Melihat Munculnya Manusia Gerobak di Ibu Kota Selama Bulan Ramadhan

Melihat Munculnya Manusia Gerobak di Ibu Kota Selama Bulan Ramadhan

Foto: Ilustrasi 

Sipayo.com – Sebuah gerobak cukup besar yang terbuat dari kayu dilapisi seng bekas, terparkir di pinggir Jalan Kesehatan, Pasar Rebo, Jakarta Timur. Gerobak tersebut berisikan berbagai kardus dan botol bekas. Beberapa ruang di dalam gerobak tersebut disisakan untuk beristirahat sang pemilik.

‎Disebelah gerobak yang terparkir tersebut, terdapat seorang wanita dewasa sedang bercanda dengan dua anaknya. Wanita tersebut bernama Hamengkiarti (36). Wanita kelahiran Jawa Tengah ini terpaksa harus mengadu nasib di Jakarta dengan memungut botol ataupun kardus bekas.

Hamengkiarti sebenarnya memiliki tempat tinggal di daerah Jakarta Timur. Dia mengontrak bersama suaminya. Namun, terkadang Hamengkiarti harus tidur atau beristirahat di gerobak bersama anaknya jika perjalanan mencari botol sudah terlalu jauh.

“Dulu belum ngontrak, masih tinggal di gerobak, tapi sekarang ya dicukupin buat ngontrak,” kata Hamengkiarti.

Dia mengaku sering ‘kucing-kucingan’ dengan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) saat memarkirkan gerobaknya dan istirahat di tepian jalan. Pasalnya, apabila tertangkap razia Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS), maka harus mengeluarkan uang untuk dapat keluar dari panti sosial.

“Ya emang kemarin ada satpol PP, tapi lingkupannya sama Depsos, tapi pinter-pinteran kita (kabur). Alhamdulilah belum pernah (ketangkep), jangan sampe. Karena mahal nebusnya,” terangnya.

Hamengkiarti sendiri mengaku sudah hampir 15 tahun menjadi pemulung. Menurutnya, momen Bulan Ramadan memang menjadi pintu rezeki yang cukup melimpah untuk dirinya. Sebab, ada saja orang yang memberi sekadar makanan atau uang saat dia memulung.

“Ya namanya berkah Ramadan, alhamdulilah ada aja, berkah milik kita itu,” serunya.

Fenomena munculnya manusia gerobak sendiri bukan hanya terjadi pada tahun ini saja. Pandu (29), warga Jakarta Timur yang berada di kawasan Jalan Kesehatan mengaku kerap melihat pengemis atau juga manusia gerobak berada di pinggir jalan sekitaran Jakarta.

Terlebih, manusia gerobak tersebut menjamur dijalanan Ibu Kota mulai dari sehabis Isya hingga menjelang sahur. “Ya sekarang sih kalau diperhatiin udah mulai berkurang ya. Kalau dulu, tahun-tahun lalu deh, bukan cuma daerah sini, Cawang, Mampang, Pancoran, ‎itu banyak yang udah nunggu (dikasih makanan),” terangnya.

Pandu menceritakan pernah memberikan makanan ke PMKS saat melakukan kegiatan Sahur On The Road (SOTR). Diakui Pandu, bukan hal sulit untuk mencari tunawisma disekitaran Jakarta. Sebab, saat bulan puasa, para manusia gerobak serta pengemis menjamur di pinggir jalan.

“Kalau dulu iya, SOTR nih, itu pasti banyak dipinggir jalan, cuma sekarang kayanya SOTR udah enggak boleh, jadi berkurang (pengemisnya) kali ya,” ungkapnya.

Bukan hanya Jakarta, fenomena munculnya manusia gerobak ternyata juga terlihat di kawasan Bintaro Jaya, Tangerang Selatan. Rohim (39), pria asal Boyolali terlihat menyusuri jalanan kawasan Bintaro Jaya sambil mendorong gerobak buatannya, bersama rekannya, Tasim.

Rohim mengakui memang tidak memiliki tempat tinggal di daerah Tangerang Selatan. Terkadang, Rohim harus tidur di gerobak buatannya ataupun di pinggir pertokoan yang sudah tutup saat sudah lelah berjalan mencari botol serta kardus bekas.

“Kalau di kampung ada (rumah). Disana kan ada anak istri, kalau disini kan kita kerja, kerja mah apa aja yang penting halal,” ucap Rohim.

Rohim sendiri baru saja hijrah ke daerah Tangerang Selatan. Sebelumnya,‎ dia memulung di daerah Jakarta Selatan. Rohim sudah meninggalkan kampung halamannya untuk mengadu nasib di Jakarta sekira 4 tahun.

“Saya diajak teman kesini, kemarinan di Jakarta tiga tahunan. Di kampung ga ada kerjaan. Anak sekolah, ibu saya sakit,” terangnya.

Dijelaskan Rohim, berkah Ramadan memang sering terasa menghampiri dia dan kawan-kawannya. Rohim mengaku sering mendapatkan makanan ataupun uang dari warga yang melintas saat dia sedang memulung.

“Tapi kalau saya kan enggak minta. Kalau ada yang ngasih ya saya terima. Beda sama yang emang sengaja nunggu di pinggir jalan,” tukasnya.

Munculnya manusia gerobak di daerah Jabodetabek‎ ditanggapi Sosiolog asal Universitas Nasional (Unas), Sigit Rochadi. Kata Sigit, pengemis ataupun manusia gerobak muncul pada saat bulan Ramadan karena mencari momentum untuk mengeruk rezeki.

“Mereka memanfaatkan momen puasa untuk meraih rezeki. Nanti di hari Jumat, mereka akan pindah ke mesjid. Mereka tidak semuanya orang miskin,” kata Sigit.

Sigit juga menjelaskan beberapa faktor munculnya pengemis atau manusia gerobak khususnya di Jakarta. Menurut Sigit, salah satu faktor adanya manusia gerobak yakni karena mentalitas yang buruk masyarakat kalangan bawah. Mereka mencontoh kalangan atas yang juga bermentalitas buruk seperti bertindak koruptif.

“Mentalitas buruk, malas, dan mencari jalan pintas dengan memperdaya orang lain termasuk memanipulasi identitas diri telah menggejala di kalangan kelas bawah. Mentalitas semacam itu dia belajar dari perilaku elit dan birokrasi yang memanfaatkan momentum dan menerabas seperti korupsi,” terangnya.

Sumber: Okezone