Anggota DPRD Labuhanbatu Mediasi Warga dan PT Bilah Soal Ternak Lembu

Anggota DPRD Labuhanbatu Mediasi Warga dan PT Bilah Soal Ternak Lembu

Foto: Anggota DPRD Labuhanbatu dari Partai Bulan Bintang, Ahmad Khairul

Sipayo.com – Anggota komisi 1 DPRD Labuhanbatu Ahmad Khairul, SE dan Juhartono, SP dari Komisi 2 melakukan upaya mediasi antara warga Lingkungan Bangun Sari 2, Kelurahan Bangun Sari 2, Kecamatan Bilah Hilir, Kabupaten Labuhanbatu dengan pimpinan perusahaan perkebunan PT Bilah Platindo. Jumat (18/09/2020).

Mediasi dilakukan di Caffe Netral Negeri Lama, sekira pukul 17.00 WIB terkait persoalan adanya pelarangan dari perusahaan dimaksud yang melarang warga menggembalakan lembu di dalam areal perkebunan karena dapat menyebabkan kerusakan tanaman.

“Kita mediasi warga yang beternak lembu dan pihak perusahaan agar mencari solusi yang terbaik.Sehingga terbina hubungan yang harmonis antara perusahaan dan masyarakat setempat,” kata Ahmad Khairul kepada Sipayo.com via selular.

Kata Ahmad Khairul, dalam pertemuan mediasi itu ,Asisten Kepala (Askep) PT Bilah Platindo Irsan Arafat Hasibuan tetap menolak warga menggembalakan lembunya di dalam areal perkebunan.

“Pak Irsan tetap menolak lembu warga diangon di dalam areal perkebunan. Katanya itu sudah perintah dan tugas yang harus dilaksanakan. Sebab perusahaan merasa dirugikan akan keberadaan lembu di areal perkebunan itu,” ujarnya mencontohkan ucapan Irsan.

Ditanya apa solusi lainnya tentang hal itu, Ahmad Khairul mengusulkan kepada perusahaan untuk membelikan mesin pemotong rumput dan pembangunan kandang lembu untuk masyarakat peternak lembu di kelurahan itu.

“Perusahaan merespon positif usulan itu, mereka minta kita buat proposal dan diajukan kepada perusahaan,” imbuhnya.

Dilanjutkannya kembali, jika perusahaan sudah membelikan mesin pemotong rumput, ia akan mensosialisasikan kepada warga bagaimana cara beternak yang baik dan benar.

“Saya dan pihak perusahaan serta dinas peternakan akan mensosialisasikan kepada warga bagaimana beternak dan membuat pakan lembu yang baik.Itu yang jadi program saya saat ini,” terangnya.

Politisi dari Partai Bulan Bintang itu menegaskan, untuk saat ini lembu warga akan tetap digembalakan di dalam areal perkebunan yang pohon sawitnya sudah tinggi sampai mendapat bantuan dari perusahaan berupa mesin pemotong rumput.

“Kendati demikian, sambungnya, warga juga diminta pengertiannya pada saat menggembalakan lembu mereka di dalam areal kebun.

“Warga juga harus memikirkan perusahaan. Janganlah juga mau enaknya saja, lembu dilepas di areal kebun dan mereka bisa bekerja di tempat lain tanpa dijaga. Pikirkan jugalah kerugian perusahaan, kalau bisa hubungan bagus dan tidak saling merugikan,” ungkapnya

Ditanya kembali apa respon masyarakat atas penolakan tersebut, Ahmad Khairul mengatakan warga tetap berharap lembu mereka tetap bisa digembalakan di areal perkebunan.

Untuk langkah selanjutnya, tambahnya, warga Kelurahan Bangun Sari 2 akan membuat pengaduan ke DPRD Labuhanbatu agar kekisruhan yang selalu berulang kali terjadi bisa dijembatani dan diselesaikan dengan baik.

“Setelah warga buat pengaduan ke DPRD, kita akan lakukan RDP ( Rapat Dengar Pendapat) memanggil pihak perusahaan, Dinas Perkebunan dan Dinas Peternakan. Kita akan upayakan secepatnya agar tidak terjadi kekisruhan,” paparnya.

Raju, salah’ seorang warga Kelurahan Bangun Sari diminta tanggapnnya awak media ini via selular mengatakan, siap tidak menggembalakan lembunya di areal kebun apa bila permohonan mereka kepada perusahaan untuk dibuatkan kandang lembu dan dibelikan mesin pemotong rumput dikabulkan perusahaan.

“Permohonan pembuatan kandang lembu dan pembelian mesin rumput dari perusahaan sudah kami sampaikan tadi malam kepada Pak Irsan. Kami juga akan duduk bersama dengan warga Desa Kampung Bilah untuk mencari solusi lainnya,” sebut Raju.

Disoal ada informasi bahwasannya di Lingkungan Bangun Sari 2 banyak lembu warga desa lain yang dititipkan kepada mereka, Raju membantah hal itu.

“Kalau dulu memang ia bang, sekarang lembu – lembu itu kami pulangkan. Kalau lembu warga sini saat ini paling ada 150 lebih bang, tak ada 200 ekor,”sebutnya.

Ditanya,jika perusahaan tidak mau mengkabulkan permohonan warga dan tetap tegas melarang lembu masuk ke areal kebun, tindakan apa yang akan dilakukan? Raju mengatakan warga pemilik lembu akan tetap bertahan dan tetap berupaya memasukkan lembu ke dalam areal kebun.

“Ya berarti tidak ada solusi kalau begitu. Rusuh pun jadi kalau begitu bang,” ungkap Raju mengakhiri. (Joko W).