Kades Sei Tarolat: Berpikirlah Positif Thinking Menyikapi Sesuatu Agar Tidak Salah Kaprah

Kades Sei Tarolat: Berpikirlah Positif Thinking Menyikapi Sesuatu Agar Tidak Salah Kaprah

Foto: Kepala Desa Sei Tarolat, Kecamatan Bilah Hilir, Kabupaten Labuhanbatu Zul Rahmadi Tanjung ST saat dikonfirmasi Sipayo.com di ruang kerjanya.

Sipayo.com – Berpikir positif thinking dalam menyikapi sebuah persoalan yang belum diketahui secara detail itu akan menjauhkan kita dari sifat keegoan dan merasa apa yang kita anggap benar itu sudah pasti benar. Sehingga dalam menyikapi sesuatu tidak salah kaprah

Menelusuri sebuah persoalan selayaknya berpikirlah secara objektif dan rasional. Kita harus bersikap arif dan bijak. Jangan membuat satetment di masyarakat dan di medsos yang dapat menimbulkan pemikiran negatif membangun opini publik bersifat destruktif.

Hal itu dilontarkan Kepala Desa Sei Tarolat,Kecamatan Bilah Hilir, Kabupaten Labuhanbatu Zul Rahmadi Tanjung ST, kepada Sipayo saat dikonfirmasi di ruang kerjanya terkait adanya postingan di medsos soal masker yang belum dibagikan kepada warganya, Jumat (23/10/2020).

Ditegaskannya, pemerintah Desa Sei Tarolat sudah membelanjakan masker sebanyak 3000 buah dengan nilai belanja sebesar Rp22.500.000. Sedangkan belanja masker sebelumnya sebanyak 500 buah dengan nilai biaya sebesar Rp3.750.000.

“Barangnya baru kemarin datang mas, kemudian saya hubungi semua kepala dusun agar menyampaikan data jumlah warga kepada sekretaris desa untuk dibagikan. Kita masih menunggu data dari kadus untuk kita bagikan. Insyaallah besok kita bagikan Mas. Bukan kita bawa diam, untuk apa masker sebanyak itu kalau tidak dibagikan? Mau dibawa ke lubang kubur?,” katanya sambil tertawa.

Disinggung soal dana bimtek, Zul Rahmadi mengaku sangat menyayangkan para rekan – rekan dari sosial control tidak bisa membedakan mana dana perencanaan dan dana yang direalisasikan.

“Anggaran bimtek dan studi banding kepala desa dan ketua PKK kita anggarkan sebesar Rp.37.550.000, baru terealisasi anggaran sebesar Rp7.150.000 masih ada kegiatan bimtek lain yang belum kita lakukan. Kita sayangkan ada yang menuding secara tendensius seolah – olah kita memark-up anggaran,” ujarnya.

Sedangkan anggaran untuk bimtek dan studi banding perangkat desa, lanjutnya, dianggarkan sebesar Rp50.600.000, tetapi dana yang baru dikeluarkan baru sebesar Rp13.800.000.

Untuk bimtek dan studi banding BPD sebanyak 7 orang,tambahnya, biaya yang dianggarkan sebesar Rp57.550.000, namun dana yang terealisasi sebesar Rp47.800.000 dan bersisa Rp9.750.000.

“Jika kegiatan bimtek selanjutnya tidak terealisasi, maka semua sisa anggaran kita silpakan. Di tahun 2021 dana Silpa akan tetap kita cantumkan di baliho penggunaan anggaran dana desa ( ADD) dan Dana Desa ( DD),” terang Zul Rahmadi.

Disoal tentang anggaran untuk guru Minggu, Bendahara Desa Sei Tarolat Sakinah akrab disapa Kiki langsung menimpali bahwasannya anggaran untuk guru Minggu sebesar 30 juta rupiah dan baru terealisasi sebesar Rp17.500.000.

“Satu guru menerima anggaran sebesar 5 ratus ribu bang, sedangkan jumlah guru sebanyak 5 orang. Dana yang sudah kita berikan kepada mereka terhitung baru 7 bulan dimulai dari Januari. Honor yang 5 bulan lagi akan kita serahkan sebelum akhir tahun,” imbuhnya.

Ada pun nama – nama guru Minggu tersebut yaitu, Yoona Br Sianturi, Risma Pintauli Br Silalahi, Wenny Br Sitanggang, Lastri Br Togatorop, Englina Br Manurung.

Di kesempatan itu, Sakinah menjelaskan, anggaran operasional Posyandu Rp.62.510.000 dengan pos beberapa item yaitu ; Trasnport kader Posyandu Balita 6 Pos x 5 orang x12 bulan sebanyak Rp36.000.000.Transport kader lansia 1 Pos X2 orang x 12 bulan sebanyak Rp2.400.000. BMT Posyandu Lansia 1 Pos x12 bulan sebanyak Rp1.800.000. Baju kader dan baju senam lansia dengan biaya sebesar Rp9.300.000. Operasional Posyandu sebanyak Rp2.210.000. Jumlah dana yang terealisasi Rp41.260.000.

Disinggung soal bantuan benih padi, Sakinah mengaku benih padi itu sudah dibelanjakan dan sudah dibagikan kepada 60 orang dan masing – masing menerima sebanyak 25 Kg.

“Benih padi sudah kita beli dan sudah kita bagikan. Kalkulasi dananya yaitu Rp17.725 x 1500 Kg = Rp26.578.500. Kita anggarkan awalnya sebesar Rp 30 juta. Itu belum pajaknya. Prinsipnya semua sisa anggaran kita silpakan. Jadi mereka jangan mudah kali bilang mark up atau sebagainya,”sebut Sakinah.

Jelang akhir konfirmasi, Zul Rahmadi mengaku berterimakasih kinerja pemerintahannya di pantau dan diawasi oleh rekan – rekan media khususnya yang tinggal di desa itu.

“Jika saya atau aparatur pemerintahan desa ini ada yang salah ditegur langsung saya malah senang Mas, itu lebih baik dari pada di medsos buat postingan yang bisa membangun opini negatif dan tidak sesuai dengan kenyataan. Hal seperti itu kan kurang profesional kan Mas. Apalagi kita sama tinggal di desa ini,” ucapnya mengakhiri. (Joko W).