Proyek Rabat Beton di Kelurahan Negeri Lama Pengerjaannya Asal Jadi Asal Siap

Proyek Rabat Beton di Kelurahan Negeri Lama Pengerjaannya Asal Jadi Asal Siap

Sipayo.com – Proyek peningkatan jalan berupa rabat beton di Pasar III Lingkungan Pirbun, Kelurahan Negeri Lama, Kecamatan Bilah Hilir, Kabupaten Labuhanbatu dikerjakan oleh CV Adit Sejahtera dengan menelan anggaran sebesar Rp. 416.000.000 (Empat Ratus Enam Belas Juta Rupiah) bersumber dari APBD Kabupaten Labuhanbatu tahun anggaran 2019 dikerjakan asal jadi asal siap agar cepat selesai.

Pasalnya, pantauan di lapangan, Jum’at (17/11) pengerjaan pengecoran rabat beton tersebut yang seharusnya memggunakan batu split atau batu pecah malah menggunakan sertu (pasir dan batu) dan batu krikil bulat.

“Lihatlah bang, kacau kali pengerjaannya, sesuka hati mereka saja mengerjakan proyek ini. Apa karena pengerjaannya tidak di tepi jalan lintas suka-suka mereka saja. Apa dianggap kaleng-kaleng warga sini,” kata Rahmat warga lingkungan itu kepada Sipayo.com yang emosi melihat pengerjaan proyek itu.

Menurut Rahmat, selain tidak menggunakan batu pecah, air untuk mengaduk campuran semen, pasir dan batu menggunakan air parit.

Ironisnya lagi, pasir yang digunakan juga bukan pasir sampan atau pasir kasar, tetapi pasir halus alias pasir timbun.

“Mana pengawas kalian! Apa tidak dicek dulu materialnya oleh pengawas! Bener gak material yang kalian gunakan. Tanpa ada pengawas dari PU kenapa sudah kerja kalian! Itu pasir timbun. Ngecor kalian pakai sertu, tau gak kalian sertu! Lihat tuh proyek yang di depan kalian, pakai batu pecah mereka kan? Kalian kenapa pakai material seperti ini?” ujar Rahmat menanyakan hal itu kepada seseorang yang mengaku sebagai konsultan proyek tersebut dengan penuh kegeraman.

Madju Munthe yang mengaku sebagai konsultan proyek itu dikonfirmasi Sipayo.com mengapa pengecoran tidak menggunakan batu pecah malah memggunakan sertu di lokasi kerja, Madju berkilah, material itu digunakan untuk pengecoran dasar.

Dijawab Sipayo, mengapa harus demikian dan apa seperti itu besteknya, Madju munthe tidak bisa menjawab.

Ditanya lagi, mengapa air yang digunakan air parit, lagi-lagi Madju munthe juga tidak bisa menjawab.

Salah seorang pekerja proyek, kepada Sipayo.com mengaku hari itu hari pertama mereka bekerja melakukan pengecoran, tetapi saat pengecoran asisten pengawas dari dinas perumahan rakyat dan kawasan pemukiman  kabupaten Labuhanbatu tidak ada di tempat.

“Asisten pengawas masih diberombang Pak, kami disuruh pemborong kerja ya kami kerjakan Pak,” aku pekerja. (Joko W.Erlambang).