Mengenal Yoyok Riyo Sudibyo Penerima Bung Hatta Award 2015

Mengenal Yoyok Riyo Sudibyo Penerima Bung Hatta Award 2015
Sipayo.com – Bung Hatta Anti Coruption Awards tahun 2015 telah menganugerahkan penghargaan kepada dua orang kepala daerah terbaik yang dianggap bersih dari praktik korupsi di birokrasi pemerintahan yang mereka pimpin. Kedua kepala daerah yang terpilih adalah Bupati Batang, Jawa Tengah, Yoyok Riyo Sudibyo dan mantan Walikota Surabaya, Jawa Timur, Tri Rismaharini.

Ketika sosok Rima telah banyak dikenal publik selama ini dengan sepak terjangnya selama memimpin Surabaya, maka tidak demikian dengan Yoyok Riyo Sudibyo yang selama ini sangat jauh dari pemberitaan media massa nasional.

Pria kelahiran Batang, Jawa Tengah, 27 April 1972 ini merupakan seorang lulusan Akademi Militer tahun 1994 dan Sekolah Lanjutan Perwira di tahun 2004.

Masa pengabdian Yoyok di dunia militer terbilang singkat. Yoyok memilih pensiun dini dengan pangkat terakhir Mayor. Pada tahun 2011, ia kemudian mengikuti Pilkada Batang. Bersama wakilnya  Soetadi, Yoyok kemudian dilantik pada 13 Februari 2012 setelah memenangkan pilkada dengan perolehan 113.027 suara (40,03 persen).

Setelah menjabat sebagai Bupati di kota kelahirannya, Yoyok kemudian aktif membangun kembali sepakbola Kabupaten Batang, yaitu Persibat.

Menariknya, Persibat ketika itu turut mendaftarkan Bupati Yoyok Riyo Sudibyo dalam daftar pemain dalam Kompetisi Divisi I Liga Indonesia di tahun 2013. Sang Bupati yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Persibat memakai nomor punggung 18.

Keikutsertaan Yoyok sebagai pemain Persibat ketika itu, sekaligus menjadi catatan sejarah di Indonesia, dimana kali pertama seorang kepala daerah masuk dalam sekuat tim sepakbola.

Di Persbat, ia bergabung dengan 29 pemain lainnya, baik amatir maupun nonamatir. Selama uji tanding, Yoyok sering turun di lapangan. Baik sebagai pemain utama maupun pemain pengganti.

Ketika Persibat Batang menyandang status sebagai runner-up kompetisi di akhir tahun 2014, maka berakhir juga karier Yoyok Riyo Sudibyo di lapangan hijau. Hal ini berkaitan dengan regulasi yang membolehkan adalah klub sendiri masih bersifat amatir bukan profesional.

“Saya gantung sepatu karena peraturan tak membolehkan pejabat negara rangkap jabatan. Apalagi di divisi utama status klub sudah berubah menjadi profesional,” ujar Yoyok ketika itu sebagaimana dikutip dari Okezone.com.

Sementara itu, dalam mengelola pemerintah selama menjabat sebagai Bupati, Yoyok dikenal dengan pemimpin yang menerapkan kepemimpinan yang terbuka. Dia membuka rumah dinasnya selama 24 jam bagi masyarakat. Selain itu, meski telah menjadi bupati, Yoyok juga masih sering naik sepeda ke masjid di Alun-alun Kota Batang untuk shalat berjemaah.

Yoyok juga menerapkan transparansi anggaran dan pembangunan. Mulai 2012, Pemkab Batang bekerja sama dengan Ombudsman RI di bidang layanan publik, termasuk mulai menerapkan lelang jabatan.

Yoyok juga membentuk Unit Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik (UPKP2) Kabupaten Batang pada 2013. Kantor ini bertugas melayani semua usulan dan pengaduan masyarakat yang belum digarap atau belum masuk agenda pembangunan.

Dalam pengadaan barang dan jasa, Yoyok belajar kepada Pemkot Surabaya untuk mengadopsi sistem layanan pengadaan secara elektronik (LPSE) yang dapat mencegah rekayasa dan korupsi.Hasilnya, LPSE Batang pada 2014 meraih standar ISO 27001 dari Lembaga Sertifikasi Internasional ACS Registrars.

Kini, Yoyok menerima Bung Hatta Anti-Corruption Award 2015. “Penghargaan itu ujian bagi saya. Jabatan saya tinggal setahun dua bulan. Cukup sekali menjadi bupati. Semoga pengganti saya jauh lebih baik,” harap Yoyok sebagaimana dikutip dari Kompas.com, Kamis (05/11/2015).