Pengamat Sebut PDIP Kalah di Pilgub Sumut Karena Ego Elit Dipaksakan

Pengamat Sebut PDIP Kalah di Pilgub Sumut Karena Ego Elit Dipaksakan

Pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Sumatra Utara (UMSU), Arifin Saleh Siregar, menyebutkan kekalahan pasangan nomor urut 2, Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus (Djoss), sangat erat dengan ego yang dipaksakan petinggi PDIP.

“Megawati (Ketua Umum PDIP) terlalu memaksakan kehendak memajukan kadernya di Pilgub Sumut. Sementara elite parpol tidak dapat memberi informasi valid mengenai kondisi dan karakteristik warga Sumut,” kata Arifin, Kamis (28/6).

Pemilihan Djarot sebagai calon gubernur sebenarnya masih memungkinkan jika dibantu wakil yang mampu mengangkat elektabilitasnya. Menurut Arifin, berkaca dari dua kekalahan PDIP di Pilgub Sumut sebelumnya, dua tokoh yang mereka usung sebagai calon gubernur, Tritamtomo dan Effendi Simbolon, sebenarnya cukup ternama walau bukan warga Sumut.

Namun, calon wakil yang dipilih, Benny Pasaribu dan Djumiran Abdi, tidak memiliki elektabilitas yang mumpuni untuk mendongkrak suara pasangan itu. “Ego parpol terlalu dikedepankan dengan memasangkan Djarot dengan Sihar,” ujar Arifin.

Selain tidak memiliki elektabilitas yang mumpuni, pemilihan Sihar Sitorus sebagai calon wakil gubernur juga dinilai justru memperkuat politik identitas. “Apalagi mereka muncul di saat momentum tidak pas, di saat semangat keumatan tengah menggebu-gebu,” kata Dekan FISIP UMSU itu.

Sebagaimana diketahui, berdasarkan perhitungan cepat (quick count) Pilgub Sumut 2018, sudah dapat dipastikan pasangan Djarot-Sihar yang diusung PDIP akan kalah atas pasangan calon Eddy Rahmayadi-Musa Rejekshah.