Minta Dikirim ke Negara Lain, Puluhan Pengungsi Asal Afganistan Unjuk Rasa di Medan

Minta Dikirim ke Negara Lain, Puluhan Pengungsi Asal Afganistan Unjuk Rasa di Medan

Sipayo.com – Puluhan orang berstatus pengungsi asal negara Afganistan melakukan aksi unjuk rasa di Jalan Listrik, Kota Medan, Sumatera Utara. Mereka menuntut penyelesaian dan perhatian dunia internasional.

Informasi diperoleh wartawan, puluhan pengungsi berasal dari satu suku, yakni Hazara. Suku ini berasal dari Provinsi Ghazni, Afganistan, dan menjadi salah satu suku yang diburu kaum Taliban.

Pihak Taliban atau gerakan nasionalis Islam Sunni pendukung Pashtun yang secara efektif menguasai hampir seluruh wilayah Afganistan, menganggap Suku Hazara sebagai teroris.

Salah satu pengungsi yang berunjuk rasa, Muhammad Zuma mengatakan, unjuk rasa dilakukan sebagai bentuk meminta perhatian dunia internasional untuk membantu menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi.

“Komunitas internasional kami harapkan menghubungi PBB dan Presiden Afganistan, Ashraf Ghani, untuk menghentikan pembunuhan terhadap suku kami,” kata Zuma dalam unjuk rasa, Senin (19/11/2018).

Zuma menyebut, unjuk rasa tidak hanya dilakukan di Kota Medan. Aksi serupa juga dilakukan mereka di berbagai daerah di Indonesia. Ada sekitar ratusan pengungsi Afganistan di Indonesia berunjuk rasa.

“Kami merupakan pengungsi yang sudah tinggal di Indonesia sekitar 5 hingga 7 tahun,” sebutnya.

Selama proses mengungsi dari negara asal, Afganistan, mereka menunggu proses pengiriman ke negara penampung seperti Amerika, Kanada, Australia, dan New Zealand oleh pihak United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) selaku badan PBB yang menangani persoalan pengungsi internasional.

“Kami resah, karena UNHCR mengaku sudah menghentikan proses pengiriman. Kami bingung mau ke mana, kami juga manusia,” ungkap Zuma.

Seorang pengungsi lain yang turut berunjuk rasa, Yassin mengungkapkan, saat ini aksi pembantaian terhadap Suku Hazara masih terus terjadi. Beberapa keluarga mereka di Afganistan juga terpaksa melarikan diri.

Yassin mengakui kabar yang mereka dapat, saat ini, keluarganya yang ada di Afganistan ada yang lari dan tinggal di gunung. Padahal, saat ini di Afganistan sedang musim dingin.

“Kami berharap komunitas dunia internasional dapat memberikan perhatian. Kami sangat mengharapakan itu,” ungkapnya.

Dalam aksi unjuk rasa yang dilakukan, para pengungsi Afganistan membawa poster dan foto-foto kekerasan yang terjadi di negara asal mereka. Bahkan, tak sedikit dari para pengunjuk rasa meneteskan air mata sebagai bentuk mengharap perlindungan dunia internasional.