Akibat Kejar Waktu, Pengerjaan Proyek Peningkatan Jalan Bangun Sari di Labuhanbatu Amburadul

Akibat Kejar Waktu, Pengerjaan Proyek Peningkatan Jalan Bangun Sari di Labuhanbatu  Amburadul

Foto: Tampak Pemasangan Besi Wire Mesh tidak Berikat dengan Besi Wire Mesh Lainnya/(Joko W. Erlambang)

Sipayo.com – Dikarenakan sudah di ujung waktu, proses pengerjaan proyek peningkatan Jalan Bangun Sari I berupa rabat beton di Kelurahan Negeri Baru, Kecamatan Bilah Hilir, Kabupaten Labuhanbatu sangat amburadul tidak sesuai dengan sfesifikasi.

Mirisnya, proyek yang menelan anggaran sebesar Rp676.100.000 bersumber dari APBD Kabupaten Labuhanbatu di kerjakan oleh CV Rizki Bela sama sekali  tidak lagi mementingkan mutu bangunan. Pihak pemborong hanya mengutamakan bagaimana pengerjaan itu selesai sesuai limit yang diberikan dinas PUPR Labuhanbatu agar pemborong tidak kena denda dan proyek bisa diberita acarakan (BA).

Kritik pedas itu dilontarkan pemerhati pembangunan wilayah pantai sekaligus Sekretaris Persatuan Aktivis Wartawan Pantai Timur (PAWA PATI) Kabupaten Labuhanbatu Abdi Tuah kepada Sipayo.com di lokasi proyek, Selasa (31/12).

Abdi menilai, pengerjaan tidak sesuai sfesifikasi yang dibuat konsultan dibuktikan dari hasil pantauannya langsung di lapangan dan rekan – rekan pers dari media cetak dan online terbitan Medan.

Sebagai bukti temuan di lapangan, aku Abdi, pemasangan wire mesh yang di hampar pekerja di atas tanah yang akan dilakukan pengecoran tidak disatukan dan tidak berikat antara satu dengan lainnya.

Parahnya lagi, lanjutnya, pada proses pengecoran, pekerja menggunakan Semen isi 40 Kilogram dibagi 2 dan dicampur dengan 28 sekop pasir dan 4 karung batu split (batu pecah).

Salah seorang warga setempat,  mengaku bernama Mesdi yang turut memantau pengerjaan proyek itu, kepada  wartawan mengaku kecewa melihat cara pengerjaan  proyek itu.

“Rabat beton yang dulu di Kelurahan ini juga kerjanya amburadul. Tahun ini kerjaanya juga amburadul. Mubazir uang negara itu Pak, hanya hitungan bulan saja mulus  jalan ini bisa dinikmati masyarakat. Selanjutnya hancurlah jalan ini kembali kalau begitu cara kerja mereka,” kata Mesdi dengan nada kesal.

Terpisah, mandor pekerja proyek Tupon (45), saat dikonfirmasi wartawan mengaku hanya sebagai penerima barang.

“Saya hanya bagian penerima barang saja Pak, kalau ada barang yang kurang pekerja lapor kepada saya,” ujar Tupon berkilah.

Ironisnya, sesuai pengakuan Tupon kepada wartawan, kepala tukang proyek itu bernama Ucok atau dikenal dengan sebutan Ucok Panjang warga Desa Sei Lumut, Kecamatan Panai Hilir jarang datang ke tempat itu.

Makin parahnya lagi, aku Tupon, konsultan dan pengawas proyek dari dinas PUPR  juga jarang datang melihat atau mengawasi pekerjaan itu.

Salah seorang pekerja yang tidak bersedia ditulis namanya di pemberitaan, kepada para kuli tinta mengaku tidak ada perintah pemborong untuk pemasangan wiremesh harus bersambung dan berikat.

“Tidak ada perintah dari pemborong kepada kami Pak untuk memasang wire mesh harus disatukan dan diikat satu dengan lainnya. Apa yang diperintahkan itulah yang kami kerjakan Pak. Karena kami inikan cuma pekerja Pak,” ungkap pekerja tersebut.

Asisten pengawas untuk pengerjaan proyek di wilayah Kecamatan Bilah hilir yang menjadi tanggungjawab Dinas PUPR Labuhanbatu Malikus Wari, berulang kali dihubungi Sipayo.com via selular guna dikonfirmasi tidak dapat terhubung. (Joko W Erlambang)