Puluhan Mahasiswa di Malang Ditahan Saat Jokowi Datang, Ini Kronologinya…

Puluhan Mahasiswa di Malang Ditahan Saat Jokowi Datang, Ini Kronologinya…
Sipayo.com – Puluhan mahasiswa ditahan aparat keamanan saat Presiden Joko Widodo (Jokowi) berkunjung ke Universitas Muhammadiyah Malang, Sabatu (3/4/2017).

Sekitar 35 mahasiswa ditahan di sebuah ruangan berukuran 7 x 4 meter, yakni di rumah toko yang berada di seberang gapura masuk UMM di Jl Tlogomas Kota Malang.

Bagaimana kronologi penahanan mahasiswa selama sekitar 3 jam tersebut, berikut informasi selengkapnya sebagaimana dikutip Sipayo.com dari Surya:

1. Pukul 08.30 WIB, peserta aksi mulai berdatangan. Mereka berkumpul di sebuah warung kopi di depan gapura masuk UMM.

2. Pukul 08.35 WIB, peserta aksi yang sudah datang memutuskan bergeser ke ruko yang berdampingan dengan rumah kos di dekat warung kopi.
Peserta aksi bergeser karena aparat (intel dan TNI) mulai ikut berkumpul di warung kopi tersebut.

3. Peserta aksi terus berdatangan

4. Selama menunggu massa aksi, intel terus berdatangan menanyakan surat izin aksi, jumlah peserta, tujuan aksi, juga tuntutan yang disuarakan.
Di sela-sela itu, intel terus meminta supaya aksi tidak dilakukan.

4. Pukul 11.40 WIB, peserta aksi keluar dari ruko dan menuju pinggir jalan raya. Ruko dan jalan berjarak sekitar dua meter.

5. Aparat terus melobi peserta aksi supaya tidak aksi. Peserta aksi diminta masuk ke area kampus dan ikut menyambut kedatangan presiden tanpa melakukan aksi demonstrasi.

6. Tidak ada kesepakatan. Mahasiswa tetap mau aksi.

7. Pukul 12.00 WIB, beberapa aparat langsung merampas megaphone dan peralatan aksi.

8. Setelah itu disusul oleh anggota Brimob yang mendorong peserta aksi masuk ke ruko.

9. 35 orang peserta aksi terdesak ke ruko, dan pintu ruko ditutup.

10. Sekitar 3 jam, mereka ditahan di ruko dengan pengawalan ketat aparat.

11. Sekitar pukul 16.00 WIB, setelah Presiden Joko Widodo keluar UMM, mahasiswa dilepaskan dari ruko.

“Kondisi teman-teman baik, cuma kecewa atas sikap represif aparat di negara demokrasi ini. Seharusnya kami bebas menyuarakan suara kami, apalagi pemberitahuan sudah kami layangkan,” humas aksi Fauzul Qabir.