Kasek SMAN 2 Bilah Hilir Hukum Siswa Main Tampar, Wali Murid Berang

Kasek SMAN 2 Bilah Hilir Hukum Siswa Main Tampar, Wali Murid Berang

Foto: Sukri selaku wali murid yang keberatan atas tindakan kepala sekolah SMAN 2 Bilah Hilir.

Sipayo.com – Hukuman main tampar pada wajah dan main gampar pada kepala terhadap dua puluhan siswa yang dilakukan oleh Kepala Sekolah SMA Negeri 2 Sidomulio, Kecamatan Bilah Hilir, Kabupaten Labuhanbatu Sri Idhawati S,Pd menimbulkan reaksi keras dari wali murid.

Reaksi keras itu dilontarkan salah seorang wali murid Sukri kepada wartawan, Senin (17/02/2020) di Negeri Lama yang menyatakan keberatan atas tindakan kepala sekolah itu.

“Saya keberatan atas tindakan seperti itu. Kalau siswa itu salah atau melanggar kedisiplinan sekolah ditegur. Jika sudah ditegur masih bandal juga kasih surat peringatan dan surati orang tuanya. Bukan main tampar! Apalagi aksi kekerasan itu dilakukan pada saat upacara bendera, saya keberatan karena saya tidak pernah lakukan kekerasan fisik terhadap anak saya jika dia salah,” kata Sukri yang notabenenya Kepala Desa Sidomulio.

Sukri megaku keberatan atas tindakan yang dilakukan oleh kepala sekolah itu dikarenakan hukuman yang diberikan dengan kesalahan yang dilakukan oleh siswa tidak  setimpal.

“Kalau pelanggaran yang dilakukan oleh anak saya cukup fatal saya terima anak saya ditampar. Misalnya ketahuan merokok di sekolah atau melakukan pelecehan terhadap siswa perempuan di sekolah itu, saya mungkin maklum. Ini hanya karena tidak pakai topi kok harus main tampar dan main tempeleng, itu yang buat saya keberatan,” ujar Sukri.

Sukri juga mengaku selama ini hubungan komunikasinya cukup bagus dengan kepala sekolah tersebut. Bahkan Sukri juga mengaku sebagai kepala desa cukup membantu kepentingan di sekolah itu.

Terpisah, Kepala Sekolah SMA Negeri 2 Kecamatan Bilah Hilir Sri Idhawati S,Pd dikonfirmasi Sipayo.com di ruangannya ditanya apa penyebab terjadi hal itu awalnya sempat memberikan keterangan berbelat belit.

Berulang kali ditanya wartawan bagaimana kronologis kejadian dan apa penyebabnya, Sri Idhawati berusaha mengelak dan berulang kali menjawab masalah itu sudah selesai

Bahkan Sri Idhawati  sempat membantah adanya aksi kekerasan yang ia lakukan dan berdalih hanya mencubit kecil dan mengelus bukan menampar.

“Kan tidak ada saya tampar kan Handoko? Cuma dielus – elus sajakan?”kilah Sri Idhawati seraya bertanya kepada Handoko salah satu siswa korban penamparan yang saat itu ada di ruangannya.

Saat siswa itu ditanya wartawan dan diminta  jujur juga tidak perlu takut menjawab hal yang sebenarnya, siswa itu pun mengaku ditampar.

”Ya Pak ditampar,” jawab Handoko singkat dengan nada pelan seraya matanya melirik ke arah kepala sekolah dengan raut wajah rsa takut.

Disoal kembali, jika hanya mencubit tidak mungkin siswa itu seusai upacara bendera langsung pulang ke rumah dan mengadu kepada orang tuanya, lagi – lagi Sri Idhawati berdalih dan mengaku siswa tersebut salah memberikan informasi kepada orang tuanya.

“Siswanya salah penyampaian kepada orang tuanya Pak, siswanya pun sudah meminta maaf kepada saya,” kilah Sri Idhawati

Di tempat yang sama, keterangan Idha Wati yang awalnya mengaku tidak ada melakukan penamparan terbantahkan dari keterangan Yuli Alina selaku guru BP. Yuli Alina mengaku ada duapuluhan siswa yang kena tampar oleh kepala sekolah karena tidak lengkap memakai atribut.

“Kita sudah tegur dan nasehati siswa Pak. Kalau sudah cara lembut gak bisa ya dengan cara  seperti itu Pak. Hukuman seperti itu kan biasa Pak,” jawab Yuli Alina membenarkan perbuatan kepala sekolah.

Di tempat yang berbeda, Ketua Karang Taruna Desa Sidomulio Wahyudi juga selaku insan Pers selaku abang sepupu Handoko mengaku keberatan atas tindakan kepala sekolah dimaksud.

“Tadi sebelum abang sampai ke sekolah saya juga sudah tanyakan kepada kepala sekolah apa penyebabnya terjadi hal itu. Tetapi kaseknya berbelat – belit juga jawabnya. Tindakannya seperti itu tidak bisa dibenarkan. Seorang pendidik itu mengajar bukan menghajar,” ungkap Wahyudi. (Joko W. Erlambang)