Aku, Nada Minor, dan Kinikaron

Aku, Nada Minor, dan Kinikaron
Oleh: Alexander Firdaust Meliala

Ada kalanya aku langsung tertarik mendengarkan sebuah lagu, meski lagu tersebut baru pertama kali aku dengar. Bila hal demikian terjadi, umumnya aku bukan langsung tertarik terhadap syair atau lirik dalam lagu. Namun justru hal pertama membuatku tertarik adalah nada dan melodi dari alat musik yang mengiringi lagu tersebut.

Begitu pula halnya, aku tidak tergantung terhadap genre musik pengiring lagu. Ketika nada dan melodi musiknya tepat, maka hampir seluruh genre musik aku senangi, mulai dari genre pop, rock, metal, jazz, hiphop, bahkan hingga musik dangdut.

Lalu apa yang menjadi syarat utama, sehingga aku bisa langsung tertarik mendengarkan sebuah lagu? Secara umum adalah tangga nada pada sebuah lagu. Dalam hal ini adalah tangga nada minor, meski ada juga lagu dengan tangga nada mayor yang aku sukai.

Secara umum nada minor memang kerap dianggap mempunyai bunyi yang cenderung lebih sedih dibandingkan dengan tangga nada mayor. Namun justru menurutku disinilah sensasi mendengar sebuah lagu yang diiringi nada ini. Senasinya adalah mampu membuat hati bercampur aduk, yakni rasa yang pada awalnya cenderung sedih kemudian dapat berubah tergugah, hingga kemudian memunculkan rasa kegembiraan.

Mengapa aku cenderung lebih senang dengan lagu-lagu bernada minor? Apakah ini ada hubungannya dengan Kinikaron? Bila pertanyaan demikian dikemukakan, maka secara ilmiah memang akan sulit menjawabnya karena masih harus dibuktikan dengan penelitian lebih lanjut oleh ahlinya.

Ketika dicocok-cocokkan, memang mungkin akan ada benang merahnya juga dengan Kinikaron. Sebagai contoh misalnya, aku berasal dari kampung, tumbuh dan besar di lingkungan Karo yang kental. Adapun Suku Karo dikenal dengan ciri musiknya dengan nada minor.

Tangga nada Karo dengan nada minor dapat dikenali lewat lagu-lagu periode lama. Disamping itu, nada-nada yang dihasilkan oleh instrumen musik Karo juga kecenderungan menggunakan tangga nada minor. Misalnya, alat musik sebagai pembawa melodi seperti sarune, balobat, bahkan alat petik sekalipun seperti kulcapi turut menghasilkan nada minor.

Tumbuh dan besar di lingkungan Karo yang kental membuat aku sangat terbiasa mendengar lagu-lagu Karo sejak kecil hingga dewasa. Dengan alasan demikian, maka aku sangat yakin sekali, ketika aku cenderung suka dengan lagu-lagu bernada minor, maka hal ini tentu tak terlepas dengan pengalaman mendengar lagu-lagu Karo itu.