Ratusan Siswa Masuk Sekolah Negeri di Medan Diduga Melalui Jalur Ilegal

Ratusan Siswa Masuk Sekolah Negeri di Medan Diduga Melalui Jalur Ilegal

Foto: Ilustrasi Siswa Sekolah SMA, SMK

Sipayo.com – Belum lagi tuntas kasus anak seorang kapolsek, dan anak seorang pengusaha masuk ke SMA Negeri favorit di Medan, dengan menggunakan surat miskin, kini dunia pendidikan di Medan kembali heboh, dua sekolah SMA Negeri di Medan menyediakan kelas ‘Siluman’, untuk ratusan siswa yang masuk secara illegal. Tentunya dengan menyogok 5 setengah juta, hingga 10 juta rupiah per siswa.

Pemandangan tak lazim tampak di SMA Negeri 2 Medan, di Jalan Adi Sucipto Medan. Di sekolah ini, terdapat 3 kelas “Siluman”, menampung siswa yang masuk tanpa melalui prosedur pendaftaran masuk. Ruang serbaguna gedung sekolah ini disekat menjadi 3 bagian, untuk dijadikan ruang kelas khusus bagi siswa yang bukan dari jalur resmi.

Pihak sekolah tak bersedia memberi keterangan kepada wartawan, terkait keberadaan siswa berjumlah 136, di luar jumlah kuota penerimaan siswa yang telah ditetapkan. Sekolah ini berkilah sedang melaksanakan pemotongan hewan kurban bersama, sehingga kegiatan belajar-mengajar pada Senin 4 September kemarin, ditiadakan.

Pengawas sekolah unit pelaksana teknis, UPT Dinas Pendidikan Sumut, Menemukan keberadaan siswa di luar ketentuan. Itu dipastikan tidak memiliki data pokok pendidikan, atau dapodik, serta belum memulai kegiatan belajar mengajar.

Di SMA Negeri 2 Medan, terdapat 136 siswa yang diduga masuk secara ilegal, sementara daya tampung kuota perserta didik baru yang ditetapkan adalah 432 siswa.

Komisi E DPRD Sumut, meminta pemerintah segera turun tangan menyelesaikan permasalahan ini. Selain terancam keluarga dari sekolah, nasip peserta didik ilegal ini dipastikan tidak diakui oleh negara.

Pemandangan yang sama juga terjadi di SMA Negeri 13 Medan. Namun untuk mengelabui publik, pihak sekolah sengaja mencampurkan siswa jalur ilegal, sekelas dengan siswa jalur resmi.

Peserta didik melalui jalur ilegal di sekolah ini berjumlah 77 orang. Padahal, daya tampung siswa baru yang ditetapkan berjumlah 288 orang. Disini, pengawas sempat menanyai langsung proses penyisipan siswa baru secara langsung.

Kedari jelas telah melanggar peraturan gubernur nomor 52 Tahun 2017, tentang tata cara penerimaan peserta didik baru pada SMA Negeri dan SMK Negeri, Peserta didik yang databesnya tidak pernah terimput dalam pendataan skala Nasional Terpadu ini, mengaku, membayar uang dengan jumlah bervariasi, mulai 5 setengah hingga 10 juta rupiah.