Gerindra Respon Keputusan Demokrat yang Bebaskan Kader Pilih Capres

Gerindra Respon Keputusan Demokrat yang Bebaskan Kader Pilih Capres

Sipayo.com – Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Gerindra Ahmad Muzani enggan ambil pusing mengenai Partai Demokrat yang membiarkan kadernya untuk memilih pasangan capres-cawapres pilihan pribadi saat hari pencoblosan 17 April 2019. Menurut dia pihaknya tidak ingin selalu memaksa kader partai koalisi untuk mendukung capres-cawapres Prabowo-Sandi.

“Kadang-kadang ya kita harus memberikan toleransi terhadap keputusan partai politik tersebut untuk memberi kelonggaran kepada partainya. Karena itu ya kita tidak maksa-maksa lah. Kalau mau berjuang memenangkan Prabowo-Sandi mari bersama-sama, tapi kalau kemudian cara memenangkannya mereka ada cara sendiri, ya mudah-mudahan berhasil,” kata Muzani di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa 13 November 2018.

Muzani mengatakan, memang seharusnya setiap kader mematuhi keputusan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) partainya. Termasuk, keputusan Demokrat yang sudah resmi mendukung Prabowo-Sandi.

“Dan konsekuensi dari keputusan politik partai di tingkat pusat mestinya itu diikuti oleh seluruh eksponen partai di semua tingkatan dan dipatuhi oleh seluruh calon anggota DPR juga di semua tingkatan,” ujarnya.

Wakil Ketua MPR ini mengetahui, pembebasan arah dukungan ini memiliki efek terhadap militansi kader Demokrat dalam memenangkan Prabowo-Sandi. Meski begitu, Muzani menyerahkan permasalahan itu menjadi tanggung jawab Demokrat.

“Sepenuhnya menjadi cara Demokrat untuk mengambil langkah politik kami tidak bisa mengambil atau mekasa apapun terhadap Partai Demokat,” ungkapnya.

Muzani yakin partai besutan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini akan menjaga komitmen mendukung Prabowo-Sandi. Dia juga yakin koalisinya solid.

“Demokrat saya kira baik-baik saja. Demokrat saya kira berusaha komitmen. Tapi komitmen kan masalahnya enggak gampang,” ucap Muzani.

Pernyataan Demokrat

Ketua Komisi Pemenangan Pemilu DPP Partai Demokrat, Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas menyampaikan partainya sangat demokratis dan tak mempersoalkan jika kepala daerah yang diusung partainya justru memilih capres-cawapres berbeda dari yang diusung partai pada Pilpres 2019 mendatang.

Menurut Ibas, apa yang dilakukan kepala daerah itu hanya persoalan pilihan personal di bilik suara. Kader atau simpatisan Gerindra maupun PDIP sebagai partai yang kadernya sebagai capres juga belum tentu memilih pasangan yang diusung partainya.

“Apakah partai PDIP dan Gerindra seratus persen kadernya atau simpatisannya juga akan mendukung hal yang sama? Belum tentu. Kembali ke masing-masing pribadi kan, datang ke bilik,” jelas dia di Hotel Sultan, Jakarta Selatan, Minggu, 11 November 2018.

Dia menjelaskan, survei internal partainya menyatakan bahwa mayoritas kader akan memilih Prabowo-Sandi. Tapi ada juga yang memilih Jokowi karena faktor wilayah dan kultural. Bagi kadernya yang memilih Jokowi-Ma’ruf, pihaknya tak akan memberi sanksi.

“Sekarang kita tidak bisa memberikan punishment (hukuman). Kita hanya bisa menyerukan, tapi kalau memberikan punishment tidak bisa,” jelas dia.