Jambur Sebagai Identitas Suku Karo, Kenapa Dirubuhkan?

Jambur Sebagai Identitas Suku Karo, Kenapa Dirubuhkan?

Foto: Jambur di Lau Cih yang Diduga Dirobohkan oleh Aparat Keamanan

Sipayo.com – Beredar kabar sebuah bangunan jambur dirubuhkan di Desa Simalingkar A (seputaran Lau Cih), Kecamatan Pancurbatu, Kabupaten Daliserdang, Diduga pelaku yang merubuhkan bangunan adalah aparat keamanan. (Baca: Astaga! Aparat Keamanan Rubuhkan Jambur di Lau Cih)

Berdasarkan informasi yang mengemuka, jambur tersebut diduga dirobohkan oleh aparat kemanan sebagai upaya untuk menggusur masyarakat dari lahan tersebut. Selama ini, lahan di seputaran bangunan jambur yang telah didirikan sejak beberapa tahun silam itu memang sedang dalam sengketa.

Adapun pihak masyarakat setempat mengklaim bahwa tanah tersebut merupakan tanah ulayat Sibayak Lau Cih. Disisi lain, PT Perkebunan Nusantara (PTPN) mengklaim bahwa masih memiliki Hak Guna Usaha (HGU) atas tanah tersebut.

Terlepas persoalan sengketa lahan yang tengah berlangsung alot, sejumlah pegiat budaya Karo turut menyesalkan bangunan jambur turut ikut dirobohkan.

“Jambur itu kan bangunan khas Suku Karo, yang sekaligus sebagai simbol identitas, marwah, dan lambang eksistensi masyarakat Karo. Dimana ada jambur, maka disitu pasti ada orang Karo,” ujar Koordinator Bidang Pemuda dan Mahasiswa Himpunan Masyarkat Karo Indonesia (HMKI) Sumut Alexander Firdaust Meliala.

Alexander melanjutkan, seharusnya ada upaya-upaya lebih elegan dari pihak terkait dalam menyelesaikan persoalan sengketa tanah, tanpa harus ada upaya perobohan bangunan jambur yang justru akan memunculkan persoalan baru.

Lebih lanjut Alexander memaparkan bahwa bangunan jambur sebenarnya pernah pula diapresiasi keberadanya oleh pihak Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB).

“Jambur atau bangunan khas Karo ini sebenarnya pernah pula diapresiasi keberadanya oleh pihak BNPB. Hal ini seiring dengan seringnya bangunan ini dipakai pejabat BNPB dalam dokumen negara dan praktik sehari-hari dalam penanganan bencana sebagai tempat penampungan para pengungsi, ini bertepatan dengan bencana erupsi Gunung Sinabung beberapa waktu lalu,” ujarnya.

Pria yang dikenal bersahaja ini juga mengungkapkan, selain berkaitan dengan budaya masyarakat Karo, bangunan jambur juga sebenarnya bagian dari aset bangsa yang sangat berharga.

“Sebab sebagaimana diketahui, wilayah Negara Indonesia sangat rentan dengan berbagai bencana alam. Jambur merupakan salah satu tempat yang dapat dimanfaatkan sewaktu-waktu bila bencana datang,” tutupnya.