Terkait Dua Puluhan Siswa Ditampari Kasek SMAN 2 Bilah Hilir, Anggota Komisi 4 DPRD Labuhanbatu Angkat Bicara

Terkait Dua Puluhan Siswa Ditampari Kasek SMAN 2 Bilah Hilir, Anggota Komisi 4 DPRD Labuhanbatu Angkat Bicara

Foto: Anggota DPRD Labuhanbatu, Japosman Sinaga SH

Sipayo.com – Tindakan Kepala Sekolah SMA Negeri 2 Sidomulio Kecamatan Bilah Hilir, Kabupaten Labuhanbatu Sri Idhawati SPd yang melakukan penamparan pada wajah dan kepala siswanya sebanyak dua puluhan orang saat akan melaksanakan upacara bendera hanya dikarenakan tidak lengkap memakai atribut sekolah, menuai kritik tajam dari anggota komisi 4 DPRD Labuhanbatu, Japosman Sinaga SH.

“Itu bukan tindakan terpuji dan tidak mencerminkan seorang pendidik. Tidak zamannya lagi mendidik siswa dengan kekerasan. Jangan masih mendidik dengan cara era tahun delapan puluhan, perlu disekolahkan lagi itu kepala sekolahnya,” kata Japosman Sinaga SH kepada Sipayo.com via selular, Selasa (18/02/2020).

Menurut Japosman akrab disapa dengan panggilan Naga Tutur, hukuman yang diberikan kepada siswa yang tidak disiplin masih banyak dengan cara lain bukan semata – mata melakukan pembenaran dengan cara main fisik dan menganggap seolah-olah hal itu bisa menjadi efek jera.

Seyogyanya, lanjut Naga Tutur, dedikasi yang diberikan oleh guru atau pun orang tua kepada anak dengan cara kekerasan, tidak secara langsung mengajarkan kepada anak ke depan harinya segala sesuatu harus dengan cara kekerasan.

“Pembinaan moral dan mental siswa dimulai dari pembenahan mental si guru itu. karena guru itu suri tauladan, pasti cara dan cakap guru serta ajaran guru ditiru. Kalau mendidik masih main tampar dan main pukul, jangan jadi kepala sekolah, jadi kepala terminal saja,” sebut Naga Tutur.

Naga tutur menegaskan,jika ada siswa yang melanggar aturan sekolah dan sudah berulangkali dilakukan pelanggaran, panggil orang tua siswa tersebut. Jika tidak lagi terbina keluarkan siswa itu dari sekolah tersebut dan tidak perlu melakukan aksi kekerasan.

“Tindakan kekerasan bukan solusi. Tidak bisa dibina dan dididik keluarkan siswanya dari sekolah itu. Jangan takut berkurang dana bos yang di dapat karena siswa berkurang. Saya harap kejadian seperti itu tidak terulang kembali. Ada undang –undang perlindungan anak. Kalau orang tuanya mengadu ke polisi repot nanti tuh kepala sekolahnya,” ujar Naga Tutur.

Sebagaimana pada berita sebelumnya, kepada wartawan Sipayo.com Sukri megaku keberatan atas tindakan yang dilakukan oleh kepala sekolah itu dikarenakan hukuman yang diberikan dengan kesalahan yang dilakukan oleh siswa tidak setimpal.

“Kalau pelanggaran yang dilakukan oleh anak saya cukup fatal saya terima anak saya ditampar. Misalnya ketahuan merokok di sekolah atau melakukan pelecehan terhadap siswa perempuan di sekolah itu, saya mungkin maklum. Ini hanya karena tidak pakai topi kok harus main tampar dan main tempeleng, itu yang buat saya keberatan,” ujar Sukri. (Joko W)