Evakuasi KM Sinar Bangun Resmi Dihentikan, Ratna Sarumpaet Ancam Akan Lakukan Hal Ini

Evakuasi KM Sinar Bangun Resmi Dihentikan, Ratna Sarumpaet Ancam Akan Lakukan Hal Ini

Foto: Ratna Sarumpaet 

Sipayo.com – KM Sinar Bangun tenggelam di perairan Danau Toba, Senin (18/6). Pemerintah kemudian melakukan operasi terpadu untuk mencari korban. Operasi terpadu dilakukan oleh Basarnas, TNI, Polri, BPBD, dan sejumlah instansi terkait.

Pada hari selasa (3/7) pencarian korban Kapal Motor Sinar Bangun resmi dihentikan. Meski dihentikan, Posko Basarnas tetap disiagakan untuk membantu keluarga korban. Acara doa bersama dan tabur bunga sebagai tanda mengikhlaskan para korban juga sudah dilakukan di Pelabuhan Tigaras, Simalungun, Sumatera Utara.

Namun penghentian operasi pencarian korban ini masih ditentang oleh aktivis kemanusiaan, Ratna Sarumpaet. Ia mengaku akan membawa masalah ini ke DPR. Dia akan terus memperjuangkan supaya jenazah korban dapat dikembalikan kepada pihak keluarga.

“Saya sih masih akan fight. Aku akan bawa ke Jakarta dan itu harus menjadi percakapan di Jakarta, terutam di DPR,” ungkat Ratna kepada wartawan, Selasa (3/7).

Ratna juga menuturkan, dirinya akan mendesak DPR untuk membujuk pemerintah agar terus melanjutkan pencarian korban. Sebab dengan kordinat tenggelamnya kapal yang sudah diketahui tidak ada alasan untuk tidak mengangkat para jenazah korban.

Selain itu, lanjutnya, alasan Basarnas yang menyebut mahalnya biaya evakuasi bangkai kapal dan para jenazah dianggap tidak relevan. Sebab hal itu bukan ranah Basarnas.

“Saya dengar Basarnas mengeluh mahal sekali (untuk evakuasi dari dasar danau), kan tugas dia (Basarnas) menyelamatkan korban bukan cari duit, jadi jangan ngomong yang gitu-gitu,” tegas Ratna.

Lebih jauh Ratna menilai, pengangkatan jenazah para korban merupakan hal yang paling penting. Karena setidaknya dapat mengurangi duka para keluarga. Hal itu tidak bisa digantikan hanya dengan uang ganti rugi maupun pembangunan sebuah monumen peringatan kecelakaan naas ini.

“Ini warga negara kita yang jadi korban. Yang ada di sana itu juga saudara kita. Nggak bisa ganti Rp 60 juta lalu bikin monumen, duka orang itu nggak bisa dibayar dengan itu. Dan ini kan menyangkut nama (baik negara) kita,” imbuhnya.

Selain itu, tegas Ratna, tragedi kecelakaan KM Sinar Bangun ini dapat menjadi aib bagi negeri ini jika tidak ditangani dengan baik. Dunia internasional disebut akan mengecam Indonesia karena membiarkan para jenazah membusuk di dasar Danau Toba.

“Untuk masalah kemanusiaan kita boleh bekerjasama dengan asing, justru kalau kita enggak minta tolong ke mereka lalu tercium beritanya kita membiarkan bangkai di tengah danau orang marah lah,” pungkas Ratna.

Sebelumnya, pencarian korban KM Sinar Bangun resmi dihentikan. Alasannya karena posisi kapal karam terlalu dalam di kedalaman 450 meter, sehingga sulit diangkat ke permukaan. Selain itu pertimbangan lain juga terkait mahalnya biaya, serta dibutuhkan alat super canggih untuk malaksanakan evakuasi.

Maka sesuai perundingan antara pemerintah dengan keluarga korban, seluruh pihak sepakat jika pencarian dihentikan. Dan seluruh puing-puing kapal beserta korban dibiarkan di dasar Danau Toba.