Semakin Lunturnya Bahasa Karo Di Masa Kini

Semakin Lunturnya Bahasa Karo Di Masa Kini
Semakin Lunturnya Bahasa Karo Di Masa Kini
Oleh : Jakup Ginting Sinusinga
 
Tak bisa dipungkiri bahwa saat ini semakin banyak generasi muda suku Karo yang tidak fasih lagi berbahasa karo. Sebagian hanya mengerti ucapan orang lain dalam bahasa karo, namun tidak bisa berbicara dalam bahasa karo. Sebagian lagi mengerti dan bisa berbahasa karo, namun terasa canggung untuk menggunakannya karena tidak terbiasa.
 
Mungkin ada dari kita, fasih dalam berbahasa karo, namun penggunaan bahasa karo yang kita gunakan tidak murni lagi. Apa maksudnya tidak murni? Yang saya maksud disini adalah, bila seseorang berbicara dalam bahasa karo, namun ada begitu banyak bahasa Indonesia yang dipakai saat menyampaikan sesuatu. 
 
Misalnya saya mengatakan bahwa saya ingin pergi ke kolam, memancing ikan. Maka dalam bahasa karo, saya akan bilang:”Ku kolam ateku, ngkawil”. Padahal dalam bahasa karo, kolam memiliki kata sendiri yaitu “Paya”.  Saya pikir, ada banyak contoh-contoh lainnya juga yang bisa kita temui dalam percakapan bahasa karo.
 
Melihat permasalahan ini, maka saya pun berpikir, apakah penyebabnya?
Saya memang tidak melakukan riset yang dalam terhadap hal tersebut, tapi dari pengamatan saya secara pribadi, saya melihat ada beberapa alasan kenapa semakin banyak orang karo yang tidak paham bahasa karo.
 
Pertama, orangtua tidak mendorong anaknya berbicara dalam bahasa karo
Yang paling sering terjadi saat ini adalah, orang-orang mengerti bahasa karo, tapi tidak bisa berbicara dalam bahasa karo. Ini terjadi karena bahasa karo tidak pernah dibiasakan mulai dari rumah. Orangtua berbahasa karo pun, si anak akan menjawab dengan bahasa Indonesia (saya seperti itu sih :D) Mungkin si anak sering mendengar bahasa karo di pajak, ato di pesta-pesta. Dan sering hanya pada saat itu pula si anak terkadang menggunakan bahasa karo. Selepas itu dirumah ataupun tempat bermain, si anak tidak akan berbicara bahasa karo.
 
Ah, itu kan orang-orang di kota ajanya. Kalau di kampung masih bicara bahasa karonya anak-anaknya. Eits belum tentu. Aku punya saudara yang sudah SD, dan dia tinggal di desa (kampung) yang tentunya masih sangat akrab dengan bahasa Karo. Tapi apakah dia berbahasa karo? ternyata tidak, dia tetap menggunakan bahasa Indonesia untuk menjawab.
 
Kedua, malu menggunakan bahasa karo
Ya, sekarang kan zaman gaul. Semua orang sudah punya gadget masing-masing, sebagai wadah untuk menunjukkan ke-eksisan melalui media sosial. Maunya kita ya terlihat gaul dan tidak kekampung-kampungan, termasuk dalam penggunaan bahasa. Malahan mungkin kita lebih fasih menirukan logat dan bahasa jawa atau sunda, karena memanglah di acara-acara TV budaya mereka yang lebih banyak ditonjolkan.
 
Tak hanya bahasa barangkali yang membuat malu, banyak orang karo saat ini yang menghilangkan marga untuk menunjukkan identitas pribadinya. Terkadang marga hanya disingkat dengan inisial saja, ato sama sekali tak dimunculkan.
 
Ketiga, pengaruh era globalisasi
Masih bersambung dari penyebab nomor dua, di era globalisasi ini, semua hal yang bersifat global dapat diakses secara lokal. Di setiap desa di tanah Karo, sebagian besar saya pikir sudah punya barang-barang elektronik.  Tentunya kita mengetahui dalam setiap barang elektronik tersebut, hanya ada bahasa indonesia, bahasa inggris, bahasa mandarin dan mungkin bahasa-bahasa lainnya. Wajar sih memang, kalau produsen alat-alat elektronik tidak membuat bahasa karo di barang mereka. Tapi ya karena kita sudah semakin akrab dengan alat-alat tersebut, kita lebih sering mengucapkan bahasa indonesia, karena memang adanya bahasa indonesia bukan bahasa karo.
 
Keempat, tidak terlalu peduli
Kenapa rupanya kalau aku tidak bisa berbahasa karo, masalah kali rupanya? Ya sebenarnya memang, setiap orang berhak atas apa yang terjadi dalam dirinya masing-masing. Namun marilah kita pikir-pikir sejenak. Mengapa banyak orang luar yang tertarik terhadap dengan kebudayaan di Indonesia bahkan banyak sekali yang melakukan penelitian tentang itu? Tetapi kenapa gak banyak orang Indonesia yang khusus meneliti kebudayaan orang luar?
 
Ya jawabannya karena kita memiliki kebudayaan yang sangat unik yang mereka tidak punya.
Kita punya bahasa karo,
kita punya aksara karo,
kita punya alat-alat musik tradisional, kulcapi, keteng-keteng , sarunai,
kita punya marga, bebere, binuang, soler, kampah, kempu,
kita punya anak beru, sembuyak, kalimbubu (dan itupun ada pula pembagiannya)
kita punya impal, turang, mama, mami, bibi bengkila
 
Dan mereka tidak punya itu. Saya pikir dasar inilah yang membuat kita mengerti bahwa kita memiliki kekayaan budaya yang tidak dimiliki suku bangsa lain. Tapi ya kita pikir, buat apa sih itu. Tidak ada ruginya juga kalo budaya karo hilang.
 
Saya suka membaca manga/komik dari jepang. Dari situ saya seringkali tau bagaimana kebudayaan mereka dan bagaimana mereka menjaga itu.  Mereka yang sudah negara maju saja masih terus menjaga dan mempromosikan budayanya. Kita yang negara berkembang?

Saya saat ini sedang memulai projek kecil-kecilan yang saya namakan Cakap Karo.  Dengan bermodalkan kamus karo-indonesia, saya mencoba menyajikan kembali bahasa Karo melalui media sosial. Seperti diatas, semua orang sudah punya gadget masing-masing yang digunakan sehari-hari. Dengan melihat postingan bahasa karo setiap hari, saya berharap kita bisa mengenal kembali bahasa karo dan membiasakan diri untuk membicarakannya.
 
Saya sebenarnya orang yang tergolong mengerti bahasa karo dan bisa berbicara. Tapi saya sangat canggung dalam berbicara bahasa Karo. Oleh karena itu, melalui Cakap Karo ini saya juga belajar kembali berbahasa karo.  Oleh karena itu kita dapat berdiskusi bersama dalam Cakap Karo.
 
Sebagian besar pemuda-pemudi Karo, kelahiran 80 dan 90an, sudah menjadi orangtua saat ini. Dan sebagian besar dari orangtua kelahiran 80 dan 90an ini juga tidak terlalu mengerti lagi berbahasa Karo. Bagaimana jadinya nanti dengan anak-anak mereka yang juga akan menjadi orangtua nantinya? Mungkin bisa-bisa punah sudah bahasa ini.
 
Penulis adalah pemerhati dan pengembang konten berbahasa karo di media social :
http://facebook.com/ercakapkaro
http://instagram.com/cakapkaro