketua Acara Gendang Guro-guro Aron IMKA Erkaliaga FH USU 2015, Joyiessandi Karo Sekali kepada Sipayo.com.

Lebih lanjut Joyiessandi mengatakan, Guru Patimpus membuka dan mendirikan sebuah kampung di pertemuan Sungai Deli dan Sungai Babura, dimana di kampung tersebut dulunya banyak orang sakit yang disembuhkan oleh Guru Patimpus, sehingga dikemudian hari nama kampung tersebut dikenal dengan Madan.

“Nama kampung yang didirikan Guru Patimpus kemudian disebut Madan yang artinya sembuh dan baik dalam bahasa Karo. Kampung Madan inilah yang menjadi cikal bakal Kota Medan yang kita kenal saat ini,” ujarnya.

Zirah ke makam Guru Patimpus yang dilakukan oleh IMKA Erkaliaga FH USU ini menurut Joyiessandi adalah dalam rangka menyambut acara Gendang Guro-guro Aron yang akan dilaksanakan di Wisma Halilintar, Jln. Djamin ginting pada, Sabtu (28/11/2015) mendatang. (Baca: IMKA Erkaliaga Fakultas Hukum USU akan Pentaskan Seni Budaya Karo)

“Dalam pelaksanaan Gendang Guro-guro Aron yang biasa dilakukan saat Kerja Tahun, masyarakat Karo memiliki kebiasaan terlebih dahulu melakukan ziarah ke makam keluarga atau sanak saudara, untuk inilah kami sebagai mahasiswa Karo ingin membangkitkan kembali tradisi tersebut dan kami berinisiatif berziarah ke makam Guru Patimpus yang dikenal sebagai pendiri Kota Medan,” terangnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua IMKA Erkaliaga FH USU, Tommy Aditia Sinulingga turut mengatakan bahwa kehadiran anggotanya mendatangi makan Guru Patimpus berdasarkan tradisi lisan yang disampaikan oleh masyarakat sekitar, sekaligus berdasarkan informasi orang-orang yang sebelumnya sudah pernah berkunjung sebelumnya ke makam tersebut.

“Makam Guru Patimpus berada diantara ladang-ladang masyarakat, kondisi makam tidak terawat dan sangat memprihatinkan. Makamnya berupa gundukan tanah saja, hanya terdapat batu pada sisi kaki dan kepala sebagai batu nisan, namun tidak memiliki nama,” ujar Tommy.

Tommy menambahkan bahwa selama ini masyarakat setempat menandai makam Guru Patimpus dengan keberadaan pohon besar yang dulunya ada disana, dimana di pohon tersebut dulunya turut terukir wajah Guru Patimpus.

“Menurut warga setempat, dulu di satu sisi makam tersebut ada pohon besar. Masyarakat sekitar menandai makam ini dengan keberadaan pohon tersebut. Menurut warga di pohon tersebut juga dulunya terukir wajah Guru Patimpus,” lanjutnya.

Terkait keberadaan makam Guru Patimpus yang dinilai dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. IMKA Erkaliaga FH USU sangat berharap agar Pemerintah Kota Medan kiranya dapat memperhatikan keberadaan makam pendiri Kota Medan tersebut.

“Kami Mahasiswa Karo sangat berharap agar Pemerintah Kota Medan kiranya dapat memperhatikan keberadaan Guru Patimpus yang kondisinya sangat memprihatinkan. Semoga Pemerintah Kota Medan segera mengambil tindakan dalam rangka memberikan penghargaan atas jasa Guru Patimpus sebagai pendiri Kota Medan,” harap Tommy.