Terkait Pembongkaran Pasar Tradisional Labuhanbilik, Pemberitahuan ke Sekda Tak Ada

Terkait Pembongkaran Pasar Tradisional Labuhanbilik, Pemberitahuan ke Sekda Tak Ada

Foto: Sekda Kabupaten Labuhanbatu

Sipayo.com – Terkait Pembongkaran Pasar Tradisional Labuhanbilik, Kecamatan Panai Tengah, Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara yang dilakukan pihak rekanan baru-baru ini ternyata surat pemberitahuan ke Sekretaris Daerah (Sekda) tidak ada sama sekali.

Hal itu dikatakan Yusuf Siagian selaku sekda saat di wawancarai Wartawan diruang BKD, Kamis (15/10/2020).

“Pengguna anggarannya mereka,jadi mereka lah yang tahu itu.Kenapa belum ada Surat Perintah Kerja (SPK) pihak rekanan disuruh kerja,harusnya kan jika dibongkar harus ada SPK dulu.Kalau Dibilang salah ya salah,” beber Yusuf Siagian.

Menurutnya,sekda tak bisa berbuat banyak terkait Pembongkaran pasar Labuhanbilik itu,sebab melalui dinas terkait tidak pernah memberikan surat terkait Pembongkaran itu.

“Tanyakan sajalah ke kekadisnya selaku Pengguna anggaran,kenapa bisa seperti itu,” bilang Siagian.

Sementara itu Kepala Dinas Perindag Chairuddin Nasution dikonfirmasi melalui teleponnya belum bersedia mengangkat teleponnya.

Diberitakan sebelumnya,meski Proyek Fisik di Pemerintahan Kabupaten Labuhanbatu,Sumatera Utara Tahun Anggaran 2020 di Lakukan penundaan dan dibawakan pada Tahun Anggaran 2021 sesuai surat Sekretaris Daerah (Sekda) bernomor 903/3516/1730/BPKAD 2020 prihal Penundaan Kegiatan Fisik TA 2020 namun Pasar Tradisional Labuhanbilik Kecamatan Panai Tegah malah Dibongkar.

Alhasil sejumlah pedagang pasar tradisional yang berjualan dipasar itu harus pindah meski proyek tersebut belum berjalan.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Dinas Perdagangan dan perindustrian Labuhanbatu Dedy Marnis Dikonfirmasi diruang kerjanya mengatakan atas dibongkarnya pasar tersebut untuk penyiapanan lapagan untuk proyek renovasi pasar dengan Pagu berkisar 1,8 M.

“Yang melakukan pembongkaran itu pihak rekanan atas izin kita secara lisan, sebab perjanjiannya pihak rekanan akan membeli aset yang telah dibongkar itu.Namun sampai saat ini kontraknya belum kita tanda tangani mengigat aset kita belum dibayar pihak rekanan,” kata Dedy, Kamis (1/10/2020) pada Wartawan.

Katanya, pembongkaran yang dilakukan pihak rekanan merupakan Legal karena pihak rekanan sudah memberikan jaminan pekerjaan sebesar Rp.5 persen begitu juga dengan astek.

“Sampai sekarang memang aset itu belum dibayar,sehingga kontrak belum saya teken,Kalau yang menjual aset itu KPKNL melalui kami tawarkan pada pihak rekanan.Mereka mau,” sebut Dedy.

Ditambahkannya, atas pembongkaran pasar tradisional aset tersebut masih dipasar tradisional.

“Sampai saat ini aset itu masih di pasar Labuhanbilik,” sebutnya.(Abi)