Ritual Pengusiran Begu Ganjang Babak Kedua Ricuh, Kapolres Labuhanbatu Turun Tangan, Ini Videonya

Ritual Pengusiran Begu Ganjang Babak Kedua Ricuh, Kapolres Labuhanbatu Turun Tangan, Ini Videonya

Foto: Pengusiran Begu Ganjang Babak Kedua Ricuh

Sipayo.com – Ritual pengusiran begu ganjang untuk kedua kalinya di Dusun Kampung Pelita, Desa Selat Besar, Kecamatan Bilah Hilir, Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara pada  Sabtu (27/7) sekira pukul 14.00 WIB, berlangsung tenggang dan ricuh.

Sebelumnya ritual tersebut pernah dilakukan pada (18/6) di dusun yang sama dengan mendatangkan paranormal. Namun, pada ritual tersebut dimana disangkakan adanya warga yang memiliki begu ganjang ternyata kerja sang para normal tidak membuahkan hasil.

Ternyata warga belum merasa puas, selanjutnya siang tadi acara ritual itu diulangi kembali guna membuktikan adanya warga yang diduga memiliki begu ganjang yang katanya memakan korban jiwa.

Ketegangan dan kericuhan terjadi ketika warga yang berjumlah hampir seribuan bersama sang paranormal akan mendatangi rumah warga yang dituding memiliki begu ganjang dihadang oleh personil kepolisian yang langsung dipimpin oleh AKBP Fredo Situmorang.  Alasan dilarangnya kegiatan itu oleh Kapolres Labuhanbatu AKBP Fredo Situmorang SIK SH.

karena ada ditemukannya dugaan indikasi rekayasa yang telah diketahui oleh pihak kepolisian. Selain itu, alasan Fredo melarang karena dengan jumlah massa sebanyak itu bisa menimbulkan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.

Larangan dari Kapolres Labuhanbatu itu ternyata menuai reaksi keras dari salah seorang warga dusun itu B.Simanjuntak yang disebut – sebut salah satu koordinator aksi. B.Simanjuntak dengan nada arogansinya menentang larangan Kapolres Labuhanbatu tersebut dengan alasan dirinya adalah korban. Ketika ditanya oleh Fredo sebagai korban apa, dengan lantangnya B.Simanjuntak  mengatakan dengan nada tinggi orang tua perempuannya meninggal di tahun 2018  akibat korban begu ganjang.

Setelah berargumentasi di tengah jalan itu, akhirnya Kapolres Labuhanbatu dapat mengarahkan massa yang telah berjubel di jalanan ke tempat massa dimana mereka berkumpul sebelumnya.

Ketika massa kembali digiring ke tempat semula berkumpul, terjadi lagi adu mulut antara kepolisian dengan warga. Teriakan histeris dengan berbahasa batak sangat keras. Polisi dianggap berpihak kepada seseorang saja.

Akhirnya, Kapolres Labuhanbatu AKBP Fredo Situmorang mengijinkan acara itu dilanjutkan dengan syarat hanya paranormal dan beberapa koordinator aksi dan dikawal aparat kepolisian.

Selama dalam kegiatan ritual itu, personil Dalmas (Pengendali Massa) Polres Labuhanbatu dan dibantu personil kepolisian dari Polsek Panai Hilir dan personil Polsek Panai Tengah dan dibantu Koramil 02/09 Bilah Hilir menjaga ketat kondisi di lapangan.

Kegiatan ritual sempat memanas ketika sang paranormal sampai di depan rumah warga yang disangkakan memelihara begu ganjang.

Sang paranormal dengan gayanya menunjuk ke atas atap teras rumah warga itu dan mengatakan disitulah benda  sebagai bukti warga itu memiliki begu ganjang di letakkan.

Ketika Kapolres meminta sang paranormal itu mengambil barang yang ia maksud, paranormal itu tidak mau mengambilnya berkilah ia tidak bisa mengambilnya.

Ditanya lagi kenapa tidak bisa, berulangkali paranormal itu mengatakan tidak bisa kalau dirinya yang mengambil. Didesak terus oleh Fredo, kenapa tidak bisa, sang paranormal berkilah kalau dirinya yang mengambil ia akan jatuh.

” Biar saya bantu kalau bapak takut jatuh,” Kata Fredo.

Anak pemilik rumah yang tertuduh yang sudah sangat emosional disaksikan sang paranormal dan kepolisian langsung memanjat ke atas atap teras dan melemparkan barang tersebut ke bawah. Ternyata barang yang dikatakn sang paranormal itu hanya berisi paku seng.

Tidak tinggal diam, AKBP Fredo Situmorang langsung mengambil inisiatif menggunakan tangga turut serta memanjat ke atas atap teras itu dan mengambil dokumentasi.

Suara makian dan sumpah serapah dari pemilik rumah memaki sang paranormal tak terbendung lagi.

Sementara itu sang paranormal masih berkomat kamit membaca mantra dan menatap lurus ke rumah itu seolah-olah benar di rumah itu ada begu ganjangnya.

Sang paranormal menyemburkan air dari dalam mulutnya yang dia teguk dari botol aqua di depan rumah warga tersebut di beberapa penjuru. Tidak ada bukti yang ditemukan, sang paranormal dibawah pengawalan kepolisian digiring kembali ke tempat semula mereka berkumpul.

Keluarga tertuduh yang ditemuin Sipayo.com merasa sakit hati atas perbuatan massa tersebut.

“Sakit hati saya. Karena ini pencemaran nama baik keluarga saya. Karena itu masalah ini akan saya adukan dan harapan saya dapat diproses secara hukum. Karena saya tak ingin hal seperti ini terulang kembali terhadap keluarga saya mau pun orang lain,” ujar Lian Manik. (Joko W).