Ulah PTPN 4 Panai Jaya dan PT HPP, Ratusan Pohon Durian dan Rambutan Warga Mati

Ulah PTPN 4 Panai Jaya dan PT HPP, Ratusan Pohon Durian dan Rambutan Warga Mati

Foto: Tampak Genangan Air Banjir Akibat Hujan dan Limpahan Air dari PT HPP Melimpah di Halaman Rumah Warga Desa Sei Rakyat/(Joko W. Erlambang)

Sipayo.com – Keberadaan perusahaan di sebuah daerah selayaknya memberikan kontribusi yang positif terhadap warga di daerah tersebut.

Salah satunya keuntungan dengan adanya perusahaan  dapat menciptakan lapangan kerja bagi warga di daerah itu serta peduli terhadap pembangunan di daerah itu bukan malah sebaliknya.

Hal itu dikatakan Budi Rahmat warga Desa Sei Rakyat, Kecamatan Panai Tengah, Kabupaten Labuhanbatu kepada Sipayo.com , Minggu (15/12) di Sei Rakyat tentang keberadaan perusahaan perkebunan PT HPP dan PTPN 4 Panai Jaya yang berdri di desa itu.

Menurut Budi, keberadaan PT HPP dan PTPN 4 Panai Jaya tidak memberikan kontribusi yang cukup dominan bagi warga setempat tetapi malah merugikan masyarakat.

Ada pun kerugian yang dialami masyarakat setempat, lanjutnya, yaitu banyaknya puluhan pohon durian dan pohon rambutan masyarakat pada mati disebabkan terendam banjir.

“Pembuangan air dari lahan perkebunan PTPN4 dan PT HPP dilimpahkan ke parit masyarakat desa itu menyebabkan banjir Pak,  airnya melimpah ke areal lahan perkebunan masyarakat. Akibatnya, tanaman warga berupa pohon durian dan pohon rambutan itu mati disebabkan terendam banjir,” ujar Budi.

Di tempat yang sama, pernyataan Budi itu dibenarkan oleh Iwan warga desa yang sama kepada Sipayo.com.

“Kalau bapak gak percaya, biar saya tunjukkan lokasi dimana banyak bematian pohon durian warga sini. Semua itu dikarenakan limpahan air dari kebun PTPN4 dan PT HPP Pak. Rumah kami pun terendam banjir, ular cobra dan ular sawah pun masuk ke dalam rumah Pak,” terang Iwan kepada wartawan.

Masih kata Iwan, melimpahnya air ke areal perkebunan warga disebabkan perusahaan melakukan pembuangan air ke parit warga, tetapi perusahaan tidak ada melakukan pencucian parit dan melakukan pendalaman.

Mirisnya lagi, tambahnya, sekira dua bulan yang lalu perusahaan PT HPP melakukan pencucian parit secara manual. Yaitu menggunakan egrek memangkas dan menarik rumput yang tumbuh di dalam parit.

“Kalau begitu cara pencucian paritnya gak ada gunanya itu.  Karena parit ini sudah dangkal dan butuh pendalaman, kalau cuma rumput yang dibuang untuk apa?” sebut Iwan kesal.

Terpisah, Kepala Desa Sei Rakyat Abdul Wahab kepada Sipayo.com saat diminta tanggapannya mengatakan bukan tidak merespon laporan masyarakat, akan tetapi kesulitan untuk melakukan pencucian parit dikarenakan adanya rumah warga yang dibangun di atas parit.

“Mengatasi banjir itu memang harus dilakukan pencucian parit, tetapi kesulitan kita adanya rumah warga yang dibangun di atas parit Pak. Itu yang jadi kendala,” kilah Wahab.

Wahab juga mengakui adanya perjanjian  pihak perusahaan dengan pemerintahan desa  untuk melakukan pencucian parit setiap tahunnya.

Akan tetapi, lanjutnya, pihak perusahaan memenuhi janjinya jika sudah dapat teguran dari pemerintahan desa.

“Sering saya bertengkar dengan perusahaan Pak, karena kalau gak ditegur gak ngerti Pak. Meminta agar warga sini bisa bekerja di perusahaan yang ada di desa ini saja mesti pakai aksi kekerasan baru bisa diterima Pak,” ungkap Wahab.(Joko W. Erlambang)