Kisah Mayjen Raja Kami Sembiring Meliala yang Pernah Kecam Harmoko

Kisah Mayjen Raja Kami Sembiring Meliala yang Pernah Kecam Harmoko

Sipayo.com – Kabar duka kini sedang menyelimuti keluarga besar Mayor Jenderal (Purn) Raja Kami Sembiring Meliala. Pasalnya, salah satu sosok putra terbaik dari Tanah Karo ini, meninggal dunia pada usia ke-79 di Jakarta, Sabtu (17/3/2018).

Kabar meninggalnya Raja Kami Sembiring Meliala diketahui berdasarkan informasi yang beredar di media sosial Facebook. Salah satu pengguna Facebook yang menyebutkan meninggalnya tokoh masyarakat Karo tersebut adalah Erdian Sembiring Kembaren.

“Turut berdukacita atas berpulangnya salah satu putra terbaik Karo, Mayjen (Purn) Raja Kami Sembiring Meliala. Selamat jalan dalam keabadian kembali kepangkuan Sang Khalik. Rest in Peace Jenderal,” tulisnya.

Sosok Raja Kami Sembiring Meliala, merupakan salah satu orang Karo yang sukses meniti karir sebagai prajurit TNI. Puncak karirnya adalah sebagai Pangdam Komando Daerah Militer XVII/Cenderawasih dari tahun 1982 hingga tahun 1985.

Selain dikenal sebagai sosok berkarir cemerang di TNI di masa orde baru, Raja Kami Sembiring Meliala juga dikenal sebagai politisi, yang diawalinya melalui Golongan Karya pada tahun 1988. Ia juga sempat menduduki anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR-RI) dan dipercaya sebagai Ketua Komisi II yang membidangi hukum dan dalam negeri.

Tampilnya Harmoko sebagai Ketua Umum Golkar periode 1993-1998 dalam Musyawarah Nasional (Munas) Partai Golkar di Jakarta, tepatnya pada bulan Oktober 1993, sempat membuat keramaian di panggung politik Indonesia.

Harmoko sekaligus mampu membuka lembaran baru dalam sejarah Golkar, karena berhasil menjadi orang sipil pertama yang duduk di puncak pimpinan partai beringin tersebut. Harmoko juga bahkan tak sempat berduel di area Munas. Ia menjadi calon tunggal, karena sebelum tahap pencalonan berlangsung, Dewan Pembina Golkar yang diketuai Soeharto mengharapkan agar peserta Munas memilih Harmoko.

Tercatat, dalam AD/ART Golkar saat itu, Dewan Pembina berwenang membatalkan keputusan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Golkar, membekukan sementara kepengurusan DPP, dan mengundang Munas luar biasa.

Ketika Harmoko, yang juga menjabat Menteri Penerangan saat itu meluncur tanpa hambatan sebagai Pimpinan Golkar, membuat suara tak puas sempat terdengar dari lingkungan ABRI.

Salah satu sosok yang bersuara tak puas adalah Mayor Jenderal Raja Kami Sembiring Meliala. Saat itu ia tercatat sebagai anggota pimpinan Fraksi ABRI di DPR. Pernyataan Raja Kami pun membuat banyak orang terperangah.

“Kendati kalah dalam perebutan puncak Golkar, ABRI tak akan melepas kursi presiden ke sipil karena rakya masih menghendaki tokoh militer sebagai presiden mendatang,” ujarnya sebagaimana dikutip dari Gatra terbitan 5 Juli 1995.

Pada bagian lain, Raja Kami juga menyebut bila Golkar sudah dikuasi orang lain, sehingga lebih baik ditinggalkan. “Kalau Golkar sudah dikuasai orang lain, kan lebih baik kita tinggalkan,” ujarnya. Belakangan, Raja Kami juga secara terbuka mengecam Harmoko.

Sontak saja merebak isu bahwa ABRI tak rela dikalahkan oleh sipil. Tentu saja Panglima ABRI Jenderal Feisal Tanjung saat itu segera meluruskannya. Lewat siaran pers, Pangab menegaskan sikap ABRI yang mendukung sepenuhnya hasil Munas Golkar.

“Karenanya, semua pernyataan yang tak senafas dengan hal di atas tak bisa dianggap sebagai sikap ABRI,” begitu pernyataan Panglima ABRI dalam siaran pers tersebut. Tampaknya sikap Panglima ABRI itu berperan dalam menjaga keutuhan Golkar.

Pada bulan Februari tahun 1994 karier politik Raja Kami Sembiring Meliala di Golkar pun berhenti. Dia pun tidak terpilih lagi sebagai anggota DPR RI untuk periode kedua.

Justru empat tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1998, ia kembali muncul di kancak politik ketika bergabung dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Raja Kami kembali terpilih menjadi anggota DPR sebagai Wakil Ketua Komisi I yang membidangi Pertahanan Keamanan dan Luar Negeri. Ia terpilih sebagai utusan PDIP dari Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara.