Sejarah Masjid Al-Mashun Peninggalan Kesultanan Deli di Medan

Sejarah Masjid Al-Mashun Peninggalan Kesultanan Deli di Medan

Ilustrasi Masjid Al-Mashun

Sipayo.com – Al-Mashun atau yang dikenal dengan Masjid Raya kini menjadi salah satu ikon wisata Kota Medan. Masjid ini adalah salah satu bangunan bersejarah yang merupakan peninggalan jaman Kesultanan Deli. Meski usianya sudah lebih dari seratus tahun, namun bangunan unik ini hingga kini masih berdiri kokoh dan tetap digunakan jemaah khususnya warga Muslim di Kota Medan untuk beribadah.

Masjid yang dibangun tahun 1906 ini menjadi identitas Kota Medan bukan sekedar karena bangunannya yang antik dan bersejarah. Namun juga menyimpan keunikan tersendiri. Hal ini dapat dilihat dari arsitektur bentuk bangunan, kubah, menara, pilar utama hingga ornamen-ornamen kaligrafi yang menghiasi tiap bagian bangunan Masjid ini.

Masjid bersejarah ini dircancang dengan perpaduan gaya arsitektur Timur Tengah, India dan Eropa abad ke-18. Tempat beridabah umat Muslim ini merupakan salah satu peninggalan Sultan Ma’Moen Al Rasyid Perkasa Alam, pengusa ke-9 Kerajaan Melayu Deli yang berkuasa pada tahun 1873-1924.

Masjid Al-Mashun sendiri dibangun diatas lahan seluas 18.000 meter persegi, dapat menampung sekitar 1500 jemaah dan digunakan pertama kali pada hari Jumat 25 Sya’ban 1929 H atau 10 September 1909. Tempat ibadah ini banyak dikagumi karena bentuknya yang unik tidak seperti bangunan Masjid biasa yang umumnya berbentuk segi empat.

Masjid ini dirancang berbentuk bundar segi delapan dengan 4 serambi utama di depan, belakang, dan samping kiri kanan, yang sekaligus menjadi pintu utama masuk ke dalam Masjid. Ornamen-ornamen yang terdapat di dalam Masjid terbuat dari ukiran kayu jenis merbau yang dikerjakan melalui karya seni yang tinggi

Pada bulan Ramadhan seperti saat ini, suasana di Masjid Raya ini menjadi jauh lebih ramai dibanding hari-hari biasanya, karena pengelola Masjid selalu menyediakan bubur pedas gratis untuk berbuka kepada para umat Muslim yang menjalankan ibadah puasa.