Pungli Dana BLT di Desa Bagan Bilah Diakui Suriana Atas Perintah Kadus Dusun II Untuk Memberi Polisi

Pungli Dana BLT di Desa Bagan Bilah Diakui Suriana Atas Perintah Kadus Dusun II Untuk Memberi Polisi
  • Keterangan Foto: Suriana dan warga Dusun II, Desa Bagan Bilah, Kecamatan Panai Tengah, Kabupaten Labuhanbatu Korban Pungli Kumpul Bersama.

Sipayo.com – Pungutan liar yang terjadi di Dusun II, Desa Bagan Bilah, Kecamatan Panai Tengah, Kabupaten Labuhanbatu terhadap warga yang menerima Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT-DD) sebesar Rp.50.000 (Lima puluh ribu rupiah) diakui Suriana selaku pengutip uang lima puluh ribu rupiah dari warga Dusun II atas perintah Tupon selaku kepala dusun II.

Demikian dikatakan Suriana menghubungi Sipayo.com via selular sekira pukul 23,00 WIB ,Jumat (29/05/2020) seraya menerangkan kronologis kejadian adanya pengutipan tersebut.

Dijelaskannya, pada Kamis (21/05/2020) empat hari sebelum pembagian dana BLT sekira pul 16.00 WIB, ia dihubungi Tupon via selular dan diajak jumpa di Selat Cina, Desa Sei Rakyat. Karena dianggap terlalu jauh, lanjutnya, mereka pun bertemu di kedai ujung Sei Dondong Desa Bagan Bilah.

“Sebelumnya saya tanya kepada dia (Tupon) ada apa? Lalu dia jawab adalah. Kemudian saya katakan kalau di selat cina kejauhan, lalu dijawab kembali, Ya sudahlah kutunggu di warung bibik ini, di Sei Dondong ujung,” kata Suriana menuturkan pembicaraannya dengan Tupon.

Ketika bertemu di kedai Sei Dondong, tambahnya, Tupon memberikan satu lembar kertas, di kertas itu tertera nama 20 orang warga dusun II.

“Lalu saya tanya kepada Tupon, apa kerja saya dus? Lalu Tupon mengatakan kerja saya cukup mengutip KK dan KTP serta menulis NIK dan alamat. Tetapi saya katakan saya tidak mau mengerjakannya kalau tidak ada nama saya disitu. Karena 18 tahun saya menikah sampai punya anak 2 sampai saya menjadi janda saya tidak pernah terima bantuan dari pemerintah. Karena saya mendapat bantuan itu juga makanya saya mau mengerjakannya Pak, lalu saya dikasih uang limpul pak (Lima puluh ribu) untuk uang minyak saya,” ungkap Suriana.

Bahkan, sambungnya, tugas yang harus dilaksanakannya itu diberi waktu oleh Tupon untuk mendata warga yang tertera di dalam kertas itu awalnya harus selesai 1 hari.

Masih kata Suriana, ia pun melaksanakan tugasnya mengumpulkan data – data kartu keluarga dan KTP dari warga sesuai perintah Tupon.“Tetapi bagi warga yang datanya belum saya kutip saya diberi waktu 2 malam oleh Tupon untuk menyelesaikannya.

Setelah dana BLT itu keluar, tambahnya, atas perintah Tupon ia mendatangi rumah warga dan meminta uang lima puluh ribu rupiah sebanyak 12 orang dengan nilai uang sebnayak enam ratus ribu rupiah.

“Cuma itu yang saya kutip Pak, ada sebagian yang tidak saya kutip, sedangkan yang lainnya dikutip langsung oleh saudara Tupon. Uang yang saya kutip saya serahkan kepada saudara Tupon. Tetapi malam harinya warga ribut soal pemotongan itu, lalu oleh saudara Tupon uang enam ratus ribu itu dikembalikan kepada saya untuk dipulangkan kembali. Lalu saya kembalikan, tetapi sebagian warga warga yang gak mau menerima kembali uang itu,” imbuh Suriana.

Suriana mengaku uang yang ada padanya bersisa tiga ratus ribu rupiah, lalu ia kembalikan kepada Tupon, tetapi diduga karena takut, Tupon tidak mau menerima uang itu. uang tersebut pun disimpan oleh ayahnya.

“Tetapi tadi pagi uang itu diambil oleh Tupon dari orang tua saya,” papar Suriana.

Ditanya apa benar Kepala Dusun II Tupon mengatakan pungutan uang tersebut untuk memberi polisi, Suriana membenarkan hal tersebut.

“Memang benar Pak, ia bilang mau memberi polisi, dia bilang begitu ada saksinya adek saya,” tukas Suriana.

Dikesempatan itu, Suriana mengaku tidak tahu dan memahami jika pengutipan dari masyarakat itu tidak dibenarkan dan akhirnya jadi bermasalah.

”Yang pasti saya cuma disuruh Pak, saya ini bukan perangkat desa juga bukan anggota lembaga pemerintahan desa. Gak mungkin saya ngutip uang seperti itu kalau gak ada yang nyuruh,” beber Suriana.

Pada pemberitaan sebelumnya, pengakuan Suriana juga senada diucapkan oleh Sudarto yang mengatakan pungutan uang tersebut untuk memberi polisi yang mengawal proses pencairan dana BLT.  (Joko)