Pedagang Pakaian Bekas Kembali Marak di Terminal Berastagi

Pedagang Pakaian Bekas Kembali Marak di Terminal Berastagi

Sipayo.com – Menjamurnya pedagang kaki lima (K5) musiman di kawasan Jalan Veteran dan Terminal Berastagi, Kabupaten Karo, dinilai sangat merusak  estetika kota wisata berhawa sejuk ini. Padahal beberapa waktu lalu Pemkab Karo telah melakukan penertiban di kawasan ini. Namun, hal itu sepertinya hanya dilakukan setengah hati.

Persoalan ini telah lama menyebabkan keresahan bagi masayarakat sekitar. Berbagai keluhan pun timbul seperti, sulitnya bagi para pejalan kaki untuk melintas di trotoar yang dijadikan tempat menjajakan dagangan oleh para PKL yang umumnya berasal dari luar Kabupaten Karo tersebut. Selain itu, pemilik rumah di kawasan jalan itu juga terkendala untuk melakukan aktivitas sehari – harinya.

Parahnya lagi, lalu lintas disepanjang jalan yang merupakan jalan protokol ini juga kerap terjadi kemacetan. hal ini disebabkan sikap acuh tak acuh pedagang yang dominan menjajakan pakaian bekas (monza) hingga ke badan jalan.

“Masalah pedagang kaki lima ini merupakan permasalahan klasik di Kota Berastagi. Pihak Satpol PP Pemda Karo selalu bermain kucing – kucingan dengan para pedagang. Kita akui memang ada penertiban, namun setelah itu tak menunggu lama para PKL akan menjamur kembali. Seperti halnya yang terjadi sekarang ini,”ujar Abi Sembiring warga Berastagi, Rabu (19/7).

Dikatakan lebih lanjut, Pemda Karo tampaknya kurang perduli dengan keindahan dan keasrian kota Berastagi sebagai salah satu destinasi wisata di Kabupaten Karo. Hal ini jelas tercermin dari sikap pembiaran yang dilakukan terhadap para PKL.

“Bukan menuduh, atau memang sudah ada yang disetorkan para pedagang kepada oknum – oknum tertentu sehingga pertumbuhan PKL ini menjadi tumbuh subur di tengah Kota Berastagi. Untuk itu diminta agar pihak Pemda Karo segera melakukan penertiban kawasan yang dijadikan tampat berdagang para PKL,”katanya.

Amatan di seputar terminal Berastagi, fungsi terminal sebagai tempat menaikkan dan menurunkan penumpang angkutan  tidak tertata dengan baik. Petugas perhubungan tidak berdaya menindak pedagang loak yang telah merubah fungsi terminal menjadi pasar monza.

Menurut seorang pengemudi Boby Ginting, bila ada pedagang yang berjualan di terminal, tentunya sangat mengganggu aktivitas kendaraan yang keluar masuk terminal.  Karena itu, ia mengharapkan Dinas Perhubungan Pemkab Karo berperan aktif untuk mengatur area terminal agar tercipta lalu lintas yang tertib dan tertata.

“Satpol PP pada Bulan April 2017 telah menertibkan pedagang loak di seputaran  terminal Berastagi. Tapi saat ini  lokasi tersebut kembali dipenuhi pedagang loak (monza),”keluhnya.

Ditambahkannya, yang lebih mengherankan lagi  tidak ada yang berusaha untuk menertibkannya. Baik petugas pasar, Dinas Perhubungan maupun Satpol PP terkesan membiarkan kesemrawutan terminal Berastagi. Tidak jelas siapa yang memberi izin pedagang loak berjualan terminal Berastagi maupun di jalan .

Plt. Kepala Satpol PP, Parlindungan Karo-Karo  ketika dihubungi melalui telepon selulernya mengatakan, yang memiliki wewenang untuk menertibkan pedagang loak di terminal Berastagi adalah Dinas Perhubungan. “Satpol hanya bersifat membantu untuk menertibkan apabila diperlukan. Persoalan ini akan disampaikan ke Dinas Perhubungan. Terima kasih atas informasinya,”kata Parlindungan.

Sementara itu, Plt. Kadis Perhubungan Kabupaten Karo Rajin Sinuraya  mengakui ada beberapa titik pedagang loak menjajakan dagangannya di terminal Berastagi. Terkait hal ini, dirinya menjanjikan berkoordinasi dengan Satpol PP agar dalam waktu dekat menertibkan pedagang pakain bekas tersebut. (Ebp)

Keterangan foto : Kondisi kesemerawutan kawasan Terminal Berastagi yang dipenuhi pedagang kaki lima. Sebelumnya Pemda Karo telah melakukan penertiban di kawasan ini. Namun hal itu tampaknya hanya dilakukan setengah hati.