Terkait Warga Datang ke Jalur Kereta Api Rantauprapat-Kota Pinang, Ternyata Jalan Sukadame tidak Berlumpur

Terkait Warga Datang ke Jalur Kereta Api Rantauprapat-Kota Pinang, Ternyata Jalan Sukadame tidak Berlumpur

Foto: Jalan tidak Berlumpur di Lingkungan Sukadame, Kelurahan Urung Kompas, Kecamatan Rantau Selatan, Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara.

Sipayo.com – Seputar perdebatan antara Tengku Nazaruddin selaku mandor truk pekerjaan penimbunan jalur Kereta Api (KA) Rantauprapat-Kota Pinang (RPK) II, di Lingkungan Sukadame, Kelurahan Urung Kompas, Kecamatan Rantau Selatan, Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara dengan sejumlah oknum yang mengaku warga kini terjawab sudah.

Karena peristiwa adu komentar di lokasi belakang kandang ayam atau pengerjaan di kilometer 8 plus 700 itu, disebutkan berawal dari sejumlah oknum mengaku perwakilan masyarakat sekitar yang hendak menginvestigasi sekaitan keluhan warga terhadap jalan licin berlumpur dikarenakan tanah dari dumptruk pengakut material berjatuhan.

Belum dapat dipastikan kebenaran berpihak kepada siapa, namun menurut oknum yang mengaku mewakili warga, mereka berniat investigasi atas keluhan warga. Tetapi, mandor truk sendiri pun memberikan komentar bahwa sejumlah oknum tersebut membawa meteran dan mengukur timbunan material.

Alhasil aksi yang tidak dapat diterima oleh mandor truk itu, berakhir dengan perdebatan antara dirinya dengan oknum yang mengatasnamakan perwakilan warga. Kebingungan bertambah ketika muncul di beberapa media yang menyebutkan bahwa diantara perwakilan warga mengaku jurnalis dan menyebutkan diintimidasi.

Permasalahan tidak berhenti. Pemberitaan oknum yang mengaku sebagai jurnalis ditanggapi sejumlah wartawan dan menyayangkan sikap Tengku. Namun, mandor truk tersebut ternyata membuat klarifikasi yang menerangkan bahwa sejumlah oknum yang ditemui mengakui sebagai perwakilan warga dan berniat ingin melihat-lihat serta belajar.

“Saya heran, mengapa timbul berita katanya saya mengintimidasi wartawan, padahal saat ditanya, mereka mengaku mewakili warga, parahnya lagi saya dituduh mengintimidasi jurnalis. Ini perlu diklarifikasi agar khususnya masyarakat sekitar pembangunan jalur mengetahui peristiwa sebenarnya,” aku Tengku Nazaruddin kemarin.

Sikap yang diterapkannya, lanjut Tengku saat ditemui waktu lalu, merupakan bentuk standart penjagaan asset yang ada disana serta pengamanan sejumlah alat berat. Menurutnya, siapapun tidak pernah dilarang untuk berkunjung sepanjang memberitahukan niat kedatangan.

“Agar tidak muncul tafsir yang negatif. Saya juga diberi tugas untuk meladeni siapapun yang datang, maksudnya jika berkaitan dengan tekhnis akan dipertemukan dengan yang faham. Tapi kalau main masuk-masuk saja, ya kita heran, apalagi mereka mengaku warga sekitar. Karena selama ini banyak warga yang datang melihat-lihat dan tidak pernah ada komplain,” bebernya.

Sejumlah pemberitaan memuat komentar Joni Sianipar mendapat informasi keluhan masyarakat sekitar bahwa jalan yang dilalui becek dan berlumpur akibat truk pengangkut tanah tidak menutup baknya, sehingga material yang dibawa berjatuhan ke badan jalan.

Menindaklanjuti informasi itu, Joni Sianipar memantau ke jalan yang disebutkan becek dan meninjau ke titik pekerjaan tanah diturunkan. Tetapi setelah dilapangan yang akhirnya bertemu dengan mandor truk Tengku Nazaruddin, dia malah mendapat intimidasi dengan bentuk pelarangan dan pengusiran oleh oknum yang dituduhkan sebagai preman.

Sedangkan Joni Sianipar dikonfirmasi via WhatsApp kemarin, menjelaskan, dia telah menberitahukan dirinya wartawan dan menjelaskan bertempat tinggal di Lingkungan Sukadame, Kelurahan Urung Kompas, Kecamatan Rantau Selatan. Saat ditanya kembali kebenaran dirinya sempat bertelepon dengan atasan Tengku dan mengakui perwakipan warga, Joni Sianipar belum berkomentar.

Kemudian perdebatan di jalur proyek strategis nasional pembangunan KA RPK II kilometer 8 plus 700, pada Minggu (17/11) kemarin, masih menyisakan tandatanya diberbagai kalangan termasuk jurnalis. Bagaimana tidak, terdapat dua statemen yang bertolak belakang, terlebih kini menjadi konsumsi pemberitaan.

Kepala Lingkungan (Kepling) Sukadame, Indra Muthe dikonfirmasi via telepon selular terkait adanya pengakuan sejumlah oknum yang menyebutkan jalan becek dan berlumpur, Sabtu (23/11) mengaku bingung. Sepengetahuannya, jalan dari simpang IV Padang Pasir tepatnya menuju jalur pembangunan belakang kandang ayam dimana terjadi perdebatan, hingga kini kering dan tidak berlumpur.

Ditanya terkait adanya keresahan warga akibat tanah yang dibawa truk berjatuhan ke badan jalan, Indra semakin tidak mengerti. Pasalnya, tanah untuk menimbun jalur KA RPK II belakang kandang ayam, sama sekali tidak melintasi jalan yang biasa digunakan masyarakat sekitar.

“Biasanya sekecil apapun masalah warga, ya nelepon saya, tapi sampai hari ini tidak ada, apalagi karena jalan becek. Sepemahaman saya, truk untuk timbunan belakang kandang ayam, tidak lewat dari jalan aspal. Kalau di lingkungan saya sepertinya tidak ada aspal yang berlumpur. Kalau tempat lain saya tidak tahu,” akunya.

Senada apa yang disampaikan Kepling Sukadame, pantauan langsung, Sabtu (23/11) badan jalan beraspal sepanjang sekitar 22 tiang listrik terhitung mulai simpang IV Padang Pasir menuju kandang ayam, tidak ditemukan jalanan becek dan licin akibat lumpur berasal dari tumpahan tanah yang diangkut dumptruk.

Terpisah, mandor truk Tengku Nazaruddin menegaskan, bahwa Kwari sebagai kerukan tanah untuk penimbunan jalur tersebut, terletak di Lingkungan Pintasan, Desa Tebinglinggahara, Kecamatan Rantau Selatan. Sedangkan jarak antara kerukan dengan pembuangan diperkirakan sekitar 3 kilometer.

“Jalur membawa tanahnya pun tidak melintasi jalan aspal atau jalan perkampungan. Kita lewat dari lokasi perkebunan Kebun Aeknabara Utara, PTPN III. Jadi tidak logika kalau investigasi warga itu malah ke lokasi kita yang dituduh sebagai penyebab jalan berlumpur,” terang Tengku.(Abi Pasaribu)