Penutupan Warung Tuak di Labuhanbatu Diduga Tebang Pilih, 2 Emak-emak Pemilik Kedai Menjerit

Penutupan Warung Tuak di Labuhanbatu Diduga Tebang Pilih, 2 Emak-emak Pemilik Kedai Menjerit

Foto: Dua emak-emak, Yuni dan Rita, warga Jalan Kamla Lorong IV Kelurahan Seiberombang,Kecamatan Panai Hilir, Kabupaten Labuhanbatu lesu setelah 2 pekan warung tuak mereka ditutup Kapolsek Panai Hilir dan anggotanya.

Sipayo.com – Penutupan warung tuak di Sei Berombang,  Kecamatan Panai Hilir, Kabupaten Labuhanbatu, dituding tebang pilih. Sebab disinyalir hanya 2 warung saja yang ditutup, sedangkan 11 warung lainnya masih bebas beroperasi jualan tuak.

Dua emak-emak, pemilik warung yang ditutup Kapolsek Panai Hilir Resor Labuhanbatu dan pasukan pada Kamis (12/9/2019) malam, saat ini menjerit! Yanti dan Rita, warga Jalan Kamla Lorong IV Kelurahan Seiberombang, mengaku jual minuman tradisional itu hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari rumah tangga mereka. Sebab jual makanan dan jajanan tidak laku di lingkungan tersebut. Buka warung nasi tidak cukup modal dan belum tentu laku.

“Salah apa kami jual tuak? Makan apalah kami kalau tidak boleh jualan tuak. Sudah 12 hari kami nggak jualan. Di sini hanya tuak yang laku, jualan lain tak laku. Kalau warung tuak ditutup, ya ditutup semualah. Kenapa warung kami saja yang ditutup? Kenapa harus tebang pilih? Kenapa nggak ditutup semua? Kenapa yang lain boleh jual tuak,” keluh Yanti kepada Wartawan melalui telepon seluler, Selasa (24/9/2019) sore, menanggapi aksi tebang pilih yang dilakukan Kapolsek dan anggotanya 2 pekan lalu.

Keluhan serupa diungkapkan Rita. Janda beranak 2 ini sangat mengelukan kondisi keuangannya untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya karena sudah 2 minggu tidak boleh jualan, sebab warungnya ditutup Kapolsek dan anggotanya.

“Kayak manalah aku membelanjai anakku yang dua ini. Selama ini kami bisa makan karena jualan tuak,” sebutnya.

Yanti yang akrab dipanggil Minah, mengisahkan datangnya Kapolsek dan rombongan pada Kamis malam 2 pekan lalu. Saat itu, katanya, ada anggota yang marah-marah dan memaki-makinya. Gitar dirampas, lalu Yanti dan 2 orang pelanggan warungnya dibawa ke Polsek.

“Saya dan 2 orang pelanggan warungku sempat dimasukkan ke sel Polsek. Saya marah, apa salah saya. Kemudian saya ditarik ke ruangan Kanit. Uang saya dirampas! Karena ditegur Kanit, adalah yang mengembalikan uang saya Rp300.000. Tapi Rp600.000 lagi tak dipulangkan sampai sekarang. Gitar saya juga belum dikembalikan,” ungkap Minah mengeluh.

Dia sangat kecewa karena penutupan warung tuak di Seiberombang terkesan diskriminatif. Kamis sore itu, sebutnya, ada anggota Polsek datang minta uang, katanya untuk acara perpisahan dengan Kapolsek, ternyata malamnya mereka datang dengan Kapolsek menutup warungnya dan warung Rita, tetangga sebelahnya.

“Kenapalah Kapolsek tebang pilih kalau memang mau menurup warung tuak? Ada apa? Karena ada juga tetangga 2 rumah dari rumah kami, masih jual tuak. Yang lain juga masih jual tuak. Kalau ditutup semua, kan, berarti perlakuan sama. Tenang awak cari kerjaan yang lain. Katanya, di warung saya menyeduakan perempuan dan ada narkoba, tapi sudah beberapa kali mereka datang sebelumnya, tidak ada,” ungkapnya.

Kapolsek Panai Hilir AKP Budiarto saat dikonfirmasi Wartawan menyebut penutupan warung tuak di Seiberombang atas permintaan warga, dan masalah itu juga sudah diterangkannya kepada keluarga yang warungnya ditutup.

“Itu sudah saya jelaskan kepada keluarganya. Penutupan warung tuak atas permintaan warga,” kata Kapolsek.

Menjawab Wartawan , kenapa hanya 2 warung tuak yang ditutup pada Kamis (12/9) malam itu? Kapolsek mengatakan semua warung tuak sudah ditutup.

“Semua sudah ditutup. Semalam sudah ditutup semua,” kata Budiarto mengakhiri jawabannya.(Abi Pasaribu)