Harapan Pemberantasan Judi Dan Narkoba Belum Punah

Harapan Pemberantasan Judi Dan Narkoba Belum Punah

Foto: Stepanus Purba

Sipayo.com – Isu narkoba dan judi tiba-tiba menjadi pembicaraan hangat di ruangan media sosial masyarakat Karo selama sepekan terakhir. Mencuatnya pembicaraan diawali dengan kritik keras Tokoh Muda Karo, Arya Sinulingga kepada Kapolres Tanah Karo dan BNN Kabupaten Karo lemahnya akselerasi 2 lembaga negara ini dalam memimpin upaya penumpasan peredaran gelap narkoba serta judi.

Kritik bang Arya berlanjut, ketika bang Arya melalui ruang media sosial menggali informasi dari masyarakat terkait dengan lokasi-lokasi yang duga menjadi sarang praktik perjudian dan juga sarang transaksi narkoba. Tak hanya itu, bang Arya juga membuka laporan tersebut di ruang media sosial dan meminta kepada 2 lembaga ini untuk melakukan tindakan sesuai dengan amanah undang-undang.

Ketika bang Arya mulai membuka lokasi yang diduga menjadi tempat praktik judi dan narkoba ini, tampak ruang media sosial mulai semakin menarik. Perlawanan tampak mulai dilakukan oleh pihak pihak lain entah itu dari lawan politik beliau dan juga mereka yang mungkin terlibat dalam praktik judi dan narkoba.

Sejumlah cara tampak mulai dilakukan oleh mereka, mulai dari pembunuhan karakter bang Arya, nada miring bahwa gerakan ini adalah produk jelang politik belaka, hingga nada nada sumbang bahwa upaya ini adalah harapan kosong belaka.

Pernyataan bahwa ini merupakan harapan kosong belaka pada akhirnya menarik perhatian penulis. Sehingga hal ini memicu naluri untuk mencari tahu kenapa stament itu muncul ditengah-tengah masyarakat. Salah satu cara yang aku lakukan adalah dengan mencoba mengumpulkan sejumlah potongan narasi.

Dari hasil penelusuran, narasi terbesar kenapa harapan itu seolah sirna adalah karena hilang kepercayaan masyarakat kepada negara dalam upaya pemberantasan korupsi. Maraknya peredaran narkoba atau bahkan bisa dikatakan sangat tebuka ditengah-tengah masyarakat Karo. Ditengah maraknya peredaran narkoba, upaya penegak hukum dalam menjalankan amanah undang-undang tampak tumpul dari minimnya penangkapan yang dilakukan.

Minimnya penangkapan ditengah maraknya peredaran narkoba yang bisa dikatakan terang benderang ini bisa dikatakan cukup mengherankan. Bahkan bisa dikatakan bahwa lembaga penegak hukum dalam hal ini Polres Tanah Karo maupun BNN Kabupaten Karo sangat jarang melakukan penangkapan. Upaya represif ini hanya dilakukan ketikan gejolak muncul ditengah-tengah masyarakat.

Kondisi tampaknya menjadi lumrah, ketika dari informasi yang saya peroleh dari sumber yang dapat dipercaya, dalam praktik bisni barang haram ini, ternyata bisnis ini juga mendapat perlindungan dari oknum aparat dengan imbalan sejumlah uang dan fasiltas dari bandar narkoba. Tak jarang juga menurutnya, oknum aparat ini memasok sejumlah barang kepada para pengedar kecil baik ditingkat desa maupun lingkungan.

Demikian hal dengan perjudian, lokasi-lokasi perjudian tampak ada disejumlah lokasi strategis dan tak jauh dari pemukiman masyarakat. Kondisi ini tentunya mengherankan, ditengah rajinnya pemerintah setempat menggelar deklarasi anti judi dan narkoba, lokasi-lokasi perjudian seperti tidak dapat disentuh oleh penegak hukum. Ketika ditelusuri, kesimpulan juga sama, mereka dilindungi oleh aparat dengan imbal jasa berupa setoran dan sejumlah fasilitas.

Kenyataan-kenyataan seperti ini tentu membuat kepercayaan masyarakat kepada lembaga penegak hukum untuk menjadi garda terdepan pemberantasan narkoba menjadi runtuh. Runtuhnya kepercayaan ini tentunya menjadi akar kenapa ada beberapa pernyataan muncul bahwa upaya saat ini adalah kesia-siaan belaka.

Jika dilihat lebih jauh, apa yang dikerjakan bang Arya saat ini adalah bagian dari membangkitkan harapan itu kembali. Harapan yang nyaris punah itu, coba kembali dibangkitkan bang Arya dengan memberikan kritik langsung kepada kedua lembaga yang diberikan wewenang oleh undang-undang. Dengan harapan tentunya, mereka tergerak hatinya dan melakukan aksinya nyata berupa penangkapan bandar besar dan jaringannya (bukan pemakai sebagai bentuk seremonial belaka).

Langkah bang Arya melakukan kritik secara terbuka tentu sudah dihitung segala resiko olehnya. Mulai dari tudingan bahwa ini pencitraan jelang Pilkada serentak hingga ancaman dari sejumlah orang yang tentu lahan ekonomi mereka terganggu. Tapi lebih dari itu, sejak bang Arya melakukan kritik, kita bisa melihat bahwa harapan masyarakat untuk pemberantasan narkoba tumbuh kembali. Hal ini tentunya harus kita pupuk dan kita jaga bersama. Melalui tulisan ini, saya kembali mengajak para pembaca untuk ikut mengawal perjuangan ini dengan cara yang bisa kita lakukan tentunya.

Karena sudah saat kita bergerak bersama, atau masa depan kita dirampas didepan mata kita.

Oleh Stepanus Purba
Jurnalis iNews.id