Ini Dia Sosok Preman Medan yang Paling Disegani pada Masanya

Ini Dia Sosok Preman Medan yang Paling Disegani pada Masanya

Foto: Ilustrasi Preman

Sipayo.com – Preman. Kata ini begitu indentik dengan kota Medan. Reputarsi preman di daerah ini telah dimulai sejak zaman kolonial Belanda di awal abad 20.

Julukan ini pada awalnya ditujukan oleh tuan-tuan kebun kepada mereka kuli non-kontrak atau tenaga lepas yang dibayar harian. Kala itu, tuan-tuan kebun Belanda yang menjadi penguasa tanah Deli menyebut mereka dengan judulan “Vrije Man” yang berarti orang bebas.

Meski dipekerjakan, kerap kali kalangan Vrije Man ini menjadi gangguan bagi tuan kebun Belanda dalam rangka menjalankan usahanya karena kerap tampil sebagai pembela kuli kontrak asal Jawa, Tionghoa, dan India yang disiksa mandor kebun atas perintah tuan kebun.

Selain itu, berbagai keresahan pun turut ditimbulkan kalangan Vrije Man. Mereka kerap merusak tanaman kebun, minum-minum hingga mabuk dan memancing keributan, bahkan menantang berkelahi merupakan cara mereka unjuk taji terhadap penguasa kebun.

Untuk melunakkan kalangan Vrije Man, mereka kemudian digratiskan mengambil makanan dan minuman di warung. Disinilah awal mula istilah Vrije Man berubah menjadi “Preman”, yakni akronoim untuk ‘pre minum dan makan’. Pre merupakan singkatan dari prei yang asalnya dari vrije. Bebas minum dan makan.

Pada masa pemerintahan Soekarno, eksistensi kalangan preman di kota Medan kian mengemuka. Bahkan pada 28 Oktober 1959, kalangan preman resmi terhimpun ke dalam organisasi bernama Pemuda Pancasila. Organisasi ini pada awalnya didirikan sebagai sayap Partai Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI).

Kehadiran Pemuda Pancasila ketika itu diharapkan turut ikut mempertahankan Pancasila dan UUD 1945 ketika banyak kelompok pemuda lain beralih mendukung Nasakom.

Effendi Nasution alias Pendi Keling adalah preman legendaris dan mantan petinju sekaligus sosok pendiri organisasi Pemuda Pancasila di kota Medan. Dengan karisma yang dimilikinya, Pendi Keling berhasil mempersatukan para preman di Medan, sehingga mereka kemudian menjadi kekuatan politik.

Upaya Pendi Keling menyatukan rekan-rekannya dalam satu organisasi berhasil membuat mereka tak lagi disebut preman. Mengusung panji Pemuda Pancasila, mereka ikut membasmi simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Tindakan mereka berbuah manis. Pemuda Pancasila pun menjelma menjadi organisasi kepemudaan besar di negeri ini. Di bawah kepemimpinan Pendi Keling, para preman yang umumnya mangkal di bioskop-bioskop, menjelma menjadi orang terpandang dan tak jarang punya peran di dunia politik.

Pendi Keling meninggal dunia 26 Agustus 1997, pada usia 63 tahun. Jalan HMY Efendi Nasution yang ditabalkan sebagai nama salah satu jalan di Kota Medan mengabadikan legendanya.

Semasa hidupnya, preman Medan yang disebut-sebut paling ditakuti dan disegani pada masanya ini juga sebagai sosok mentor preman Medan lainnya yang namanya kemudian menjadi kesohor di Sumatera Utara bahkan di Indonesia. Dialah Olo Panggaben, pendiri organisasi Ikatan Pemuda Karya (IPK) yang merupakan bekas anggota Pendi Keling.