Inilah Cerita Warga Asing Mendaki Sinabung Saat Erupsi Tengah Berlangsung

Inilah Cerita Warga Asing Mendaki Sinabung Saat Erupsi Tengah Berlangsung

Foto: Turis Asing Saat Berada di Puncak Gunung Sinabung

Sipayo.com – Aksi dua orang turis asing mendaki Gunung Sinabung saat erupsi tengah berlangsung mendadak heboh dan menjadi perbincangan hangat di media sosial. Kedua orang tersebut nekat berdiri di bibir kawah letusan, ketika gunung yang berada di Kabupaten Karo, Sumatera Utara tersebut tengah memuntahkan material vulkanik.

Dari cerita turis yang memiliki akun Instagram Pixees, menyebutkan bahwa pendakian ke puncang Sinabung merupakan suatu pengalaman yang paling menakutkan dan tidak pantas ditiru oleh pendaki dan siapa pun.

Pendaki tersebut juga menceritakan, ketika tengah melakukan pendakian, keduanya berhasil menginjakkan kaki di ketinggian 7700 kaki di Sinabung, dimana sejak gunung api tersebut tidak pernah berhenti erupsi sejak 2013, maka sejak itu pula tak ada seorang pun yang berhasil menggapai lokasi tersebut.

Dalam keterangan yang ditulis dalam bahasa Inggris itu, pendaki ini mengatakan, untuk mendaki Sinabung dibutuhkan persiapan yang tak sembarangan. “Kami peduli pada keselamatan dan kehidupan kami, banyak hal yang dipertimbangkan dan dipersiapkan sebelum mendaki,” tulis Pixees.

Saat melakukan pendakian, kedua turis mengaku membawa alat pelacak, GPS, topeng debu, kacamata, semprotan air dan masker oksigen. Dalam keterangan yang ditulis dalam bahasa Inggris itu, pendaki ini mengatakan, untuk mendaki Sinabung dibutuhkan persiapan yang tak sembarangan.

“Kami peduli pada keselamatan dan kehidupan kami, banyak hal yang dipertimbangkan dan dipersiapkan sebelum mendaki,” tulis Pixees.

Saat melakukan pendakian, kedua turis mengaku membawa alat pelacak, GPS, topeng debu, kacamata, semprotan air dan masker oksigen. Perjalanan pendaki dari kaki gunung hingga ke puncak dan kembali lagi, ditempuh selama 11 jam. “Dari matahari terbit sampai tenggelam,” katanya.

Banyak sekali rintangan yang harus dihadapi, seperti awan panas, material letusan, dan medan yang vertikal. Bahkan, untuk bernapas pun sulit. Padahal pendakian belum mendekati puncak dan masih di sekitar bekas kawasan hutan yang telah hancur diterjang letusan Sinabung.

“Di salah satu lingkungan yang paling tidak bersahabat. Jalur lama telah tertutup dan semua berwarna putih. Hampir tak bisa diakses ,” katanya.

Semakin mendekati puncak, medan yang ditempuh semakin sulit. Mereka mengaku harus melewati tebing-tebing vertikal dengan sudut kemiringan 50 derajat. Tebing merupakan bekas jalur lava dan material Sinabung.

Setelah mencapai puncak, pemandangan menakjubkan terhampar. Kawah letusan Sinabung menganga tepat di dekat mereka.

“Tak hanya asap hitam saja yang menyembur dari dalam lubang raksasa yang berada di belakang kami, tapi juga batuan yang terlempar karena tekanan dari dalam kawah. Letusan besar yang terdengar seperti meriam. Gunung berapi ini telah menjadi ketakutan tertinggi dan kebanggaan terbesar kami pada saat bersamaan,” kata kedua turis ini.

Di akhir ceritanya, kedua pendaki yang salah satunya diduga bernama Affan Rizvi, menyatakan tidak mengetahui jika pendakian yang mereka lakukan merupakan kegiatan terlarang.

Apalagi Sinabung masih berstatus awas sejak meletus dan menewaskan belasan orang. Tak seorang pun diperbolehkan masuk ke zona merah dalam radius 5 kilometer dari pusat letusan. Dalam catatannya, kedua pendaki itu mengatakan, nekat mendaki karena memang tidak mendapatkan langsung larangan itu.

“Pada saat mempublikasikan video, kami tidak tahu Sinabung dilarang. Ketika kami sampai di dasar gunung berapi (pada tanggal 20/07/17), tidak ada tanda peringatan, tidak ada gerbang, tidak ada penghalang, tidak ada kantor polisi, tidak ada daerah militer … di pintu masuk “zona merah” . Tidak ada informasi tentang Google, dan tidak ada satupun penduduk desa yang memberitahukan bahwa kami membobol area yang dibatasi. Kami tidak tahu risikonya!

Dari informasi terakhir yang saya terima, saya menyadari bahwa Sinabung adalah daerah yang berbahaya, kita beruntung masih hidup … ??Harap jangan memanjat gunung ini, Anda akan berakhir di penjara, atau Anda akan tersesat (tidak ada jalur! ), Luka parah atau parah.”