Inilah 9 Pahlawan Nasional dari Sumatera Utara, yang Mengaku Anak Medan Wajib Tau!

Inilah 9 Pahlawan Nasional dari Sumatera Utara, yang Mengaku Anak Medan Wajib Tau!

Foto: Ilustrasi Pahlawan Nasional Indonesia (Int)

Sipayo.com – Hingga tahun 2017, tercatat ada 10 Pahlawan Nasional yang berasal dari Sumatera Utara. Sayangnya, banyak diantara mereka tidak dikenal secara luas, bahkan oleh warga Sumut pun kurang dikenali.

Ada pepatah mengatakan bahwa, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya. Lalu bagaimana kita dikatakan menghargai jasa pahlawan kalau mengenalnya saja pun tidak?

Dalam rangka memperkenalkan sosok para pahlawan yang berasal dari Sumatera Utara, maka berikut ini Sipayo.com akan mempublikasikan profil masing-masing pahlawan dari daerah ini. Yang selama ini mengaku Anak Medan, tentu harus wajib baca sehingga jadi ikut tau…

1. Sisingamangaraja XII

Sisingamangaraja XII adalah pejuang yang berperang melawan Belanda yang diangkat sebagai Pahlawan Nasional oleh pemerintah Indonesia sejak 9 November 1961 berdasarkan SK Presiden RI No 590/1961. Ia lahir di Bakar, 18 Februari 1845 dan meninggal di Dairi pada 17 Juni 1907. Sebelumnya ia dimakamkan di Tarutung (Tapanuli Utara), lalu dipindahkan ke Soposurung, Balige pada tahun 1953.

2. Ferdinand Lumbantobing

Ferdinand Lumbantobing atau sering pula disingkat namanya sebagai FL Tobing adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia yang diangkat pada tahun 1962. Ia merupakan lulusan sekolah dokter STOVIA pada tahun 1924 dan bekerja di CBZ RSCM, Jakarta. Pada tahun 1943, ia diangkat menjadi Syu Sangi Kai (DPD) Tapanuli dan juga sebagai Chuo Sengi In (DPP).

Setelah kemerdekaan, ia diangkat menjabat beberapa jabatan penting, seperti Menteri Penerangan dan Menteri Kesehatan. Setelah itu ia juga pernah menjabat sebagai Residen Tapanuli dan Gubernur Sumatera Utara.

Ia lahir di Sibuluan, Tapanuli Tengah, 19 Februari 1899 dan meninggal di Jakarta, 7 Oktober 1962. FL Tobing dimakamkan di Desa Kolang, Kabupaten Tapanuli Tengah. Namanya kini diabadikan untuk Rumah Sakit Umum di Sibolga dan bandar udara di Pinangsori.

3. Donald Izacus Panjaitan

Donald Izacus Panjaitan atau yang lebih dikenal dengan nama D.I. Pandjaitan adalah salah satu Pahlawan Revolusi Indonesia. Panjaitan lahir di Balige, 19 Juni 1925 dan meninggal di Lubang Buaya, Jakarta, 1 Oktober 1965.

Panjaitan merupakan salah satu korban pada peristiwa Gerakan 30 September. Ia diculik, dan tidak lama kemudian meninggal dunia. Jenazahnya ditemukan pada tanggal 4 Oktober 1965, dan saat pemakaman kenegaraan hari berikutnya, Panjaitan mendapat promosi anumerta sebagai Mayor Jenderal dan diberi gelar Pahlawan Revolusi.

4. Amir Hamzah 

Amir Hamzah atau dengan nama lengkap Tengkoe Amir Hamzah Pangeran Indra Poetera adalah sastrawan Indonesia angkatan Poedjangga Baroe dan Pahlawan Nasional Indonesia yang diangkat berdasarkan SK Presiden RI Nomor 106/tahun 1975.

Ia lahir di Tanjung Pura, Langkat, Sumatera Utara, 28 Februari 1911, meninggal di Kwala Begumit, Binjai, 20 Maret 1946. Amir telah menerima pengakuan yang luas dari pemerintah Indonesia, dimulai dengan pengakuan dari pemerintah Sumatera Utara segera setelah kematiannya. Pada tahun 1969 ia secara anumerta dianugerahi Satya Lencana Kebudayaan dan Piagam Anugerah Seni.

Pada tahun 1975 ia dinyatakan sebagai salah satu Pahlawan Nasional Indonesia. Sebuah taman dinamakan untuknya, Taman Amir Hamzah, yang berlokasi di Jakarta di dekat Monumen Nasional. Sebuah masjid di Taman Ismail Marzuki yang dibuka untuk umum pada tahun 1977, juga dinamakan untuknya. Beberapa jalan diberi nama untuk Amir, termasuk di Medan,[133] Mataram,[134] dan Surabaya.

5. Adam Malik

Adam Malik atau yang bernama lengkap Adam Malik Batubara adalah mantan Wakil Presiden Indonesia yang ketiga. Ia juga pernah menjabat Menteri Indonesia pada beberapa Departemen, salah satunya sebagai Menteri Luar Negeri.

Ia lahir di Pematangsiantar, Sumatera Utara, 22 Juli 1917 dan meninggal di Bandung, Jawa Barat, 5 September 1984. Adam Malik ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada tanggal 6 November 1998 berdasarkan Keppres Nomor 107/TK/1998.

6. Abdul Haris Nasution

Abdul Haris Nasution adalah salah satu tokoh yang menjadi sasaran pada peristiwa Gerakan 30 September, namun yang menjadi korban adalah putrinya Ade Irma Suryani dan ajudannya, Lettu Pierre Tandean.

Ia lahir di Kotanopan, Sumatera Utara, 3 Desember 1918 dan meninggal di Jakarta, 6 September 2000 paa usia 81 tahun.

Mengingat kiprahnya yang cukup besar dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia, ia kemudian dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada tahun 2002.

7. Kiras Bangun

Kiras Bangun adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia. Ia dianugrahi gelar Pahlawan Nasional pada 9 November 2005.

Ia lahir pada tahun 1852 di Batu Karang, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Perjuanganya dikenal sebagai penentang penjajahan Belanda dengan menggalang kekuatan lintas agama di Sumatera Utara dan Aceh.

Kerjasama yang digalang tersebut menghasilkan pasukan yang disebut pasukan Urung yang beberapa kali terlibat pertempuran dengan Belanda di Tanah Karo.

Kiras Bangun yang dikenal juga dengan nama Garamata di akhir perjuanganya kemudian dibuang ke Cipinang bersama kedua anaknya antara tahun 1919-1926. Kiras Bangun gugur pada 22 Oktober 1942 dan dimakamkan di Desa Batukarang.

8. Tahi Bonar Simatupang

Tahi Bonar Simatupang atau yang lebih dikenal dengan nama T.B. Simatupang pernah ditunjuk oleh Presiden Soekarno sebagai Kepala Staf Angkatan Perang Republik Indonesia (KASAP) setelah Panglima Besar Jenderal Soedirman wafat pada tahun 1950. Ia menjadi KASAP hingga tahun 1953.

Ia lahir di Sidikalang, Sumatera Utara, 28 Januari 1920 dan meninggal di Jakarta, 1 Januari 1990. Pada tahun 2013, T.B. Simatupang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Atas jasanya, pada tanggal 19 Desember 2016, Pemerintah Republik Indonesia, turut mengabadikan beliau di pecahan uang logam, pecahan Rp500.

9. Djamin Ginting

Djamin Ginting adalah seorang tokoh pejuang kemerdekaan menentang pemerintahan Hindia Belanda di Tanah Karo. Dia diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada tanggal 7 November 2014.

Djamin Ginting dilahirkan di desa Suka, kecamatan Tiga Panah, Kabupaten Karo, 12 Januari 1921, ia meninggal di Ottawa, Kanada, 23 Oktober 1974 pada usia 53 tahun.

Ia juga dikenal sebagai sosok pejuang pionir, dimana di kemudian hari anggota pasukan Djamin Ginting ini akan memunculkan pionir-pionir pejuang Sumatera utara dan Karo. Kapten Bangsi Sembiring, Kapten Selamat Ginting, Kapten Mumah Purba, Mayor Rim Rim Ginting, Kapten Selamat Ketaren, dan lain-lain adalah pejuang binaan Djamin Ginting yang kemudian sebagai cikal bakal berdirinya Kodam II/Bukit Barisan yang kita kenal sekarang ini.