Walhi Bersama 36 Pengacara Gugat Ijin Lingkungan PLTA Batang Toru

Walhi Bersama 36 Pengacara Gugat Ijin Lingkungan PLTA Batang Toru

WALHI Sumatera Utara (Foto: Istimewa)

Sipayo.com – Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) bersama 36 pengacara menggugat ijin proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang dikerjakan PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE) karena dinilai akan memberikan dampak buruk bagi lingkungan serta masyarakat.

“Menghentikan proyek ini adalah pilihan tepat karena lebih banyak memberikan dampak buruk bagi lingkungan serta masyarakat,” ujar Direktur WALHI Sumatera Utara Dana Prima Tarigan dalam siaran pers yang diterima sipayo.com, Rabu (8/8/2018).

Dana Tarigan menambahkan bahwa bentang alam Batang Toru selama ini dikenal sebagai habitan satwa liar dan tumbuhan yang dilindung, serta terancam punah seperti harimau sumatera, beruang madu, tapir, kambing hutan, burung enggang gading, dan burung kuau.

“Batang Toru juga dikenal sebagai habitat kera besar yang menjadi kebanggaan Indonesia dan terancam punah. Selain itu juga masyarakat yang selama ini mengelola hutan dan DAS secara lestari sebagai sumber penghidupan mau beralih ke mana? Artinya tidak ada pilihan lain selain menghentikan proyek ini,” tegas Dana.

Saat ini WALHI Sumatera Utara bersama 36 pengacara tengah mendaftarkan gugatan terkait ijin lingkungan dari PT NSHE. “Walhi melihat ijin PT NSHE bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. Salah satunya Undang-undang Pengelolaan dan Perlindungan Lingkungan Hidup serta peraturan-peraturan lain,” ujarnya lebih lanjut.

Selain itu, WALHI melihat terdapat potensi kerusakan lingkungan, konflik masyarakat, dan risiko punahnya orangutan akibat kehilangan dan fragmentasi habitat. Selanjutnya, WALHI juga melihat potensi bencana ekologis karena kawasan tersebut merupakan episentrum gempa bumi di Sumatera Utara yang sangat dekat dengan patahan tektonik utama.

Sebagaimana diketahui, PLTA Batang Toru digadang-gadang sebagai PLTA terbesar di Pulau Sumatera dengan kapasitas 510 MW di mana pembangunannya meliputi tiga kecamatan di Tapanuli Selatan, yakni Sipirok, Marancar dan Batang Toru.

Wilayah pembangunan PLTA ini berada di kawasan hutan Batang Toru yang menjadi habitat berbagai jenis satwa langka, termasuk Orangutan Tapanuli. Sejak dicanangkan pada tahun 2016, pembangunan PLTA ini direncanakan akan selesai beroperasi pada 5 tahun mendatang.