Inilah Fakta Mengerikan Sindikat Penjual Ginjal di Indonesia

Inilah Fakta Mengerikan Sindikat Penjual Ginjal di Indonesia
Sipayo.com – Sindikat penjual ginjal benar-benar ada dan nyata di Indonesia. Hal tersebut terungkap setelah Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri dan Polda Jawa Barat (Jabar) berhasil membongkar perdagangan organ tubuh manusia tersebut, sekaligus telah mengamankan tiga pelaku.

Ketiga pelaku tersebut berinisial AG, DD, dan HR. AG dan DD berperan sebagai perekrut korban yang akan menjual ginjalnya, sementara HR berperan sebagai penghubung antara prekrut dengan pihak rumah sakit di Jakarta.

Berdasarkan pengakuannya kepada pihak Kepolisian, HR mengatakan pertama kali melakukan penjualan organ tubuh manusia tersebut pada tahun 2008. Ketika itu, HR menyebut hanya ikut membantu seseorang melakukan transplatasi ginjal, dan hal tersebut dilakukannya tanpa mendapatkan bayaran.

“HR ini awalnya bantu yang pertama kali. Dia bantu cari korban atau pendonor tapi tidak dapat imbalan sama sekali. Akhirnya dia buat jaringan sehingga korban kedua dan seterusnya sudah ada pembayaran,” ujar Kasubdit III Direktorat Tindak Pidana Umum Kombes Umar Fana.

Dari pengakuan tersangka, diketahui para korban pendonor ginjal hanya mendapatkan uang Rp 70 juta hingga Rp 90 juta. Sementara HR sebagai penghubung menawarkan ginjal tersebut ke pembeli seharga Rp 225 juta hingga Rp 300 juta.

Harga ginjal yang mencapai ratusan juta tersebut belum termasuk biaya operasi yang diperkirakan mencapai Rp 100 juta yang ditanggung si pembali. Hingga kini, polisi telah menemukan 15 orang yang menjadi korban perdagangan organ tubuh tersebut.

“Ke 15 korban berusia rata-rata 20 sampai 30 tahun dengan pekerjaan petani, supir dan tukang ojek. Kita menduga masih ada lagi korban, sedang kita dalami,” terang Umar.

Terkait sindikat penjual ginjal tersebut, polisi juga tengah mendalami keterlibatan pihak rumah sakit. Terutama para dokter yang turut serta melakukan operasi.

“Rumah sakit yang digunakan di Jakarta baik swasta dan negeri, sedang didalami motif ini adalah jual beli organ. Atau kena hanya di malapraktik. Karena dari sisi caranya tidak benar dan tidak ada wawancara,” ujar Umar.

Meski sudah mengantongi 3 nama rumah sakit yang diduga ikut terlibat dalam sindikat penjualan ginjal itu, Umar belum mau berani menyebut nama rumah sakit tersebut. “Belum berani sebut rumah sakitnya,” ucap dia.