Terharu! Ini Kisah Ni Ketut Lastri, 18 Tahun Jadi Juru Parkir demi 2 Anak

Terharu! Ini Kisah Ni Ketut Lastri, 18 Tahun Jadi Juru Parkir demi 2 Anak

Foto: Ni Ketut Lastri

Sipayo.com – Sore itu, kawasan pertokoan Jl Diponegoro, Denpasar, Bali, tak terlalu ramai oleh pengunjung. Tapi Ni Ketut Lastri (49) tetap sibuk memberikan aba-aba untuk mengarahkan kendaraan yang hendak parkir.

Sudah 18 tahun Ketut bekerja sebagai juru parkir. Sejak suaminya meninggal, dia bekerja untuk menafkahi kedua anaknya.

“Dulunya saya ibu rumah tangga, tapi sejak suami saya meninggal 1997, saya harus bekerja untuk makan keluarga,” ujar Ketut saat berbincang, Sabtu (22/12/2018).

Kehilangan suami sempat membuat Ketut gundah hingga pulang kampung. Beragam pekerjaan serabutan kala itu dia lakoni, termasuk menjadi buruh cuci keliling selama dua tahun sebelum akhirnya menjadi juru parkir.

“Waktu itu sempat pulang, 2 minggu bingung di rumah, di sini jadi buruh apa, uangnya susah. Akhirnya balik ke kota ada teman nawarin buat bantu nyuci Rp 5-10 ribu dua ember penuh,” tutur wanita asal Negara, Jembrana, itu.

Hingga akhirnya dia mendengar informasi tentang pekerjaan juru parkir. “Saya daftar dua orang pertama kali sama Ibu Mariani (yang jaga di) Toko Cantik itu. Dua hari pelatihan, langsung terjun ke lapangan,” ceritanya.

Tak mudah membesarkan dua anak, hanya seorang diri. Dulu, Ketut kerap mengajak kedua anaknya–yang kini berusia 24 dan 22 tahun–saat bekerja karena tak ada yang mengawasi.

“Ya dulu waktu kecilnya mereka main-main di sini,” ujar Ketut sambil menunjuk ke arah trotoar.

Masa sulit dialami Ketut dalam melakoni pekerjaan ini. Seperti saat pengendara motor yang langsung ngacir tanpa membayar duit parkir hingga pelarangan parkir mobil di kawasan tersebut yang membuat pemasukannya menurun.

“Kadang ya gitu harus galak. Paling kalau ada yang kabur paling teriak. Soalnya kadang kita kan sibuk di depan, di belakang, sudah lari-lari eh kabur,” terangnya.

“Sama sekarang kan sudah dilarang sama polisi mobil parkir di sini karena bikin macet. Ya pemasukan jadi menurun,” sambung Ketut.

Dalam sehari, Ketut mengaku bisa mengantongi Rp 25-30 ribu jatah persenan dari sisa setoran wajib Rp 80 ribu. Namun pendapatannya itu tak menentu, apalagi jika sedang musim hujan.

“Kalau pendapatan ya nggak mesti Mbak, kalau hujan ya sepi, kadang harus kita tutup setoran wajibnya itu,” terangnya.

Berkaca dari pengalamannya, Ketut berharap para ibu bisa mandiri membantu menopang ekonomi keluarga. Dia juga berharap pemasukannya bisa bertambah.

“Harapan di Hari Ibu supaya ibu-ibu berkarya jangan hanya di rumah tangga, supaya bisa membantu rumah tangga. Untuk harapan ke pemerintah maunya kita persenannya ditambah. Kondisi makin susah, kebutuhan naik, tapi persenan tetap 25 persen (dari pemasukan), apalagi kemarin sempat turun karena ada larangan parkir buat mobil, (pemasukan saya) turun Rp 20 ribu,” ujarnya.