Cara Mudah Mendidik Anak Jadi Disiplin Tanpa Kekerasan

Cara Mudah Mendidik Anak Jadi Disiplin Tanpa Kekerasan
Sipayo.com – Disiplin adalah kunci keberhasilan begitu sebuah ungkapan yang sering diajarkan oleh oran tua kepada anak-anaknya. Namun demikian, mengajar anar menjadi disiplin ternyata tidak semudah mengungkapkanya.
 
Dalam mengajarkan disiplin orang tua kerap harus marah-marah, berteriak bahkan menghukum si anak agar dapat menjadi disiplin. Namun ternyata, hal itu tidak sepenuhnya berhasil.
 
 
Anak disiplin karena takut dengan orangtua  bukanlah disiplin yang baik. Seharusnya, disiplin yang ada pada si anak ada karena adanya sebuah kesadaran si anak akan pentingnya disiplin bagi dirinya.
 
Dikutip dari Tabloid Nakita, selasa (19/1/2015), Psikolog, Risa Kolopaking memberikan beberapa tips atau cara yang dapat dilakukan orang tua agar lebih mudah mengajarkan disiplin kepada anak.
 
1. Tanpa kekerasan
Jangan sekali-kali menggunakan kekerasan, baik yang menimbulkan luka maupun yang tidak seperti memukul pantat anak, menampar, mencubit, mengguncangkan badan, dan lain-lain.
 
Juga tak boleh menyerang secara verbal terhadap anak sehingga menimbulkan bahaya psikologis, seperti memaki anak dengan kata-kata yang tidak pantas, memanggil anak dengan nama panggilan negatif, memberikan label buruk, dan lain-lain.
 
2. Hindari isolasi
Hindari penerapan disiplin berupa penarikan kasih sayang seperti berbagai bentuk pengabaian, mengisolasi, menunjukkan rasa tidak suka pada anak, dan lain-lain.
 
Ini akan berakibat buruk bagi perkembangan harga diri serta pembentukan rasa aman anak akan pemenuhan kasih sayang.
 
3. Target
Berikan penguatan dan konsekuensi yang wajar. Penguatan (reward) dapat diberikan kepada anak jika ia menunjukkan perilaku positif yang diharapkan.
 
Anak pun harus mendapat kesan bahwa reward merupakan suatu yang istimewa. Oleh karena itu, tetapkan target disiplin yang harus ia lakukan selama beberapa waktu ke depan.
 
Konsekuensi bisa diberikan jika anak melakukan pelanggaran dari aturan yang telah diterapkan dan dijelaskan. Terapkan secara privat (tidak di depan orang lain).
 
Mengapa? Konsekuensi ditujukan untuk meningkatkan kesadaran, bukan untuk menciptakan rasa bersalah. Pastinya konsekuensi tersebut harus disertai penjelasan  alasannya.

4. Awali dari yang mudah
Mulailah dari perilaku yang mudah, sesuaikan dengan usia anak. Misalnya, waktu bangun, waktu tidur, belajar dan rutinitas sehari-hari lainnya.
 
5. Penghargaan
Untuk tahap awal, berikan penghargaan dan konsekuansi segera setelah anak melakukan perilaku yang diharapkan. Dengan demikian, ia menyadari apresiasi ini adalah akibat dari perbuatannya.
 
6 Budaya serumah
Jadikan latihan disiplin sebagai budaya bersama seisi rumah, sehingga anak tidak merasa melakukannya sendirian.
 
7. Beri contoh
Bila anak masih melanggar atau melakukan kesalahan, tidak perlu berteriak untuk mengingatkannya. Cukup contohkan bagaimana seharusnya.
 
Misal, anak tidak mau belajar di jam belajar, cukup temani membaca buku atau mengulang pelajaran yang harusnya dilakukan.
 
Jadikan jam belajar sebagai kegiatan bersama, orangtua membaca buku/majalah/koran untuk menemani anak belajar.
 
8. Cara kreatif
Lakukan pendekatan yang sistematis dan kreatif agar anak bisa memperkuat dirinya dengan cara memperbaiki kesalahannya.
 
Bagaimana melakukan pendekatan itu?
Sebagai langkah awal anak harus memahami terlebih dahulu nilai-nilai yang dianut dalam keluarganya. Misal, kejujuran dan penghormatan terhadap diri sendiri dan orang lain.
 
Selanjutnya, nilai-nilai yang dianut tersebut dijadikan sebagai sarana untuk memperbaiki kesalahan dan memperkuat pribadi.
 
Itulah beberapa tips atuapun cara untuk mendisplikan anak yang dapat dilakukan oleh orangtua. Intinya adalah, disiplin yang ada pada diri anak sebaiknya karena sebuah kesadaran bukan karena paksaan apalagi rasa takut.