Pilkada Kabupaten Karo 2015, Siapa Yang Menang ?

Pilkada Kabupaten Karo 2015, Siapa Yang Menang ?
 
Pilkada Kabupaten Karo 2015 , Siapa Yang Menang ?
 
Oleh : Donsisko Peranginangin, SH

Tinggal beberapa hari lagi, tepat 9 Desember 2015 mendatang, pertanyaan siapa yang menjadi pemimpin kabupaten karo 5 tahun mendatang akan terjawab. Dengan asumsi tidak ada gugat-menggugat ke Mahkamah konstitusi maka setelah perhitungan selesai, sudah dapat dipastikan siapa yang bakal menjadi bupati karo periode 2016-2021.

 
Pilkada kabupaten karo diikuti oleh 7 pasangan calon terdiri dari 4 pasangan didukung partai dan 3 lainnya dari jalur independen. Heben Heser Ginting-Ngadep Tarigan (Nomor Urut 1), Sudarto Sitepu-Herman Antonius Purba (Nomor Urut 2), Ramon Bangun-Eddy Ulina Ginting (Nomor Urut 3), Layari Sinukaban – Ramlan Tarigan (Nomor Urut 4), Cuaca Bangun-David Ginting Manik (Nomor Urut 5), Terkelin Brahmana-Cory Sri Waty Sebayang (Nomor Urut 6), Bangkit Sitepu-Simon Sembiring (Nomor Urut 7).
 
Dari ketujuh pasangan

Ketujuah calon akan berjuang untuk merebut hati 270.184 Jiwa pemilih Kabupaten karo yang terdiri dari 131.196 jiwa laki-laki, dan perempuan berjumlah 138.988 dari 269 Desa/kelurahan yang tersebar di 640 tempat pemungutan suara (TPS).

 
Sebaran pemilih terbanyak ada di Kecamatan kabanjahe, dengan jumlah pemilih 47.326 jiwa, Berastagi 30.792 jiwa, Tiga panah 21.725 jiwa, Barus Jahe 18.051 jiwa, Munthe 16.301 Jiwa, simpang empat 16.044 jiwa, Tiga Binanga, 15.574 Jiwa, Lau baleng 13,221 jiwa, Merek 12.997, Mardingding 12.366 jiwa, Juhar 11.347 jiwa Merdeka 10.411 jiwa, Naman teran 9.308 jiwa, payung 8.870 jiwa, tiga nderket 10.549 jiwa, kuta buluh 9.403 jiwa dan dolat rakyat 6.334 jiwa.
 
Menurut Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015 tentang Perubahan UU No 1/2015 tentang Peraturan Pemerintah Pengganti UU tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Wali Kota mengamanatkan bahwa siapapun diantara pasangan yang berhasil meraih suara terbanyak maka pasangat tersebutlah terpilih menjadi pemenang. Jadi tidak adalagi ketentuan batas minimal 30 persen perolehan suara.

Berangkat dari peraturan tersebut, maka dapat juga dikatakan tidak ada lagi puturan kedua di Pilkada kabupaten karo. Jadi siapapun calon yang memperoleh suara terbanyak maka pasangan tersebut akan menjadi bupat dan wakil bupati kabupaten karo 5 tahun mendatang.

 
Sebelum sampai pada pelantikan, atau minimal hasil perhitungan suara diumumkan oleh KPU, tentu siapa yang bakal menjadi pemenang masih tetap menjadi misteri dan menarik untuk ditelusuri, kita hanya dapat memprediksi atau mengira-ngira. Maka pertanyaannya adalah siapa kira-kira yang menang pada pilkada karo 2015 mendatang ?
 
Prediksi adalah suatu proses memperkirakan secara sistematis tentang sesuatu yang paling mungkin terjadi di masa depan berdasarkan informasi masa lalu dan sekarang yang dimiliki. Prediksi bisa dibuat berdasarkan metode ilmiah ataupun subjektif belaka. Namun akan lebih bermanfaat bila prediksi tersebut dibuat berdasarkan metode ilmiah, minimal berdasarkan data dan fakta yang ada.

 
Unsur utama dari metode ilmiah adalah pengulangan dari empat hal yakni Karakterisasi (pengamatan dan pengukuran) , Hipotesis (jawaban sementara terhadap masalah yang masih bersifat praduga karena masih harus dibuktikan kebenarannya), Prediksi (deduksi logis dari hipotesis) dan eksperimen (pengujian).
Dari proses karakterisasi kita nanti dapat membuat hipotesis, dari hipotesis kita akan dapat membuat prediksi, sedangkan eksperimen akan terjadi sendirinya pada tanggal 9 Desember 2015 mendatang.
 
Dari data dukungan partai bagi pasangan calon dari partai dan jumlah ktp bagi pasangan calon independen saat mendaftar di KPUD maka kita dapat mengukur peta dukungan terhadap ketujuh calon.

 
Pemilih tetap (DPT) pada pileg 2014 yang lalu berjumlah 270.719 jiwa, yang menggunakan hak suara dengan baik berjumlah 191.394 Jiwa. Ada 8 partai yang mampu mendudukan wakilnya di DPRD yakni (Demokrat, Gerindra, Golkar, PDIP, PAN, Hanura, PKPI dan Nasdem) dengan total perolehan 186.254 suara. Sementara PKB (3. 440 suara), PBB (889 suara), PKS (407 suara), PPP (404 suara) tidak mendapakan kursi dengan total jumalah suara 5.140 suara.
 
Dari data diatas dengan asumsi para pemilih tetap konsisten dengan partai yang dipilihnya pada pileg dan jumlah pemilih juga tetap maka yang berpeluang memenangkan pilkada karo adalah Terkelin Brahmana – Corry Br Sebayang. Namun, bila kita berkaca pada hasil pilpres maka hipotesa ini kembali menjadi lemah karena pada calon presiden yang didukung oleh partai pengusung Terkelin dan Corry Br Sebanyang kalah mutlak.
 
Prabowo – Hatta yang diusung partai Golkar, Gerindra, PAN, PKS, PBB dalam koalisi merah putih, kalah telak dari Jokowi – Kalla yang diusung partai PDIP, PKB, Nasdem, Hanura, PKPI dalam koalisi Indonesia Hebat. Sementara Demokrat mendeklrasikan diri sebagai partai penyeimbang. Probowo hanya memperoleh 25.457 suara atau 15,05 %, sementara itu Jokowi memperoleh 143.611 suara atau 84,95% dari 169.794 jiwa yang menggunkan hak suara.
 
Berkaca dari hasil pilpres, dengan asumsi para pemilih pilpres konsisten memilih partai pengusung Jokowi-Kalla maka yang berpeluang menjadi pemenang pilkada karo 2015 adalah pasangan Sudarto Sitepu – Herman Purba   karena jumlah dukungan suara lebih banyak yakni 40.112 suara  dari pada Ramon Bangun – Edi Ulina Ginting yang hanya didukung 35.409 Suara.
 
Adanya 3 pasangan calon dari jalur peseorangan dengan total dukungan 74.030 jiwa memuat kedua hipotesa diatas menjadi sedikit lemah. Karena dengan asumsi para pemberi KTP tetap memilih pasangan yang menerima KTP, maka pasti ada perubahan jumlah suara partai atau dengan kata lain, jumlah dukungan ke partai pasti berkurang.
 
Pada pileg dan pilpres partisipasi masyrakat dalam memberikan suara berkisar 70-75 persen dari Daftar pemilih tetap. Saat ini jumlah DPT Pikada Karo 270.184, maka dapat diperkiran jumlah masyarakat yang menggunakan hak pilihnya paling banyak berjumlah 202.638 suara.
 
Dengan asumsi 74.030 jiwa sudah tetap memilih calon independent maka ada sekitar 128. 608 suara yang bakal diperebutkan oleh pasangan yang diusung oleh partai. Maka bila kita berkaca dari hasil pileg maka tentu dengan asumsi pemilih konsisten maka yang berpeluang menag adalah Terkelin Brahmana – Corry Sebayang, namun bila kita berkaca pada hasil Pilpres maka yang berpeluang menang adalah Sudarto Sitepu – Herman Antonius Purba.
 
Sebelum penghitungan pada hari pemilihan, setiap calon memiliki peluang yang sama besar,  siapapun yang terpilih pastilah pasangan yang mampu mempertahankan konsistensi dan  merebut hati masyarakat pemilih. Artinya, kemenangan ditentukan oleh masyarakat atau dengan kata lain siapapun yang terpilih menjadi bupati dan wakil bupati karo periode 2016-2021 mendantang adalah kemenangan masyarakat karo.
 
Oleh karena itu, masyrakat harus benar-benar harus cerdas dalam memilih, karena 5 detik di TPS menentukan pembangunan di Kabupaten karo 5 tahun kedepan. Untuk itu sebelum memilih kenali dan pelajari siapa pasangan calon yang terbaik untuk melayani dan memimpin kabupaten karo 5 tahun kedepan.