PT Andalas Inti Agro Lestari Asean AGRI Group Pressure Pekerja BHL

PT Andalas Inti Agro Lestari Asean AGRI Group Pressure Pekerja BHL

Foto: Monica Sinaga saat sedang dirawat di klinik Perkebunan PT Andalas Inti Agro Lestari akibat tertimpa angkong saat bekerja membuang jangkos di lahan.

Sipayo.com – Melakukan penekanan (pressure) secara terstruktur terhadap pekerja baik itu karyawan tetap mau buruh harian lepas (BHL) sudah menjadi tradisi di sebuah perusahaan perkebunan bila ingin mencampakkan buruh agar buruh tersebut mengundurkan diri. Demikian halnya yang terjadi di PT Andalas Inti Agro Lestari (AIL) group Asean Agri yang berlokasi di Kecamatan Aek Kuo, Kabupaten Labuhanbatu Utara.

Hal itu dialami dan dikatakan Monica Sinaga (buruh harian lepas) kepada Sipayo.com, Senin (19/10/2020) di kediamannya di perumahan karyawan perusahaan dimaksud.

Kata Monica, bukti penekanan yang dilakukan oleh perusahaan kepada dirinya dengan cara menggeser dirinya dari jabatan sebagai mandor semprot dengan alasan pengurangan mandor.

“Saya gak masalah bang digeser dari jabatan mandor, karena oleh asisten saya Pak Ginting dijanjikan saya bekerja di cikanus atau warnen. Tetapi nyatanya janjinya itu tidak benar,” kata Monica yang mengaku sudah bekerja 14 tahun di perusahaan itu dan tidak diangkat juga menjadi karyawan tetap.

Bukannya menepati janji, malah dirinya oleh Asistennya yang bermarga Ginting itu dimutasikan di lahan yang baru direplanting. Monica pun menolak dimutasikan di tempat itu karena pekerjaan itu cukup berat dikarenakan dirinya pernah mengalami kecelakaan kerja patah tulang leher yang bertaut dengan sendi putar tangan sebelah kirinya.

Kemudian, pada tanggal 13 Oktober 2020, lanjutnya, ia dimutasikan di divisi 3 mengangkut dan menyerak janjangan kosong ke lahan TBM (tanaman belum menghasilkan).

“Saya sebenarnya menagih janji Pak Asisten Pak, karena katanya saya mau dipekerjakan di bagian cikanus atau warnen. Kalau saja tangan saya tidak pernah cidera, gak masalah sama saya banh kerja buang jangkos (janjangan kosong) atau pun tanam kacangan di lahan yang baru direplanting,” ungkapnya.

Kendati demikian, masih kata Monica, ia tetap bekerja membuang jangkos. Namun baru bekerja satu hari, tambah Monica, ia sudah merasakan sakit pada lengan kirinya yang pernah mengalami patah pada tulang di tahun 2016 pada saat bekerja membawa racun.

“Sakit kali tangan saya Pak karena pada tulang leher dekat sendi putar sebelah kiri pernah patah. Belum lagi sakit pada tulang rusuk saya yang pernah retak akibat terjatuh pada tahun 2019 saat bekerja,” ujarnya.

Dikarenakan sakit pada lengannya dan menyebabkan dirinya serasa demam, sambungnya lagi, ia pun melapor pada mandornya Hendri Sitorus. Tetapi laporan itu tidak digubris, buktinya, pada tanggal 17 Oktober 2020 ia menerima surat panggilan untuk bekerja dari perusahaan untuk kedua kalinya yang ditandatangani oleh Alvian selaku Asisten Divisi 3.

“Surat panggilan kerja itu tertulis di surat tanggal 15 Oktober 2020, tetapi anehnya surat diberikan kepada saya pada hari Sabtu pagi pukul 07. WIB tanggal 17 Oktober 2020 dimana para pekerja sudah selesai masteran dan sudah berlalu 2 hari. Lalu pada hari Minggu saya mendapat surat panggilan bekerja untuk ketiga kalinya, jika tadi saya tidak masuk kerja, maka nomor employee saya akan dicoret,” sebut Monica.

Menurut Monica, tindakan yang dilakukan perusahaan terhadap dirinya sebuah cara yang terstruktur bagaimana caranya membuang dirinya dari perusahaan.

“Saya kan BHL, kenapa cara yang dilakukan perusahaan seolah saya ini karyawan tetap. Mengapa perlakuan kepada BHL dengan cara seperti itu hanya diberlakukan kepada saya? Kenapa BHL yang lain tidak?,” Coba Abang cek kalau gak percaya, apakah ada BHL yang bekerja hanya 1 HK disurati untuk kembali bekerja dengan panggilan lewat surat secara berturut – turut?” papar Monica sambil memegangi tangan kirinya yang sakit.

Karena tidak mau nomor employeenya di coret, ia pun mengaku nekat masuk kerja membuang dan menyerak janjangan kosong ke lahan. Akibatnya, sekira pukul 09.00 WIB, Senin (18/10/2020) ia terjatuh dan tertimpa angkong saat mengangkut janjangan kosong karena tak tahan lagi menahankan sakit pada tulang sendiri putarnya dan rusuknya yang pernah mengalami patah.

“Saya ditolong mandor saya dan kawan saya kerja kemudian dibawa ke klinik kebun. Besok saya mau dirujuk ke Rumah Sakit di Rantauprapat untuk mencek kondisi tulang saya yang pernah patah.

Ditanya apa alasan perusahaan memperlakukan dirinya seperti itu, Monica pun membeberkan akal masalahnya tentang ada mandor 1 berinisial Lbn yang menjual buah restan kepada Toke sawit yang hingga saat ini oleh manajer atau pimpinan perusahaan tidak berusaha mengungkap masalah itu.

“Setelah saya dapat rekaman dari pekerja BHL yang mengaku disuruh menjual buah sawit itu dan cerita itu menjadi heboh, saya malah yang dipersulit oleh asisten saya,” terang Monica.

Manajer PT Andalas Inti Agro Lestari Hasoloan Debata Raja saat didatangi awak media ini beserta tim, tidak ada di kantornya.

Saat dihubungi tim awak media ini via selular, Hasoloan Debata Raja mengaku sedang berada di lapangan dan sore baru kembali ke kantor. (Joko W)