Begini Pengakuan Sastroy Bangun tentang Suka Duka jadi Jurnalis

Begini Pengakuan Sastroy Bangun tentang Suka Duka jadi Jurnalis

Foto: Sastroy Bangun (Istimewa)

Sipayo.com – Sastroy Bangun S.Sos yang dikenal sebagai jurnalis senior di Sumatera Utara, sekaligus putra dari seniman Karo Hendry Bangun menceritakan suka dan duka dirinya selama meniti karir di dunia wartawan. Pria kelahiran Kabanjahe 10 Februari 1980 itu mengaku pernah memperoleh gaji dibayar dengan US Dollar, hingga nyaris menjadi bidikan senjata api sniper yang diduga suruhan seorang pengusaha.

Pengakuan ini terungkap saat sosok ayah satu anak ini diwawancarainya secara eksklusif di acara penutupan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumut di Grand City Hall, Jalan Balai Kota, Medan, Kamis (25/2).

Pria yang akrab dipanggil Roy itu secara gamblang menuturkan rasa kebanggaannya menjadi seorang jurnalis dengan segudang pengalaman yang telah dijalaninya.

“Saya bangga dan nyaman sebagai seorang wartawan bang, dengan profesi ini saya bisa banyak mengenal orang, berinteraksi dengan semua kalangan mulai dari tokoh dan pejabat penting yang selama ini kita lihat di sejumlah televisi, hingga kalangan yang berstatus sosial di bawah garis kemiskinan,” ujar jebolan Kampus Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Pembangunan (STIK-P) tersebut.

Sastroy yang juga dikenal sebagai aktor dari Tanah Karo ini mengawali karirnya sebagai jurnalis ketika ia diterima sebagai wartawan di salah satu harian terbitan Medan. Karirnya-pun kian menanjak ketika dirinya “dipinang” oleh owner perusahaan media online yang berkedudukan di negeri Sultan Deli ini.

Tanpa terbilang lama, karena kecekatannya ia pun dilirik dan direkrut seorang Jenderal kepolisian di Jakarta dan dipercayakan sebagai seorang asisten juru bicaranya, mendampingi Pimpinan Waspada Online, Alm Avian E Tumengkol.

“Saat itu masa-masa keemasan sebagai seorang jurnalis aku rasakan bang, di mana kami bergaji yang dibayar dengan US Dollar, kalau dirupiahkan, mencapai Rp600 juta sebulan. Dan itu ada 3 bulan berturut-turut,” sebutnya.

Roy Bangun sebenarnya ingin banyak bercerita tentang kisah jurnalistiknya, namun karena singkatnya waktu yang ada, dimana dirinya harus menjalani kepesertaan UKW, pertemuan dan wawancara itu akhirnya berakhir. Dan ia berjanji akan menyambung pengalaman kewartawanannya pada waktu dan tempat berbeda. (Rajap Tarigan)