Puisi untuk Memperingati Hari Guru Nasional 2015

Puisi untuk Memperingati Hari Guru Nasional 2015
Sipayo.com – Setiap tanggal 25 November, Indonesia akan memperingati Hari Guru Nasional, yang sekaligus diperingati hari lahirnya organisasi guru, yaitu Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Berbagai kegiatan akan diselenggarakan oleh sekolah-sekolah se-Indonesia, mulai dari tingkat SD hingga SMA dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional.

Selain melaksanakan upacara bendera, serangkaian kegiatan memperingati Hari Guru Nasional adalah melakukan berbagai perlombaan, mulai dari lomba pidato, lomba puisi, hingga lomba pantun. Dalam pelaksanaan Hari Guru Nasional juga turut akan diserahkan berbagai bingkisan menarik kepada para guru, dan hal tersebut dilakukan dalam rangka memberikan penghormatan atas pengabdian yang telah diberikan oleh guru kepada murid-murid.

Namun demikian, mengingat guru juga merupakan manusia biasa seperti halnya manusia kebanyakan. Maka pada kesempatan ini, Sipayo.com akan turut mempublikasikan salah satu puisi yang berjudul guru. Puisi yang dipublikasikan dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional yang sebentar lagi akan tiba, dimaksudkan agar para guru tetap mejadi teladan bagi seluruh generasi muda, yakni murid-murid yang kelak akan menjadi penerus bangsa dan negara.

Puisi berjudul Guru karya Kahlil Gibran ini memiliki makna yang sangat mendalam dalam rangka menjadikan kepribadian guru tetap menjadi pengayom bagi generasi muda, sehingga demikian pengajaran guru tersebut akan benar-benar dapat diterapkan pula oleh anak didiknya dalam menebar kebaikan dan ketulusan dalam bermasyarakat.

Berikut adalah puisi berjudul Guru karya Kahlil Gibran yang sengaja kembali dipublikasikan di Sipayo.com dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional yang jatuh pada tanggal 25 November mendatang:

Guru

Karya:  Kahlil Gibran

Barang siapa mahu menjadi guru,
Biarkan dia memulai mengajar dirinya sendiri
Sebelum mengajar orang lain,
Dan biarkan dia mengajar dengan teladan
Sebelum mengajar dengan kata-kata.

Sebab mereka yang mengajar dirinya sendiri dengan memperbetulkan perbuatan-perbuatannya sendiri
Lebih berhak atas penghormatan dan kemuliaan
Daripada mereka yang hanya mengajar orang lain
Dan memperbetulkan perbuatan-perbuatan orang lain.