Derita WNI yang Dibunuh di Kamboja, Dipukuli hingga Mau Diceburkan ke Jurang Oleh Suami Bulenya

Derita WNI yang Dibunuh di Kamboja, Dipukuli hingga Mau Diceburkan ke Jurang Oleh Suami Bulenya

Foto: Enen Cahayati (Net)

Sipayo.com – Seorang warga negara Indonesia, Enen Cahyati (48) yang diduga dibunuh suami keduanya yang berkewarganegaraan Amerika Serikat, Bilal Abdul Fateen (66), kerap dipukuli hingga pernah dipaksa mengemis agar bisa liburan di Bali pada awal 2018.

Hal itu diungkapkan putri sulung Enen Cahyati, Insya Maulida alias Echa (25), di rumah duka, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Rabu (28/3/2018). Menurut Echa, kejadian itu diketahuinya dari pengakuan ibundanya.

“Pernah mamah saya disuruh minta-minta, ke lembaga-lembaga di daerah Condet, ke Dompet Dhuafa, minta-minta. Itu buat biayain dia ke Bali dibiayain Dompet Dhuafa. Mamah saya yang disuruh minta-minta. Mamah saya disuruh ngemis, Mas,” ujarnya.

Namun nahasnya, bukan liburan seperti yang dijanjikan oleh Bilal yang didapat, justru Enen kerap dipukuli selama beberapa hari berada di Bali hingga akhirnya dia melarikan diri.

“Saya dapat telepon waktu mama saya ada di sebuah terminal di sana. Kata yang menelepon, ibu saya sudah seharian di sana nangis-nangis,” kata Echa.

Selain di Bali, Enen juga pernah dipaksa untuk mengemis sewaktu berada di Jawa Timur.

“Itu cerita juga sama saya,” ujarnya.

Tak hanya mengemis, Echa juga menceritakan bahwa ibunya juga harus berutang ke koperasi dan home credit untuk membiayai uang jaminan Pembebasan Bersyarat sewaktu Bilal ditahan di Rutan Salemba karena kasus KDRT dengan istri sebelumnya.

Bahkan, ibundanya juga dipaksa oleh Bilal untuk menanggung pembayaran kredit sepeda motor hingga dipaksa menanggung biaya perbaikan sebuah mobil yang pernah ditabrak oleh Bilal.

“Utang sama koperasi Rp 10 juta, sama home credit Rp 11,5 juta, sama uang yang mobil itu Rp 10 juta. Motor nggak tahu berapa, nggak ada yang tahu angsurannya berapa,” ungkap Echa.

Echa juga mengungkapkan, ibunya juga menggunakan uang yang diberikan ayah kandungnya atau suami pertama Enen, Gerry, untuk membiayai makan sehari-hari Bilal selama di penjara.

“Selama dia di penjara, ayah saya yang ngasih makan mamah saya di sini. Bilal emang ngasih makan? Enggak. Uang dari ayah saya buat ngempanin Bilal di penjara, kurang apa coba?” ucapnya dengan nada suara kesal.

Diseret ke Jurang

Sepengetahuan Echa, sebelum ke Kamboja, ibunya juga pernah diajak oleh Bilal ke Bandung, Bali, dan Jawa Timur. Di tempat-tempat tersebut ibunya juga mendapat kekerasan dari Bilal.

Di Jawa Timur ibunya pernah disekap di kamar mandi dan disiram dengan air dingin terus-menurus oleh Bilal. Di Bandung, ibunya juga pernah diseret untuk dijerumuskan ke jurang.

“Pernah waktu di Bandung ada saksinya, RW situ dateng, katanya mamah saya diseret malem-malem mau diceburin ke jurang,” ungkap Echa sambil memukul-mukul kumpulan dokumen milik Bilal yang ada di depannya.

Setelah keduanya memutuskan menikah pada tahun 2015 di Rutan Salemba, kekerasan yang dilakukan oleh Bilal semakin intens terjadi, tidak terkecuali di tempat umum.

Enen juga pernah diseret-seret di jalan di kawasan Blok M.

“Ada juga yang ngeliat dia lagi di Blok M, mamah saya lagi diseret-seret katanya,” ujar Maulida.

Melihat kekerasan yang dialami ibunya, Maulida bahkan mengira Billa memiliki kepribadian ganda dalam dirinya.

“Mamah saya cerita sama saya, dia suka ngomong sendiri, ngomong kayak percakapan dengan diri sendiri,” ujar Maulida.

Tak hanya itu, lanjut Echa, ibundanya pernah dipukuli hingga berdarah-darah ketika tengah melaksanakan ibadah salat di rumah. Perilaku kasar itu membuat dagu Enen sobek dan berdarah.

“Ibu saya itu lagi salat aja dipukulin sampe beradarah-darah, ke mukena itu darahnya,” kata Echa sambil menunjukkan foto ketika ibunya harus menerima perawatan di sebuah klinik tersebut.

Echa menceritakan bahwa selama ini ibunya bisa menerima perlakuan tersebut karena jatuh cinta dengan Bilal. Selain itu, status ibunya yang juga menjadi penjamin pembebasan bersyarat bagi Bilal.

Bahkan dari seorang teman ibunya, Echa mendapat cerita bahwa ibunya sempat diancam oleh Bilal yang akan membunuh seluruh keluarganya jika ibunya melapor. Menurutnya, ibunya takut jika ia melaporkan perlakuan Bilal ke polisi justru ibunya yang bisa terkena jeratan hukum.

“Temen mamah saya pernah cerita tuh, mama saya diancam. Dia bilang, ‘kalau misalnya kamu sampai bongkar habis keluarga kamu’. Karena memang Bilal tuh punya duit,” ungkap Echa.

Echa pun tidak mau melaporkan kekerasan yang dilakukan oleh Bilal kepada ibunya karena rasa sayang kepada ibunya. Dia takut melukai hati ibundanya jika mempolisikan Bilal.

“Kalau saya sayang sama mamah saya, karena saya tahu mamah saya cinta sama dia,’ ujar Echa sambil menunjukkan foto mamanya ketika masih hidup.

Namun Echa mengaku tidak takut sama sekali dengan Bilal. Bahkan Bilal yang tidak bisa berbahasa Indonesia itu kerap disumpahserapahi oleh Echa jika berada di rumahnya.

Selama masih hidup, Enen tinggal bersama ibunya yang telah berusia lanjut beserta Echa dan seorang anaknya. Echa mengatakan bahwa kemungkinan hal tersebut lah yang membuat Bilal berani semena-mena dengan ibunya.

“Tinggal di sini cuma sama saya, nenek, sama anak saya yang masih kecil. Mungkin itu yang bikin Bilal bisa semena-mena sama Mamah,” ungkap Echa.

Mereka tinggal di sebuah rumah di Jalan Barkah nomor 06, Ciganjur, Jagakarsa. Pagar rumah tersebut tampak tertutup seng setinggi sekitar dua meter.

Terdapat pohon jambu mede di pekarangan rumahnya dan terdapat beberapa pot tanaman yang tergantung di terasnya. Sebuah jendela kamar yang menurut Echa merupakan kamar ibunya yang selalu ditutup jika ada Bilal di muka rumah kini tampak terbuka.

Di depan kamar ibunya tersebut tampak sebuah gembok berukuran sebesar sekepalan tangan orang dewasa. Pintu kamar tersebut tampak koyak di beberapa bagiannya.

Di balik pintu tersebut terlibat beberapa barang seperti selimut dan bantal guling yang berantakan. Di dalam rumah tersebut juga tampak buku-buku bernuansa agama Islam yang terpajang di atas rak di lorong menuju kamar mandi.

Menurut Echa, keluarganya memang merupakan keluarga yang religius dan ibunya pun merupakan sosok yang religius. Bahkan ayah Echa merupakan seorang pendakwah yang telah berdakwah selama dua puluh tahun.

Ayah kandung Echa, Gerry sebenarnya bercerita cukup banyak tentang sosok istrinya. Namun ia menolak keterangannya dipublikasikan dengan alasan ia tidak suka dengan publisitas.